Student Activities

Sunyi untuk Perubahan: Inspirasi Para Rahib St. Maria Temanggung

Monday, 30-April-2012 | Viewed (1108)

Siang itu, terik mentari harusnya sudah membakar kulit kami. Beruntung, kabut tebal di pegunungan itu mampu menghambat panasnya matahari.

 

Romo Atanasius, seorang rahib di pertapaan St. Maria Rawaseneng Temanggung, memberi kesempatan kepada kami (Tim Web CRCS UGM) untuk berbincang seputar pertapaan dan sumbangsihnya bagi kehidupan bermasyarakat. Pertapaan Rawaseneng telah ada sejak 1 April 1953.

 

Pola hidup sederhana dan fokus pada ritual do'a dalam keseharian para rahib di sana, membuat kami bertanya-tanya tentang sumbangsih para rahib bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Mengingat, mereka telah ‘sangat sibuk’ dengan berbagai kegiatan yang ada di pertapaan.

 

Romo Atanius yang akrab disapa Romo Atan menjelaskan, para rahib di St. Maria tak melulu masyuk dengan semedi. Mereka memiliki ‘tanggungan’ sekitar 150 sapi susu, kebun kopi dan buah-buahan, serta usaha kue dan roti. Untuk mengelola semua itu, ada 120 karyawan yang dipekerjakan. Geliat yang telah mengurangi pengangguran dan membantu perekonomian masyarakat setempat.

 

Para rahib ini menjadi rujukan masyarakat dalam berbagai persoalan. Keramahan mereka membuat orang merasa nyaman dan tentram untuk meminta nasehat.

 

Di saat banyak tokoh agama yang menceburkan diri dalam hingar-bingarnya dunia politik, para rahib St. Maria memilih hidup sunyi di pelosok negeri. Jangankan tergoda ikut-ikutan terjun dalam dunia politik, televisi untuk menonton para anggota dewan bersidang di Senayan sana saja tak mereka punyai.

 

Ketika kami mengajukan pertanyaan kritis perihal sifat “pasifistic” yang mendominasi dunia pertapaan, Romo Atan menjelaskan bahwa pertapaan memang tidak memberikan pengaruh langsung kepada para pemegang kebijakan. Namun, para rahib di Rawaseneng berharap pola hidup yang mereka jalani menjadi kekuatan untuk perubahan sosial. Dengan mengutamakan kesederhanaan, manusia akan terlepas dari belitan nafsu yang tak pernah puas dan penghalalkan segala cara untuk merealisasikan ambisi. Laku spiritual bisa mengantarkan manusia menuju tahap kesadaran akan kekuasaan Tuhan dan sikap mawas diri karena semua gerak-geriknya selalu dalam pengawasan Tuhan.

 

Romo Atan melanjutkan, ketidakmampuan mengendalikan nafsu itulah yang menjadi penyebab berbagai kehancuran, termasuk kondisi carut-marut yang melanda Indonesia sekarang. “Manakala manusia mengumbar nafsu, saat itulah mereka resmi menjadi budak nafsu,” tutur Romo yang telah bergabung dengan pertapaan St. Maria sejak 1992 ini.

 

Melihat maraknya kerusuhan yang mengatasnamakan agama, Romo Atan mengomentari bahwa agama menjadi ‘sedemikian buruk’ lantaran tidak dijadikan sebagai ‘sarana’ untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Sehingga manusia cenderung menjadi tidak sabaran, cepat marah saat melihat sesuatu yang mereka anggap salah, langsung alergi saat mendengar istilah ‘kafir’. Agama seharusnya menjadi ajang bagi manusia untuk instropeksi dan kontemplasi diri. Sebab agama penuh dengan ajaran, bukan perintah.

 

Tidak eksklusif untuk para rahib, pertapaan St. Maria terbuka untuk umum. Para rahib membantu orang-orang yang bertapa ke Rawaseneng untuk menyendiri dan menenangkan diri.

 

Di akhir obrolan, Romo menghadiahkan buku “Kumpulan Catatan 500 Tahun Pertapaan Rawaseneng” setebal 308 halaman. (NAM)