CRCS Sebagai Pintu Gerbang Dunia

“CRCS sebagai pintu gerbang yang membuka duniaku yang baru. CRCS membuka pikiran saya, tidak hanya bagaimana menjadi pemilik agama yang baik, tetapi juga mengkritisinya.” Demikian ungkapan Wilis, alumni CRCS angkatan 2004, ketika ditanya mengenai kontribusi CRCS terhadap keberhasilannya saat ini. Salah satu keberhasilan perempuan Buddhis ini, ia mendapatkan beasiswa Ph. D. dari Fullbright untuk kuliah di Department of South and Southeast Asian, University of California, Barkeley.

Ketika ditanyakan mengapa dulu ia memilih kuliah di CRCS, pemilik nama lengkap Wilis Rengganiasih Endah Ekowati ini mengaku bahwa ia percaya pada faktor jodoh dalam agama Buddha. “Kalau tidak ada pertalian karma maka tidak ada pertemuan seseorang dengan sesuatu,” ungkap Willis. Keberadaannya sebagai bagian dari CRCS saat ini adalah bentuk pertalian tersebut dengan berbagai kisah disampingnya. Pada waktu itu, Pdt. Pujo Dharmosuryo adalah salah seorang yang mendorong dan membantunya untuk masuk ke CRCS.

Saat ini Wilis sibuk dengan persiapan keberangkatan dan kuliahnya yang akan dimulai pada awal Agustus 2009. Konsentrasi yang rencananya akan ia ambil pada studi tersebut adalah “Engaged Buddhism” dan “Women in Buddhism”. “Studi saya akan lebih menekankan applied Buddhism, yang dilihat dari sisi sosial dan antropologi,” tegas Wilis.

Sebelum berhasil merebut beasiswa Fullbright, Wilis mengaku bahwa sudah pernah mendaftar pada tahun 2006. Namun pada saat itu ia tidak lulus. Sepulang dari program Student Exchange ke Florida International University, USA, pada tahun 2007, ia mendaftar kembali, dan lulus untuk Fullbright tahun 2009 ini.

Sejak tahun 2004 Wilis mengajar di Sekolah Tinggi Agama Buddha Syailendra, Kopeng. Dia mengakui selama ini pekerjaan mengajar di Syailendra merupakan pengabdiannya sebagai umat Buddha. Pekerjaan mengajarnya ini tidak akan hanya di Syailendra, tertanggal 1 Mei melalui SK Direktur Pascasarjana UGM ia dikontrak untuk menjadi tenaga pengajar di CRCS. Ia akan mengajar sepulang menyelesaikan studi di U.S.A. nanti.

Menurut Wilis keberhasilannya tidak lepas dari studi di CRCS yang pada awalnya dianggap sebagai sesuatu yang baru dalam hidupnya. Banyak yang tidak ia ketahui ketika masuk di CRCS, karena ia tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang agama dan budaya. Namun karena ketidaktahuannya itu, dan berbekal pengalaman sebagai penari dan pengajar tari di Institut Seni Indonesia, Solo, ia terdorong untuk belajar lebih keras dan ulet. “Aku jadi jatuh cinta sama studi agama dan lintas budaya,” ucap Wilis sambil tersenyum.

CRCS, bagi Wilis, telah banyak berkontribusi dalam membentuk cara berpikir dan kesuksesannya saat ini. Mulai dari mendatangkan para profesor internasional dan berkompeten hingga iklim belajar yang baginya membangun critical thinking. Kesempatan-kesempatan untuk belajar dan bekerjasama dengan institusi-institusi di dalam dan luar negeri juga merupakan bagian penting yang didapatkannya dari CRCS. (JMI)

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan