ARTICLE

Ilmu Merapi untuk Sindoro

Selasa, 20 Desember 2011 | viewed (1006)

Oleh: Najmu Tsaqib Ahda 


 

Najmu Tsaqib Ahda

MENINGKATNYA aktivitas Gunung Sindoro membuat panik warga yang menghuni lereng gunung itu. Puluhan warga yang tinggal di Dusun Gondangan Desa Watu Kumpul Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung, yang berjarak sekitar 8 km dari puncak, memilih mengungsi. Di Wonosobo, tim SAR memperketat patroli di lima kecamatan yang masuk kawasan rawan bencana (SM, 13/12/11).

 

Walaupun belum ada korban jiwa terkait dengan peningkatan aktivitas gunung itu, seyogianya kita belajar dari kasus meletusnya Gunung Merapi akhir 2010. Kita bisa memetik hikmah dan pelajaran dari bencana itu. Walaupun aktivitasnya sudah dipantau dengan seismograf dan peralatan lain, tetap saja erupsi Merapi menimbulkan banyak korban jiwa dan material.

 

Dari fenomena itu kita bisa belajar bagaimana menyikapi bencana alam, khususnya erupsi gunung berapi. Terkait dengan seputar mitos Merapi, ada kearifan lokal yang masih melekat kuat sampai sekarang, melengkapi sosok Mbah Maridjan dengan ilmu titen-nya. Beberapa peneliti bahkan bisa memaknai mitos yang mengajarkan nilai-nilai keseimbangan antara manusia dan alam.

 

Masyarakat di lereng Gunung Sindoro pun hakikatnya paham terhadap gejala-gejala alam yang terjadi di sekitar mereka. Dulu, tanpa bantuan seismograf ataupun peralatan lain, masyarakat bisa memperkirakan kapan gunung itu akan mengeluarkan lava dan lahar atau hanya akan terjadi gempa vulkanik.

 

Tanda-tanda alam yang bisa dilihat antara lain temperatur air di beberapa sumber air meningkat, jenis hewan tertentu seperti kera, babi hutan atau bahkan harimau turun ke permukiman karena suhu di daerah atas meninggi dari biasanya.

 

Hal itu segera mereka kaitkan dengan mitos tertentu terhadap gunung tersebut. Sekarang zaman berubah, ingar-bingar kehidupan modern membuat tanda-tanda alam itu tidak mudah terbaca.

 

Bisa jadi kepekaan masyarakat menurun. Memang faktanya populasi hewan khas gunung kini menurun. Masalah peningkatan suhu juga sulit dibedakan apakah hal itu karena pengaruh aktivitas vulkanik atau pemanasan global. Mitos-mitos pun tinggal cerita. Tradisi gunung kini kehilangan rohnya karena masyarakat tidak lagi menyatu dengan alam. Eksploitasi lahan dan aktivitas pertanian yang merusak lingkungan makin menjauhkan mereka dari alam.

 

Lebih Tanggap

 

Dalam ilmu sosial, bencana bukan peristiwa yang terjadi tiba-tiba dan tak terelakkan melainkan bagian integral dari kehidupan rutin dan normal, serta tanda-tandanya bisa dikenali oleh masyarakat (Abdullah, 2006). Isyarat alam tidak lagi dapat dipahami maknanya karena terganggu oleh beberapa perubahan yang melanda desa itu (Ahimsa Putra, 2005).

 

Karena itu, perlu meningkatkan kepedulian dari semua pihak mengingat penanganan bencana tidak semudah dibayangkan. Upaya itu butuh proses panjang untuk menuju masyarakat tanggap bencana. Beberapa waktu lalu, Pemkab Wonosobo dan Temanggung berkoordinasi dengan aparat kecamatan dan kelurahan di lereng Sindoro. Pemda juga menambah pemasangan alat pemantau aktivitas gunung tersebut. Sebuah langkah awal yang baik.

 

Pemerintah dan pihak terkait di dua kabupaten itu perlu menyiapkan segala sesuatunya sebagai langkah antisipatif. Terlebih warga di dua daerah itu belum ”berpengalaman” menghadapi dampak dari erupsi gunung. Pengurangan ancaman bencana ini bisa dilakukan antara lain dengan menyinergikan semua pihak, seperti pemda, LSM, dan komunitas lain.

 

Di DIY beberapa komunitas mengadakan pelatihan menghadapi bencana untuk masyarakat supaya mereka lebih siap. Forum Pesantren Lereng Merapi (FPLM) misalnya, menggelar pelatihan bagi tokoh masyarakat dari daerah Magelang, Sleman, dan Klaten, yang wilayahnya selalu terkena dampak erupsi Merapi.

 

Pemkab Wonosobo dan Temanggung bisa menyosialisasikan langkah-langkah menghadapi bencana alam lewat berbagai media, dari penyuluhan, menyebar pamflet, menyiarkan di radio, hingga melalui internet. Pencegahan bencana sejak dini akan membentuk masyarakat tanggap bencana dan bisa meminimalisasi dampaknya. (10)

 

 

Najmu Tsaqib Ahda, warga Kalilawang Desa Sitiharjo Kecamatan Garung Kabupaten Wonosobo, mahasiswa Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) Sekolah Pascasarjana UGM

 

 

Artikel ini telah dipublih oleh Suara Merdeka edisi 15 Desember 2011



X7L2U

OTHER NEWS