Maju Mundur Advokasi untuk Penganut Penghayat Kepercayaan

Author: Samsul Maarif

Untitled design

“Penghayat Kepercayaan” adalah kelompok Warga Negara Indonesia yang masih berjuang untuk mendapatkan hak kewarga-negaraannya hingga hari ini. Mayoritas penghayat kepercayaan selama ini terus mendapatkan perlakuan diskriminasi baik dari negara maupun dari masyarakat oleh karena mereka tidak diakui sebagai kelompok agama. Karena itu, mereka ditempatkan di Kementerian/ Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Parawisata bukan di Kementerian Agama. Implikasi pembedaan mereka dari kelompok agama bermacam-macam: mulai dari persoalan akta nikah dan lahir, kewajiban mengikuti pendidikan agama yang diakui negara, sampai pada penguburan.

Belakangan ini, di tengah masih berlangsungnya diskriminasi terhadap penganut penghayat kepercayaan, kasus-kasus pengakuan atas hak mereka banyak terungkap Di Sangihe, Sulawesi Utara misalnya, kelahiran dan pernikahan warganya dengan cara adat telah berhasil dicatatkan oleh Negara. Di tempat lain, warga Sunda Wiwitan dan Sapta Darma berhasil memasukkan pendidikan kepercayaan menggantikan pendidikan agama (kurikulum nasional) di sekolah. “Nasib” penghayat pun juga telah menjadi bagian dalam wacana RUU Perlindungan Umat Beragama.

Apa yang bisa kita pelajari dari beberapa kasus kemajuan ini? Apakah ada kasus-kasus lainnya yang serupa? Apa kunci keberhasilan tersebut? Apa implikasinya terhadap prioritas dan strategi advokasi untuk pluralisme kewargaan?

2 thoughts on “Maju Mundur Advokasi untuk Penganut Penghayat Kepercayaan

    1. Pantas dibanggakan jika di beberapa daerah, masyarakat lokal sudah mulai diterima. Namun, Jika tidak dilanjutkan di daerah lain, kecemburuan pun akan muncul. Kasus pengakuan itu harus menjadi semangat untuk berjuang dan belajar tanpa melupakan masyarakat penghayat kepercayaan lain yang masih belum diakui.

Leave a Reply