Paradigma yang ‘Open Minded’ dan Sebuah Dialog Kehidupan

“Paradigma yang open-minded. Mungkin CRCS tidak memberikan semua ilmu, tapi CRCS memberikan paradigma tentang ke mana harus melangkah.” Demikian jawaban dari Izak Y. M. Lattu, alumni CRCS angkatan 2000, ketika ditanyakan mengenai kontribusi CRCS terhadap pekerjaannya saat ini. Laki-laki yang kerap disapa dengan nama “Chaken” ini bekerja sebagai staf pengajar di Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, serta menjabat sebagai Ketua Program Studi (Kaprogdi).

 

Selama masa kuliahnya di CRCS, Izak menemukan berbagai hal yang menguntungkan dirinya secara pribadi dan mahasiswa lainnya. Menurutnya, sekat-sekat agama sewaktu kuliah mencair dan hal itu memudahkannya untuk dapat belajar tentang agama lain. Peningkatan kemampuan berbahasa Inggris menjadi salah satu keuntungan yang tidak dapat dilupakannya pula, termasuk membangun jaringan nasional dan internasional.

 

Laki-laki yang berasal dari Maluku ini juga menceritakan tentang pengalaman kuliah di CRCS yang membuatnya terkesan sampai saat ini. Menurutnya, perkuliahan dengan Muhammad Ayoub adalah salah satu perkuliahan yang sangat menarik dan membangun paradigmanya. “Kalau belajar tentang agama lain, kita harus belajar dengan hati, bukan belajar untuk mencari kesalahan dan membangun debat, tetapi mencari pemahaman untuk membangun dialog,” jelas Izak mengenai perkataan dari Muhammad Ayoub yang masih diingatnya. “Dialognya dialog kehidupan, bukan hanya chit-chat,” tambahnya.

 

Selain disibukkan dengan perkuliahan dan pengorganisasian program studi yang dipimpinnya, Izak juga sedang menjalankan penelitian pribadinya mengenai “Java-Muslim Migrant and Emotional Identity in the Midst Moluccan Christian Hosts” di pulau Seram, Ambon. Penelitiannya ini tidak lepas dari minatnya terhadap kajian agama dan budaya, serta agama dan konflik. Hal ini pula yang memotivasinya untuk berencana melanjutkan program S3 pada tahun 2010 atau 2011 nanti.

 

Aktifitas-aktifitas bersifat praktis juga dijalankan oleh Izak dalam koridor paradigma yang dimaksudkannya diatas. Ia bersama rekan-rekannya menggiatkan Forum Antar Iman dan Solidaritas Sosial (FAISAL) di Salatiga. Ia turut mengarahkan mahasiswanya untuk mengalami langsung pembelajaran dengan penganut agama lain, terutama umat Muslim. Izak memulainya dengan membawa mereka belajar di Pondok Pesantren Adi Mancoro, Salatiga, untuk mata kuliah “Agama Islam” yang diampunya. “Mereka belajar tentang membangun hubungan antar-agama, untuk membangun mutual-understanding,” jelas Izak. (JMI)

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan