Memanfaatkan internet dan teknologi digital untuk Riset

Leonard C. Epafras | ICRS

Saya baru saja menyelesaikan salah satu tahapan akhir dari studi S3 saya. Studi saya adalah di bidang IRS (Inter-Religious Studies) yang dari namanya bisa ditebak jika ia bersifat antar-bidang dan multi-disiplin. Karakter keilmuan ini pula yang menyebabkan saya berjungkir balik, lompat sana dan sini menggunakan ginkang tertinggi, dan segala jenis ilmu kanuragan demi menjawab pertanyaan riset yang cuman tiga itu. Itu sebabnya belajar dari banyak teman dan coba-coba, akhirnya saya mengembangkan teknik untuk melakukan riset seefektif mungkin.

Apa yang saya bagikan berikut ini berdasarkan pengalaman sekaligus kegagalan saya. Jadi semoga hal-hal ini bisa menolong teman2 sekalian yang sedang atau akan melakukan riset untuk studinya.

Berikut ini catatan saya:

  1. Backup data, offline maupun online. Jangan lupa selalu memback-up data kita, baik secara offline melalui HDD eksternal, CD/DVD-ROM, maupun online lewat Cloud. Ingat data tidak ada garansinya, hanya barang elektronik yang digaransi!! Flash Disk sangat tidak disarankan sebagai media backup data secara permanen karena cholongable (alias mudah di-colong), ketlingsutable (mudah ketlingsut), dan perlindungan fisik yang terbatas. HDD eksternal jauh lebih baik, terutama yang memang dikhususkan untuk backup karena casingnya lebih aman.Online backup bisa memanfaatkan Google Drive, DropBox (https://www.dropbox.com/), Box.com (https://www.box.com/), dll, yang selalu punya paket gratisan untuk space sebesar 2-5 GB. Dengan online backup kita bisa mengerjakan tugas praktis di mana saja, apalagi jika menggunakan tablet.Ada pepatah: “Don’t put all your eggs in one basket.” Jadi usahakan punya lebih dari satu copy data di beberapa media, mis. HDD dan online. Jika salah satu media penyimpan mengalami kerusakan kita masih punya yang lain. Untuk pekerjaan yang sedang kita kerjakan, bisa memakai flash disk sebagai tambahan media backup.Manfaatkan juga software backup untuk otomasi dan sinkronisasi data backup. Saya biasa menggunakan SyncBack yang bisa diunduh di http://filehippo.com/.
  2. Scanner dan kamera digital. Jika punya atau di kampus Anda tersedia, manfaatkan scanner semaksimal mungkin. Dengan scanner kita bisa menscan bahan-bahan penelitian tanpa harus menghasilkan berton-ton kertas fotokopi. Bukan saja itu semua akan memakan banyak tempat, apalagi jika harus dipindah-pindahkan, dengan tidak menghasilkan copyan kita ikut menyelamatkan hutan kita. Kamera digital sangat membantu untuk mendokumentasikan data-data lapangan, juga bisa menjadi pengganti scanner meskipun sedikit lebih repot.
  3. PDF-kan dan OCR-kan semua data kitaHasil scanning dan foto kita di atas, jika berbentuk dokumen dan teks sangat disarankan untuk dijadikan format PDF dari Adobe, dan jika mungkin di OCR-kan. PDF adalah format standar yang memungkinkan isi data di pindah-pindah dari satu platform ke platform lainnya, tanpa merubah isinya; misalnya dari Web ke Windows ke Linux atau ke MacOS.Untuk membuat PDF dibutuhkan software PDF maker dari Adobe Acrobat, FoxIt dll. Bisa juga membuat PDF dari fasilitas online, misalnya seperti yang disediakan di  http://www.freepdfconvert.com/.OCR (Optical Character Recognition) adalah fasilitas dari aplikasi seperti Adobe Acrobat dan software scanner, yang fungsinya untuk merubah image text menjadi sepenuhnya teks. Dengan diubahnya image menjadi teks maka isi teks bisa di-search sehingga memudahkan bagi kita menemukan kata-kata tertentu di dalamnya.
  4. Google DesktopNgomong-ngomong soal search, kita semua mungkin sudah sangat biasa mencari informasi dengan memanfaatkan Google. Tersedia juga mesin pencari untuk isi harddisk kita sendiri yang disediakan Google, namanya Google Desktop (bisa di download dari http://filehippo.com atau http://download.cnet.com).  Meskipun semua OS menyediakan fasilitas pencarian isi harddisk sendiri, tapi sejauh pengetahuan saya, belum bisa menandingi Google Desktop dari segi kecepatan maupun kedalaman. Google Desktop sendiri punya beberapa fasilitas, tapi yang saya pakai hanya mesin pencariannya saja. Ini sangat membantu terutama dalam menghadapi jumlah file pekerjaan yang sudah menumpuk selama bertahun-tahun dan disimpan tanpa struktur. Cara install dan kerjanya bisa dicek di  http://www.youtube.com/watch?v=JfkspoGDkPg
  5. ILLJika punya akun universitas di negara maju, manfaatkanlah fasilitas Inter-Library Loan (ILL) habis-habisan!! Fasilitas semacam ini sejauh yang saya tahu belum ada di Indonesia. Selama ini umumnya orang mengetahui fasilitas ILL semata-mata hanya untuk meminjam buku dari universitas lain. Sebenarnya melalui ILL juga bisa dimintai versi elektroniknya melalui bantuan men-scan halaman tertentu dari buku tertentu yang kita butuhkan. Kedua manfaat ini gratis! Lebih penting lagi, dengan versi elektronik ini (dalam format PDF atau JPG untuk image) sumber yang kita butuhkan tidak perlu menunggu terlalu lama, seperti seandainya jika kita meminjam versi bukunya. Untuk versi bukunya perlu waktu tunggu bisa sampai seminggu lebih. Keuntungan lain dengan versi elektronik ini adalah kita tetap bisa memanfaatkan ILL sekalipun kita berada di Indonesia karena mereka akan mengirimkan versi PDF atau JPG dari bahan yang kita minta. Kekurangannya tentu saja kita tidak bisa meminta bahan tersebut satu buku penuh. Yang diperkenankan di-scan hanya sejumlah halaman tertentu saja.
  6. World Catalogue. Dalam kaitan dengan ILL di atas, jika saya tidak dapat menemukan buku atau sumber yang dimaksud dalam katalog universitas, saya mencarinya di  World Catalogue (http://worldcat.org). Sayangnya WorldCat hanya menyediakan informasi di universitas-universitas Barat. Setiap sumber yang terdapat dalam database tersebut mempunyai kode Online Computer Library Center (OCLC). Kode ini unik dan dapat kita cantumkan ke dalam permohonan ILL di atas sehingga pustakawan yang dimintai bantuan akan lebih cepat melokalisir perpustakaan yang menyimpan sumber yang dimaksud. Sering juga saya mendapatkan link melalui WorldCat ini pada sumber onlinenya.
  7. E-book dan KindleSaat ini saya kira e-book sudah menjadi sumber yang biasa dalam riset kita. Di sini saya hanya menambahkan sedikit soal pemanfaatannya untuk riset kita. Sumber-sumber e-book sendiri bisa dicari dibanyak situs di internet.Yang penting sebenarnya adalah memastikan bahwa e-book yang kita miliki sudah di-OCR-kan (lihat point no. 3 di atas). Sebab jika belum maka e-book tersebut tak lebih versi digital dari buku fisiknya. Dengan OCR maka informasi di dalam e-book bisa di-search, di-share, dll. Dalam banyak kasus yang saya alami, saya tidak perlu membaca keseluruhan isi buku yang tentu akan sangat menyita waktu. Jadi membaca yang relevan dan sesuai kebutuhan akan sangat terbantu kalau teksnya bisa di-search.Format e-book banyak yang berupa PDF dari Adobe Acrobat, tapi banyak pula yang berformat TXT, EPUB, MOBI, CHM, dll. Format-format tersebut mewakili pertarungan standar e-book. Ada beberapa format yang hanya bisa dibaca melalui software tertentu. PDF, EPUB dan MOBI misalnya bisa dibaca di Amazon Kindle, B&N Nook atau iBook-nya iPad. Saya memakai Kindle untuk membaca buku-buku keluaran Amazon. Kindle saya baca di tablet dan melalui  Kindle for Windows (bisa di download dari http://www.amazon.com/gp/feature.html/ref=kcp_pc_mkt_lnd?docId=1000426311). Dengan demikian membaca e-book Amazon tidak harus memiliki perangkat Amazon Kindle. Salah satu keuntungan e-book di Kindle, Nook dan iBook adalah memungkinkan sharing frasa yang kita highlight, membuat catatan dalam kaitan dengan frasa yang kita highlight, dan mencari di kamus kata-kata yang di-highlight tersebut.

    Yang perlu diperhatikan dari e-book sejenis ini adalah cara pengutipannya, sebab e-book ini tidak selalu merepresentasikan buku fisiknya, terutama dalam hal pembagian halamannya. Memang ada e-book yang sama dengan versi fisiknya, tapi umumnya mereka memakai istilah “location” dan bukan “page.” Untuk cara mengutip sumber dari Kindle misalnya bisa lihat di http://blog.apastyle.org/apastyle/2009/09/how-do-i-cite-a-kindle.html

    Meskipun e-book tidak sepenuhnya menggantikan buku fisik, terutama soal kenyamanannya, mengurangi buku fisik bisa mengurangi konsumsi kertas dan ikut serta menyelamatkan hutan kita.

  8. Google Book. Sumber elektronik penting lainnya adalah Google Book (http://books.google.com atau http://books.google.co.id). Hal yang paling menyolok dari Google Book adalah kita tidak bisa baca seluruh bukunya alias hanya Preview-nya saja. Ada juga buku-buku yang tidak ada Preview sama sekali atau hanya Snippet View. Namun ada beberapa hal yang penting untuk diketahui:Pertama, buku-buku yang tersedia versi Preview maupun Snippet View tetap bisa di-search isinya, bahkan terhadap halaman yang tidak disajikan bagi pembaca. Jadi sebenarnya hal ini bisa dikombinasikan dengan ILL (lihat poin no. 5). Jika kita bisa mendeteksi bab atau halaman yang kita inginkan melalui search isi, maka kita bisa minta halaman dan bab yang dimaksud lewat fasilitas ILL.Kedua, seringkali demi kepentingan penelitian, kita memang tidak membutuhkan keseluruhan isi buku tersebut. Beberapa kali saya bisa membaca bagian yang saya butuhkan tanpa harus membeli bukunya.

    Ketiga, kita bisa meningkatkan kenyamanannya dengan menginstall Google Book reader, semisal GooReader. GooReader bisa diunduh dari http://gooreader.com/. Buku-buku yang dapat dibaca di GooReader adalah buku yang sudah kita beri tanda Favorite atau yang ada di Library Google kita. Untuk memasukkan suatu buku ke Favorite cukup dengan menekan tombol “Add to My Library” atau “Tambahkan ke perpustakaanku” di atas preview. Syaratnya kita harus log-in ke Google. Versi berbayarnya memungkinkan kita merekam Google Books ke versi PDF.

  9. Archive.org, Openlibrary, Project Gutenberg, dllKalau menangani teks klasik bisa coba masuk ke situs-situs berikut: http://archive.org dan http://openlibrary.org dari Openlibrary; http://www.gutenberg.org dari Project Gutenberg; http://www.forgottenbooks.com dari Google; maupun http://wikisource.org dan Wikimedia. Ada banyak sumber-sumber lain sejenis yang bisa dicoba telusuri. Intinya, perlakukan internet sebagai sumber daya yang sangat besar dan luas.
  10. Wiki-Wiki dan GoogleManfaatkan juga Wiki-Wiki yang lain untuk riset kita seperti: Wikipedia (ensiklopedia online), Wiktionary (kamus online), Wikiquote, Wikisource, dll. Google juga menyediakan banyak hal untuk riset misalnya Google Scholar, Google Translate, Google Books, dll. Mengutip sumber dari Wikipedia memang bisa jadi persoalan, menyangkut sumber dan keakuratan informasinya. Namun sejauh pengamatan saya sumber Wikipedia banyak yang cukup akurat, dan yang terpenting jauh lebih updated dibanding ensiklopedia lainnya. Sebenarnya untuk kepentingan riset, Wikipedia bisa dipakai sebagai pembuka jalan dan tautan bagi sumber-sumber lainnya.Google Translate juga punya masalah keakuratan terjemahan, namun untuk membantu kita memahami teks, sudah cukup.Fitur Wikipedia yang terbaru adalah fasilitas untuk membuatkan mem-binding sumber-sumber yang kita kumpulkan menjadi satu buku berformat PDF. Caranya bisa dilihat di  http://www.youtube.com/watch?v=D1K03AZfpDM.
  11. E-sources. Manfaatkan database semacam EBSCO, eLibrary, Gale Cengage Learning, JSTOR, ProQuest, dll, yang biasanya disediakan oleh universitas tempat kita bernaung. Terutama untuk jurnal, kurangi sejauh mungkin versi fisiknya, dan manfaatkan versi elektroniknya.
  12. EvernoteEvernote adalah aplikasi dan layanan yang sangat membantu bagi penelitian kita. Softwarenya dapat diunduh dari http://evernote.com/. Kita juga bisa meng-install add-in ke internet browser. Saya biasa memakai Google Chrome yang memasang Evernote di pojok kanan atasnya. Manfaatkan Evernote untuk: web clipping, merekam suara, membuat catatan, menyimpan foto, dsb. Akan lebih baik lagi untuk penelitian di lapangan jika evernotenya di install di tablet atau smartphone. Cara memanfaatkannya bisa dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=7zfsGqNjjas.
  13. Reference Management Software. RMS misalnya EndNote, Mendeley, Sente dll. Fungsi dari RMS ini adalah membantu kita membangun database referensi yang kita gunakan,mengelolanya, dan menggunakannya di word processing kita, mis. MS Word. Dengan RMS maka catatan kaki dan daftar pustaka akan dengan cepat dibuat secara otomatik dan sesuai dengan standar yang diinginkan, mis. Turabian, APA Style, dll. Untuk cara penggunaan EndNote, yang juga saya pakai, bisa lihat video clip berikut ini: http://www.youtube.com/watch?v=L5Kn8l2rgqk
  14. Jejaring. Manfaatkan jaringan teman-teman kita yang punya akses pada sumber-sumber yang tidak tersedia di sekolah sendiri.
  15. Monitor kedua. Jika kita bekerja dengan laptop, kita bisa memanfaatkan monitor kedua untuk memudahkan pekerjaan kita (lih. gambar). Dengan monitor
    kedua kita bisa bekerja simultan, yang bisa meningkatkan kenyamanan. Monitor utama di laptop adalah layar kerja, sedangkan monitor kedua adalah e-book yang menjadi rujukannya. Atau bisa juga dibalik, pekerjaan utama di monitor kedua, karena kita bisa mendapatkan monitor yang ukurannya lebih besar dari layar laptop kita. Semua OS mempunyai setting untuk mengaktifkan monitor kedua. Di Windows 7 atau Vista langsung mendeteksi kehadiran monitor kedua, sehingga kita tinggal memilih opsi “Extended Desktop.” Jika memakai Windows XP bisa masuk ke setting Display Properties dengan cara klik kanan di desktop kosong lalu memilih Properties. Di dalamnya pilih tab Settings lalu pilih monitor kedua dan tetapkan sebagai “Extend my Windows desktop onto this monitor”. Untuk jelasnya prosedur ini bisa dilihat di http://www.intel.co.id/content/www/id/id/tech-tips-and-tricks/how-to-connect-a-monitor-to-a-laptop.html

Sebagian dari pengalaman ini saya alami ketika mengadakan riset dan studi di luar negeri yang jangka waktunya terbatas. Jadi pertama-tama mari kita perhitungkan juga waktu efektif kita dalam melakukan riset dengan mengurangi kira-kira satu bulan dari jumlah keseluruhan. Jadi kalau dapat kesempatan riset 6 bulan, maka waktu efektifnya itu hanya 5 bulan. Jadi 6 bulan itu di potong lain2, mis. adaptasi, santai, jalan2, acara2 sosial, ke luar kota, atau menghayati homesick, maka totalkan itu semua sekitar 1 bulan. Dalam 5 bulan itu dibagi lagi dengan waktu konsultasi dengan pembimbing (jika ada), ikut acara2 seminar dan akademik lainnya. Mungkin tersisa 4,5 bulan. Dari 4,5 bulan itu kita punya waktu total kira-kira 18 minggu alias sekitar 126 hari untuk sepenuhnya melakukan riset. Dengan koridor waktu tersebut kita mesti memperkirakan kecepatan membaca buku, dan waktu untuk menangani obyek riset.

Demikian bagi-bagi info dari saya, semoga bermanfaat. Bagi yang ingin menambahkan monggo …

Artikel ini juga terdapat di sini

Leonard C. Epafras adalah mahasiswa S3 di

Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS), Yogyakarta.

This post is also available in: Indonesian

Leave a Reply