Masihkah Yogyakarta Istimewa?

Kelli Swazey | CRCS

Kelli Swazey is a lecturer and faculty member of CRCS.

CRCS-18012013-78-kellie Saya ingin memulai dengan berbagi cerita tentang pengalaman saya enam bulan yang lalu. Suatu malam dalam perjalanan pulang ke rumah, saya sendirian naik motor dan saya menjadi korban perampokan di Ring Road Utara. Syukurlah, ada para pekerja yang sedang memperbaiki sebuah hotel yang terletak di pinggir jalan tempat saya mengalami perampokan malam itu. Para pekerja itu menyelamatkan saya, karena ketika saya jatuh dari motor, saya sempat pingsan. Orang yang menyelamatkan saya meminta maaf berulang kali. Seperti banyak orang lain yang mendengar cerita tentang musibah yang saya alami, mereka merespon dengan kecurigaan bahwa orang yang menyerang saya pasti orang pendatang. Ternyata, orang-orang yang merampok saya adalah dua anak muda dari Sleman. Salah satu pelakunya masih ABG, berumur sekitar usia anak SMA. Selama diopname di rumah sakit, saya tidak habis pikir dan bertanya pada diri sendiri apa motivasi mereka.

Selama lima tahun terakhir saya menyaksikan perubahan yang terjadi di kota Yogyakarta dan sekitarnya. Secara teoretis perubahan di Yogya masa kini lebih cenderung ke “pembangunan”, atau dengan kata lain perkembangan yang sesuai dengan jaman modern. Tampaknya setiap bulan ada rencana untuk membangun hotel baru, dan tidak kurang dari tiga mall sudah muncul di wajah kota Yogya dalam beberapa bulan terakhir. Dengan perkembangan tersebut, terdapat aliran kebudayaan baru, aliran budaya konsumtif yang biasanya hanya dapat dilakukan oleh masyarakat kelas menengah. Dalam istilah ilmu sosial, fenomena ini dikenal sebagai “gentrification”, di mana orang dengan pendapatan berlebih (dispensible income) dapat mengklaim dan membangun kembali (rebuild) atau memugar (rehabilitate) ruang-ruang urban agar lebih sesuai dengan kelas dan gaya hidup mereka. Tapi dengan investasi tersebut, mereka menguasai akses atas tanah dan sumber daya yang ada sekaligus mengambil alih, merepresentasikan dan mengkonsumsi kebudayaan setempat.

Kembali ke pengalaman perampokan saya, pikiran saya mengarah pada dampak “gentrification”, di mana penduduk lokal mengalami keterbatasan kemampuan untuk ikut serta dalam budaya baru yang muncul di tempat tinggalnya, dan pada saat yang sama, ruang ekspresi kebudayaan mereka semakin dipersempit. Para anak muda lokal melihat banyak hotel bermunculan di sekitar tempat tinggal mereka sementara mereka sendiri tidak memiliki akses ke hotel-hotel tersebut. Mereka menyaksikan hilangnya lahan dan jaminan mata pencaharian. Mereka melihat berkembangnya sebuah budaya kelas menengah namun mereka tidak menjadi bagian dari perkembangan tersebut. Mereka melihat hilangnya fenomena dan praktek-praktek yang terkait dengan sejarah dan realitas mereka. Mereka merasa tidak memiliki jalan keluar untuk mengekspresikan harapan masa depan mereka dan harapan tempat tinggal mereka di masa depan sehingga tidak heran bahwa mereka marah dan frustasi.

Baca selengkapnya di: http://kelliswazey.squarespace.com/blog/2015/9/9/hari-keistimewaan-yogyakarta-2015

*Tulisan ini dipresentasikan di Acara Peringatan Hari Keistimewaan, Diskusi Budaya, Dinas Kebudayaan DIY 2 Septemember 2015

Leave a Reply