Badingsanak Dayak-Banjar: Identitas Agama dan Ekonomi Etnisitas di Kalimantan Selatan

 

Harmonisasi Penegasan Lokal antara Dayak dan Banjar

 

 

Jumlah Halaman: 96 halaman

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-602-96257-4-5

Penerbit: CRCS

Dalam era kebebasan politik yang disusul oleh runtuhnya rezim Soeharto, politik identitas berjalan kuat di Indonesia. Etnis dan agama seringkali berbenturan sehingga negosiasi identitas dan akomodasi terkadang berakhir mengecewakan. Hal ini memberikan potensi kuat untuk menciptakan kekerasan komunal di beberapa tahun terakhir. Yakni kekerasan yang menonjolkan identitas agama dan etnis. Selain itu juga menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas pengelolaan keragaman di Indonesia.

 

Untungnya, selalu ada cara menegosiasi dan mengakomodasi identitas tertentu yang membantu masyarakat mencegah penggunaan identitas dalam konflik. Kearifan lokal menyediakan mode negosiasi identitas dan akomodasi yang membantu masyarakat menangani konflik secara konstruktif. Hal ini dapat dicontohkan oleh hubungan antara Dayak Meratus dan orang Banjar di Kalimantan Selatan melalui ‘platform umum’ yang disebut Badingsanak yaitu kepercayaan masyarakat setempat bahwa mereka adalah bersaudara. 

 

Buku ini menguraikan pola negosiasi identitas dan akomodasi antara Dayak Meratus dan Banjar. Tulisan ini didasarkan pada penelitian di dua desa, yaitu Hulu Banyu yang mayoritas penduduknya adalah orang-orang Banjar dan Loksado yang mana penduduknya relatif sama diantara orang-orang Dayak Meratus yang umumnya Kristen dan orang Banjar yang mayoritas Muslim dan percaya Balian. Kedua desa secara administratif terletak di kecamatan Loksado, Kalimantan selatan. Penelitian ini mengidentifikasi faktor kunci hubungan yang harmonis diantara masyarakat dengan identitas yang berbeda di kedua desa dan menguraikan situasi yang dapat memicu ketegangan dan bentrokan jika dibiarkan tanpa ada penyelesaian. 

 

Di desa Hulu Banyu yang mayoritas Muslim, penulis melihat bahwa masyarakat memiliki kemampuan yang kuat untuk mengakomodasi perbedaan. Namun, hal ini tidak terjadi di Desa Loksado di mana komposisi kelompok etnis dan penganut agamanya lebih seimbang. Hubungan antar masyarakat di desa ini terasa sedikit berbeda karena adanya konflik dan negosiasi. Hal tersebut dapat dimaklumi karena sementara hubungan antara kelompok Balian dalam desa Lokasda terlihat damai, ternyata terdapat percikan konflik dalam hubungan antara Muslim dan kelompok Kristen. 

 

Hubungan harmonis antara Dayak dan Banjar kemungkinan dapat tercipta karena kemampuan mereka membangun orisinilitas yang berakar sama. Keduanya, baik Dayak maupun Banjar percaya pada mitologi yang menunjukkan bahwa mereka mempunyai nenek moyang yang sama. Sehingga, potensi konflik identitas berdasarkan agama yang berbeda (Kristen dan Muslim) bisa diredam oleh gagasan umum yang disebut Badingsanak. Hal tersebut juga menciptakan asumsi dasar bahwa Yesus dan Muhammad adalah saudara. Sehingga masyarakat mampu berinteraksi secara inklusif di berbagai sektor kehidupan termasuk upacara keagamaan seperti Maulud Nabi.

 

Selain itu persamaan “mata pencaharian” juga mampu mengikat komunitas yang berbeda dalam kepentingan yang saling menguntungkan. Hal tersebut mampu mencegah potensi eskalasi konflik yang sering melekat dalam masyarakat multi-identitas.

 

Bagaimanapun, seperti disebutkan dalam buku ini, kita tidak bisa menyimpulkan bahwa masyarakat Banjar dan Dayak benar-benar kebal dari konflik. Potensi peningkatan konflik bisa datang dari marjinalisasi, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan dan kesenjangan ekonomi diantara komunitas yang berbeda. Dalam situasi ini negara memiliki peran penting dalam menyediakan struktur dengan membuat distribusi sumber-sumber politik dan ekonomi yang merata yaitu dengan cara menyokong hubungan antar-etnis di kedua desa. (YWU).

 

Marketing Division of CRCS UGM

Gedung Lengkung Third Floor

Graduate School of  Gadjah Mada University

Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, Indonesia 55281
Telephone/Fax : + 62-274-544976

 

 

 

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan