Hastho Bramantyo: Pemikiran dan Buku Barunya

Aktivitas dari seorang Hastho Bramanto, alumni CRCS angkatan 2002, semakin bertambah dengan launching buku yang baru saja ia terjemahkan ke bahasa Indonesia, “Kakawin Sutasoma”. Laki-laki yang kerap disapa “Bram” ini telah berkeliling beberapa tempat di Jawa dan Bali untuk launching tersebut. “Buku ini menjelaskan bagaimana pada jaman Majapahit masyarakat dengan segala perbedaannya dapat hidup bersama dengan local wisdom yang mereka miliki,” jelas Bram.

Sebagai Ketua dari Sekolah Tinggi Agama Buddha Syailendra, Kopeng, Kabupaten Semarang, Bram melihat bahwa dialog dan penghargaan terhadap perbedaan itu sangat dibutuhkan. Hal ini seturut dengan gagasan dalam buku barunya itu. Ia merasakan bahwa pengalaman belajarnya selama di CRCS telah banyak membantu pemikiran dan pekerjaannya sebagai seorang pengajar dan penulis.

Menurut Bram ada dua hal yang menarik dari CRCS. “Pertama itu, secara metodologis CRCS menyediakan psikoanalis, anthropologis, sosiologis, dan lainnya,” ungkap Bram. “Kedua, secara material kita langsung bertemu dengan orang-orang yang berbeda agama dan itu sangat membantu mencairkan stereotype kita sewaktu perjumpaan itu berlangsung,” jelas Bram dengan semangat.

Kedua hal tersebut mempengaruhinya juga dalam mengajar Mahayana, Filsafat Umum dan Agama-agama di Indonesia, di kampusnya. “Materi CRCS banyak yang dipakai, kita cangkokkan pada mata kuliah mahasiswa, jadi pembelajaran yang baru bagi mereka. Mahasiswa menjadi lebih kritis, mereka jadi lebih memahami orang lain di luar Buddhis,” tegas Bram.

Laki-laki yang menulis tesis dengan judul “The Dalai Lama’s Response to Religious Diversity” ini, merasa senang mendapatkan kuliah dari pemikir-pemikir terkenal, seperti Paul F. Knitter. Selain itu, pertemuannya dengan teman-teman seangkatannya yang sebagian besar adalah tokoh-tokoh agama, merupakan kenangan yang tak terlupakan. Acara-acara religius, seperti perayaan hari besar agama, sering mereka lakukan bersama-sama.

Aktifitasnya saat ini juga mensyaratkannya untuk berdialog dengan rekan-rekan LSM dan akademisi lainnya yang berlatar belakang agama berbeda, khususnya di Salatiga. Pengalamannya di CRCS sangat berguna sekali dalam aktifitasnya tersebut. “Saya seakan disiapkan lahir dan batin sewaktu di CRCS dalam berdialog,” ucap Bram.

Ketika ditanyakan kepadanya mengenai kritik atau saran terhadap CRCS, Bram melihat ada dua hal yang perlu dikembangkan lagi. “Pertama, bahwa CRCS sudah kaya dengan encounter. Coba ada dialog tentang permasalahan etik dan masalah kemiskinan struktural. Yang kedua, hal filosofis, maksudnya hal-hal berat, seperti klaim tentang kebenaran yang tunggal, theodicy, perlu adanya pertemuan. Perlu difasilitasi dengan pertemuan tertentu,” jelas Bram. (JMI)

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan