Bulan Sabit di Pulau Dewata (Crescent in God Island)

Tragedi bom di Kuta 2002 dan Jimbaran 2005 mengusik kenyamanan hidup muslim di Bali. Orang Bali pun berhati-hati dengan pendatang. Kekhawatiran munculnya ketegangan sosial dan agama selalu muncul. Akibatnya, interaksi sosial Muslim-Hindu sedikit berjarak. Kalau sudah demikian, hidup dalam kemajemukan budaya dan agama kembali diuji.

 

Penelitian dalam buku ini menunjukkan Muslim di bali dapat berinteraksi dan memperoleh ruang yang baik. Buku ini bukan hanya mengajak menelusuri jejak kehidupan komunitas (kampung) Islam di Bali, namun juga menelisik sejauh mana warga muslim mempunyai ruang public: pola komunikasi, interaksi, dan institusional, antara warga muslim dan warga Bali.

 

Kajian ini menarik kesimpulan bahwa kelompok minoritas di Bali diberi ruang kenyamanan dalam kantong otonomi komunitas. Di tengah menguatnya ethnosizing politik local, warga muslim minoritas diberi ruang untuk mengaktualisasi aspirasi politik mereka dalam kantong komunal di sebuah Kampung di Bali. Kampung dapat bertahan karena Bali sejak lama menerapkan model pemerintahan ganda (dual system) di level dasar: desa adat dan desa dinas. Desa adat merupakan representasi dari desa hindu yang bersifat eksklusif. Desa dinas adalah desa yang memberikan pelayanan administratif kepada semua warga tanpa membedakan latar belakang agama.

 

Buku ini merupakan bagian dari Serial Monograf Praktik Pluralisme yang diterbitkan oleh Program Studi Agama dan Lintas Budaya (Center for religious and Cross-cultural Studies/CRCS), Universitas Gadjah Mada. Serial ini merupakan hasil penelitian mengenai praktik pluralisme dalam masyarakat yang dilakukan oleh mitra CRCS beberapa daerah di Indonesia. Serial yang telah terbit meliputi: Politik Ruang Publik Sekolah (Yogyakarta), Kontroversi Gereja di Jakarta (Jakarta), dan Badingsanak Banjar-Dayak (Kalimantan).

 

Penerbitan buku ini merupakan bagian dari kegiatan Pluralism Knowledge Programme (PKP) sejak 2008. PKP sendiri merupakan program kolaborasi internasional antara lembaga akademik dengan organisasi masyarakat sipil di empat negara, yaitu: CRCS (Yogya, Indonesia), Center for the Study of Culture and Society (Banglore, India), Cross-Cultural Foundation of Uganda (Kampala, Uganda), dan diorganisir serta didukung oleh Kosmopolis Institute, University of Humanistics dan Hivos (Belanda). Program ini bertujuan untuk membangun dan  mendistribusikan pengetahuan yang dapat memperkuat pemahaman mengenai pluralisme di keempat negara tersebut.

 

Marketing Division of CRCS UGM

Gedung Lengkung Third Floor

Graduate School of  Gadjah Mada University

Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, Indonesia 55281
Telephone/Fax : + 62-274-544976

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan