Kajian Integratif Ilmu, Agama dan Budaya atas Bencana

xxMaraknya bencana alam yang terjadi di Indoensia beberapa tahun terakhir ini mulai dari tsunami, gempa bumi, longsong, banjir, luapan lumpur, erupsi gunung berapi, kekeringan, kebakaran hutan, puting beliung dan lain-lain semakin meningkatkan kebutuhan akan adanya kajian menyeluruh terhadap bencana. Pendekatan ilmu alam yang selama ini dominan dalam melihat bencana dianggap belum mencukupi untuk membantu kita memahami bencana dan bertindak tepat dalam pencegahan dan penanggulangannya. Untuk itu diperlukan pendekatan lain yang lebih menyeluruh dalam mengkaji bencana selain dari perspektif sains, yaitu agama dan budaya.

Kebutuhan untuk mendapatkan kajian yang komprehensif terhadap bencana inilah yang mendorong Program Studi Agama dan Lintas Budaya (Center for Religious and Cross-cultural Studies, CRCS) untuk meluncurkan hibah bersaing berjudul, “Interpretasi dan Respon atas Bencana: Kajian Integratif Ilmu, Agama dan Budaya” pada tahun 2008. Melalui berbagai pendekatan ditemukan hal-hal menarik terkait bencana yang dapat menambah pemahaman kita terhadapnya. Misalnya, dari perspektif agama ditemukan beragam pandangan mulai dari pandangan ulama, lembaga keagamaan sampai penganut agama hingga kajian teks kitab suci terhadap bencana yang turut berpengaruh terhadap beragamnya respon atas bencana. Dari perspektif budaya ditemukan juga beragam interpretasi dan respon yang berbasis pada kearifan lokal. Temuan-temuan lapangan dari dua seri hibah penelitian dengan judul yang sama inilah yang kemudian dibukukan dalam tiga seri buku “Agama dan Bencana”.

Buku pertama berjudul “Agama, Budaya dan Bencana”, menampilkan keragaman perspektif yang digunakan masyarakat dalam memahami bencana, mulai dari perspektif agama hingga budaya lokal. Melalui kajian terhadap hukum agama, institusi keagamaan, dan praktik-praktik lokal, para peneliti berusaha memperlihatkan bagaimana perspektif agama dan budaya digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat untuk memahami dan mejelaskan bencana. Bahkan dalam beberapa hal, perspektif tersebut saling berkelindan sehingga sulit ditentukan apakah ini perspektif agama ataukah perspektif budaya lokal. Pada saat bersamaan peneliti memperlihatkan potensi yang dimiliki agama dan masyarakat lokal yang dapat digunakan untuk membangun dasar-dasar masyarakat tangguh bencana.

Buku kedua, “Respon Masyarakat Lokal atas Bencana”, mengeksplorasi pemahaman dan daya lenting masyarakat yang dibangun atas sistem pengetahuan lokal, sekaligus mengkaji kemungkinan mempertemukan pendekatan sains dan budaya lokal. Contoh-contoh kasus yang diambil dari berbagai kasus di Indonesia memperlihatkan bahwa masyakat mempunyai sistem pengetahuan yang berasal dari pengalaman panjang interkasi dengan lingkungan hidupnya. Sistem sosial pun kadang sudah disesuaikan dengan gerak-gerik alam. Oleh karena sifatnya yang mengakar kuat, perspektif kearifan lokal akan memberikan landasan yang kuat dalam membangun masyarakat tangguh bencana yang lebih partisipatif.

Buku ketiga, “Konstruksi Masyarakat Tangguh Bencana”, bersifat lebih teknis dengan menekankan pada upaya praktis pembangunan masyarakat tangguh bencana. Misalnya tulisan Sudibyanto dkk. memberikan kerangka kerja mulai dari peningkatan kapasitas masyarakat, pendidikan kebencanaan, hingga sosialisasi media kebencanaan yang berisi alur koordinasi tanggap darurat yang sangat teknis. Beberapa tulisan dalam buku ini menampilkan contoh-contoh kasus diberbagai daerah yang memperlihatkan upaya antisipasi teknis masyarakat dalam mencegah bencana.[ Najiyah Martiam]

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan