STUDENT

Prof. Hartono: Prodi Tanpa Akreditasi Telah Lakukan Kebohongan Publik

Kamis, 2 Februari 2012 | viewed (1481)

Visi Universitas Gadjah Mada menuju research dan world class university diwujudkan melalui mekanisme penerimaan dan kelulusan yang lumayan ketat agar didapatkan mahasiswa yang berkualitas dan alumni yang mumpuni. Atas dasar itulah, standar TOEFL, TPA, dan IPK menjadi bagian penting meskipun sering dikritisi dan dikeluhkan banyak pihak.

 

Komitmen peningkatan kualitas juga diiringi proses pembenahan dan evaluasi terhadap program pendidikan yang ditawarkan kepada masyarakat. Oleh karena itu, akreditasi dari BAN PT dan penilai ISO menjadi parameter pertanggungjawaban. “Program studi yang tidak memiliki akreditasi telah melakukan kebohongan publik. Oleh karena itu, saya merasa bangga dengan CRCS yang telah mengantongi akreditasi A,” ujar Direktur Pascasarjana UGM, Prof. Hartono, dalam kesempatan pembukaan “Workshop Monitoring Disertasi Mahasiswa Program Doktoral CRCS UGM”, Kamis 2 Februari 2012 di Ruang Media, Lantai 5 Gedung Lengkung Sekolah Pascasarjana UGM.

 

Program Doktoral sebagai jenjang akademik formal tertinggi membutuhkan keseriusan. Kadang beban kerja seringkali membuat penulisan disertasi terbengkalai. Pemahaman terhadap filosofi, “Sekolah itu mengeluarkan duit, kerja untuk mendapatkan duit” harus menjadi pengawal agar tidak terjadi kegamangan orientasi. “Atur semua dengan alokasi waktu yang baik”, tambah guru besar Geografi UGM yang menyelesaikan S2 dan S3nya di Perancis ini.

 

Selain itu, keteguhan untuk menghadapi pembimbing juga harus dimiliki oleh mahasiswa doktoral. Coretan-coretan dari pembimbing adalah hal biasa. Pembuatan disertasi ibarat main sepakbola, ada oper-operan antara pembimbing dan mahasiswa. Kalau mahasiswa berkeras hati menggiring bola sendiri, maka sama saja menjerumuskan diri sendiri di kursi pesakitan.

 

Sekolah Pascasarjana UGM berkomitmen untuk membantu mahasiswa S3 untuk menyelesaikan studi tepat waktu karena mahasiswa merupakan bagian penting dari universitas yang harus diperhatikan secara serius. “Kita berupaya mengikis habis paradigma promotor adalah dewa. Disertasi harus diposisikan sebagai kerja bareng. Kegagalan mahasiswa merupakan kegagalan pembimbing,” ujar Prof. Hartono.

 

Workshop yang menghadirkan Dr. Arqom Kuswanjono (Filsafat UGM) dan Dr. Dicky Sofjan (ICRS) sebagai pembicara ini diharapkan mampu memecahkan persoalan disertasi yang dihadapi mahasiswa doktoral CRCS. Momen duduk bersama dan sharing pengalaman menjadi jalan untuk mendorong mahasiswa bisa segera menyelesaikan studi. (ANG)

 

 

 

Foto: Prof. Hartono, DEA, DESS (Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada)


RXP64

OTHER NEWS