Dari Kosmologi Ke Dialog: Mengenal Batas Pengetahuan Menentang Fanatisme

Dalam perjalanan eksistensialnya, manusia berusaha menguak berbagai misteri jagad raya hingga mempertanyakan “Realitas”. Termasuk di dalamnya usaha keras seorang Albert Einstein yang terobsesi merumuskan teori relativitas untuk menyingkap kehendak Tuhan atas penciptaan. Namun, kecanggihan indera dan rasio manusia memiliki batas-batas tertentu. Realitas tidak pernah terengkuh secara mutlak, apalagi Tuhan.

 

Karlina Supelli membuka buku ini lewat pemaparan bahwa pengetahuan dipengaruhi sangat kuat oleh dimensi antropologis. Mengangkat kajian kosmologi yang telah digelutinya sekian tahun, Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini menunjukkan disparitas antara Kosmos (dengan k besar) dengan kosmos (k kecil). Yang pertama adalah hasil rengkuhan manusia, para ilmuan. Sedangkan yang kedua adalah pengetahuan absolut akan Sang Mutlak yang tak terpermanai (terjangkau). Konflik timbul karena “kegagalan manusia menjalin pemahaman tentang k dengan pengalaman akan K” (hal. 70). Sehingga sikap rendah hati dalam menjelaskan realitas menjadi penting.

 

Landasan epistemologis inilah yang melatarbelakangi kehadiran “Dari Kosmologi ke Dialog”. Ada keprihatinan dan kerisauan terhadap “cuaca kultural bangsa ini yang ditandai oleh berbagai gejala fanatisme dan ekstriemisme” (hal. 21).

 

Pembaca diajak mengeksplorasi lebih serius tentang orasi ilmiah Karlina Supelli dalam serial Nurcholis Madjid Memorial Lectrure (NMML) yang ditanggapi oleh beberapa pakar dan ilmuan dari berbagai bidang. Mark Woodward, seorang antropolog Amerika, misalnya memberikan pandangan bahwa apa yang berusaha ditegaskan Karlina tentang usaha memahami hubungan pencipta-makhluk sebenarnya lebih kurang sama dengan gagasan Cak Nur. Bedanya, Karlina masuk dari Kosmologi sedangkan Cak Nur dari Ilmu Kalam. Namun mereka sampai pada kesimpulan yang selaras: ketidakpenuhan atas totalitas pengetahuan.

 

Apakah tesis “keterbatasan manusia mencerap realitas” mengafirmasi keberadaan nihilisme? Karlina lebih cenderung memilih titik moderat di antara objektivisme absolut dan subjektivisme nihilistik. Proposisi bahwa realitas yang sampai pada manusia hanya representasi dan bukan realitas itu sendiri tidak serta-merta menjadikan segalanya hanya ilusi. Benda-benda yang manusia hidup dengannya hingga bumi yang didiami tidak bisa dikatakan tidak nyata. Bahwa kemudian manusia membutuhkan mediasi berupa bahasa misalnya, untuk bisa sampai pada realitas adalah soal lain. Namun, persoalaan akan muncul ketika tafsir atas realitas, yang jelas-jelas dimediasi oleh bahasa dan tidak bisa tidak terbatas, menjurus pada klaim kebenaran tunggal. Gejala inilah yang perlu diantisipasi sedini mungkin agar tidak terlanjut ke ranah fanatisme buta.

 

“Dari Kosmologi ke Dialog” menjadi penting karena memberikan ruang pemahaman tentang problematika manusia dalam usahanya mencerap realitas. Tak berhenti di situ, usaha mencerap realitas ketuhanan yang dilandasi doktrin agama juga ditilik secara kritis. Buku ini membawa pesan yang sederhana namun sangat penting untuk direnungi, khususnya menyangkut realitas keberagamaan kita. Jika manusia tidak mampu terhindar dari subjektifitas penafsiran atas segala upaya menangkap pengetahuan, lalu masih layakkah pemertahanan tafsiran tunggal atas kebenaran agama? (AGA)

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan