Amerika, Kewarganegaraan Etis, dan Arti Memilih

Kate Wright | CRCS | Voices from America

Sejak tujuh belas tahun lalu, CRCS telah terhubung erat dengan para akademisi Amerika Serikat. Beberapa pelopor studi antaragama dari Amerika, seperti John Raines, Mahmud Ayoub, dan Paul Knitter, telah membantu dalam pendirian dan pengembangan CRCS. Banyak dosen tamu dan para pengajar bahasa Inggris dari Amerika telah mengajar di CRCS. Lebih dari 30 alumni CRCS kini juga telah melanjutkan studinya, untuk tingkat MA atau PhD, di universitas-universitas Amerika. Sehubungan dengan pelbagai kabar politik pascapemilu Amerika, juga fenomena yang serupa di negara-negara lain di Eropa dan Asia, kami mengundang para kolega dan relasi kami dari Amerika untuk menuliskan pandangan atau refleksi personal mereka di situs web CRCS. Artikel berikut ini, yang ditulis Kate Wright, adalah yang pertama untuk seri “Voices from America”. Versi orisinal dari tulisan ini dalam bahasa Inggris dapat dibaca di sini.

***

Gambar ini adalah domain publik, diambil dari pixabay.com

Pada tahun 2002 dan tinggal di Yogyakarta, saya tengah berada dalam wisata singkat ke Bali ketika Presiden Amerika Serikat (AS) George Bush memerintahkan invasi ke Irak. Saya sedih dan frustasi: menginvasi Irak dan menggulingkan Saddam Husein tidak akan membuat dunia lebih aman dari terorisme. Saya merasa perang ini akan menjadi suatu ganjalan antara saya dan orang-orang di sekitar tempat saya tinggal di Yogyakarta.

Perang pun terjadi, melebar ke Afghanistan, dan Amerika tak menemukan senjata pemusnah massal itu. Berita-berita yang berdatangan kemudian memberitahu bahwa para intelijen yang mengawasi bahaya Islam radikal dan ancaman terorisme terhadap Barat telah keliru. Sedikit orang dari kalangan militer Amerika yang mampu berbahasa Arab. Sedikit juga yang memiliki pengetahuan tentang negara-negara Timur Tengah dan budayanya.

Lalu pada 2004 terjadi pemilu. George Bush maju untuk kedua kalinya, melawan John Kerry. Bush dicemooh. Dibanding sebelumnya, kami masih tak lebih aman dari terorisme yang datang dari luar. Amerika belum menangkap Osama bin Laden, musuh nomor satu. Pun demikian, Bush menang. Seorang profesor CRCS waktu itu keluar dari ruang kantornya menemui saya dan bilang, “Kate, apa yang salah dengan bangsamu?”

Perasaaan saya campur aduk mengetahui Bush menang untuk kedua kalinya. Mengalami pilpres Amerika dari luar negeri adalah hal yang tak mengenakkan. Posisi presiden jarang dimenangkan dengan kampanye berbasis politik luar negeri. Isu-isu domestiklah yang diperhatikan para pemilih. Namun di luar Amerika, berita-berita tentang Amerika fokus pada kebijakan luar negeri. Saya tak bisa menjelaskan bagaimana bisa presiden yang membawa Amerika pada dua perang di masa meningkatnya serangan teror di dunia justru menduduki Gedung Putih lagi.

Reaksi saya

Dulu saya merasa, presiden ada jauh di sana. Presiden tak benar-benar menyentuh hidup saya. Saya tak memikirkan Presiden sebagai “presiden saya” atau “bukan presiden saya”. Namun dua hal telah mengubah itu: keluarga Obama dan Trump.

Kepemimpinan Obama dan keluarganya telah membuat Amerika terasa seperti rumah. Mereka menarik saya ke dalam kehidupan mereka, dan membuat saya merasa bahwa rumah itu diwariskan untuk saya. Mereka mengundang para bintang pop, para perempuan dari gerakan kepanduan, anak-anak TK, hingga para pengajar universitas. Barack Obama memiliki tim yang membaca dan membalas surat; dan dia membaca banyak surat-surat itu. Michelle Obama fasih bicara tentang anak-anaknya yang tumbuh dewasa di Gedung Putih. Dan saya, bersama orang-orang Amerika, melihat kehidupan mereka dengan bangga. Mereka mewakili yang terbaik dari Amerika: pekerja keras, baik hati, dan membumi.

Hingga kemudian Donald Trump datang ke Gedung Putih, rumah saya itu.

Kini, orang yang tinggal di rumah itu adalah seorang perisak yang berbual tentang serangan seksual terhadap perempuan. Dan saya seorang perempuan. Saya punya anak perempuan yang semestinya tak merasa diancam atau diusir. Anak perempuan saya layak mendapat yang lebih baik.

Kini, orang yang tinggal di Gedung Putih itu menerima dukungan dari Ku Klux Klan dan menempatkan Steve Bannon, yang disebut perempuan anggota kongres Nancy Pelosi sebagai “ white supremacist, dalam Dewan Keamanan Nasional (the National Security Council). Sementara suami saya adalah orang berkulit hitam, dan anak-anak kami memiliki ras campuran—yang di Amerika berarti hitam. Tentu saja seluruh keluarga suami saya—yang kini menjadi keluarga saya—berkulit hitam. Jadi kami dibenci dengan terbuka oleh orang di Gedung Putih itu, gedung yang dulu menjadi rumah kami.

Kini, orang yang tinggal di Gedung Putih itu adalah seorang perisak yang menertawakan penyandang disabilitas. Anak laki-laki saya mengalami sindrom Down. Bentuk wajahnya berbeda dari wajah anak-anak pada umumnya; gaya berjalannya tidak lazim; dan dia harus bersusah payah hanya untuk mengeluarkan kata-kata dari tenggorokannya. Tak ada keraguan dalam pikiran saya, apabila presiden bertemu seseorang seperti anak saya, dia akan mencemooh anak itu.

Dari ketiga jenis kebencian ini (terhadap perempuan, orang hitam, dan penyandang disabilitas), kami telah terbiasa mengalami dua yang pertama. Saya hidup dan dapat bertahan kendati mengalami kebencian pertama. Suami saya hidup dan dapat bertahan meski mendapat kebencian kedua. Tapi anak saya baru berusia empat tahun. Dan empat tahun ke depan kami harus terbiasa mengalami kebencian itu dalam kehidupan kami sehari-hari. Saya ingin percaya bahwa cemoohan berisi kebencian itu telah di luar batas. Tapi yang terjadi tidaklah demikian—kebencian itu bertempat tinggal di Gedung Putih, rumah kami.

Saya menanyakan kepada diri sendiri pertanyaan profesor di CRCS itu: “Kate, apa yang salah dengan bangsamu?” Bagaimana bisa kami memilih orang yang merasa baik-baik saja saat mengatakan hal cabul terhadap perempuan, menghina orang-orang Afro-Amerika, dan mencemooh penyandang disabilitas? Mengapa pengalaman perempuan, pengalaman orang-orang dengan kulit berwarna, pengalaman para difabel, tidak cukup signifikan untuk mempengaruhi para pemilih? Tidakkah kami berarti?

Kesempatan yang hilang

Saya teringat pada 2008 saat menyaksikan pemilu presiden. Saya mengajak orang yang kini menjadi suami saya ke Corner Brewery, suatu brewpub di Ypsilanti, Michigan. Kami duduk bersama kawan-kawan dan menyaksikan pemilu itu hingga tengah malam ketika hasil pemilu datang dari California, Oregon, dan Washington—hasil yang memenangkan Barack Obama. Saya gembira, dan bangga dengan orang-orang kulit putih lain. “Kamu lihat?” Saya ingin bilang begitu ke suami saya. “Orang kulit putih Amerika mulai berhenti membencimu.” Ada harapan dari orang-orang kulit putih untuk berhenti belajar membenci, dan dunia akan menjadi tempat yang lebih baik untuk anak-anak kami di masa depan.

Pemilu yang memenangkan Barack Obama di negara ini, negara yang terjangkiti rasisme ini, menandakan titik balik. Kemenangan itu memang tak mengakhiri rasisme, namun ia mengubah lanskap. Dan saya dulu berharap, dengan kemenangan Hillary Clinton, kami akan mengubah satu sudut lain dari lanskap itu, dan saya dapat berkata ke anak perempuan saya, “Kamu lihat? Negara kita dapat mempercayai kita; negara kita tak merendahkan kita. Ada kesempatan bahwa kamu bisa merasa aman di negara ini.”

Tapi saya belum bisa mengatakan itu kepadanya. Amerika gagal memanfaatkan kesempatannya untuk mempertahankan progres. Suami saya dan keluarganya boleh jadi sudah menebak bahwa Amerika akan gagal.      

Apa arti kemenangan Trump bagi Amerika?

Amerika itu rasis, bigot, misoginis, isolasionis. Pembedaan kelas mengakar; privilese mereproduksi dirinya sendiri; dan kota-kota, kehidupan bertetangga, dan sistem sekolah telah secara de facto tersegregasi.

Amerika juga berpikiran terbuka, bebas, menerima. Amerika menyambut yang datang kemari dan memulai hidup baru. Amerika adalah tempat seseorang seharusnya tak bersikap chauvinistik mengenai agama; tempat para pemuka agama dapat bercengkerama tanpa ada persaingan tentang agama mana yang benar. Amerika adalah tempat rasisme sepenuhnya distigmakan sebagai ideologi sehingga para bigot, setelah melontarkan hinaan rasisnya, akan malu memalingkan muka.

Kita harus melihat kontradiksi ini pada saat yang sama. “Mengakui ngerinya kenyataan ini berarti berpaling dari gambaran tentang negara yang indah, sebagaimana ia selalu mendeklarasikan dirinya sendiri, menuju sesatu yang suram dan takdikenal,” demikian tulis Ta-Nehisi Coates dalam bukunya Between the World and Me.

Yang rasis dan anti-rasis di Amerika hidup bersisihan satu sama lain. Di satu sisi ada orang-orang yang ingin mengistimewakan kulit putih; di sisi lain ada orang-orang yang ingin memperjuangkan pemerataan kemakmuran. Kita harus berani melihat kenyataan Amerika ini: berani memahami bahwa pengalaman dari ‘yang lain’ sebagai pengalaman otentik Amerika. Seseorang tak perlu menjadi kulit putih, kelas menengah, atau laki-laki untuk menjadi Amerika yang otentik, kendati yang terjadi adalah pengalaman laki-laki kulit putih kelas menengah terbiasa dianggap norma.

Dalam hal ini, Amerika tidak unik. Indonesia juga memiliki karakter dari narasi dominannya: lelaki muslim Jawa kelas menengah. Indonesia juga punya konter-narasi dari pulau luar: kaum transgender dan pemeluk agama lokal. Jika orang-orang dari kedua negara dapat bekerja sama dalam hal-hal positif dan berbagi teologi tentang cinta dan keadilan, berbagi sejarah perjuangan hak-hak sipil, kita dapat bertahan lebih lama dari usia kepresidenan Trump.

Memilih seakan hidup kita bergantung padanya

Bagi saya di Amerika, langkah selanjutnya adalah membuat publik lebih terlibat dan terasupi informasi yang lebih baik. Sehari setelah pemilu, kolega saya, yang tahu bahwa saya memilih Clinton, mendatangi meja saya untuk memastikan apakah saya baik-baik saja. “Saya tak memilih dia (Trump),” katanya, “semoga ini dapat membuatmu merasa lebih baik.” Saya tahu dia memilih salah satu kandidat dari dua partai ketiga (third party), mungkin Gary Johnson. Tapi dia juga tahu bahwa Gary Johnson tidak akan menang. Sebagaimana saya, dia tak ingin Trump menang. Namun dia beranggapan suaranya tak akan mengubah apapun, dan dia tak menyukai Clinton. Saat dia memilih Johnson, dia melancarkan protesnya pada pemerintah secara umum, alih-alih berharap Johnson menjadi presiden. Tapi pilihan dia memiliki akibat. Efek dari semua suara yang diberikan ke Johnson dan Stein ialah akhirnya Trump yang menjadi presiden.

Politik elektoral memiliki arti. Para pemilih yang teredukasi memiliki arti. Kita memerlukan suara positif—suara untuk satu kandidat, bukan suara melawan ‘sistem’ atau ‘status quo’. Selain para kandidat yang layak mendapat suara, kita harus memahami akibat menyeluruh dari pilihan kita dan menggunakannya dengan bijak. Memilih adalah senjata yang kita punya.

Kewarganegaraan etis, bagi saya, adalah memilih seakan hidup kita bergantung padanya. Karena, dalam hal-hal yang lebih dari yang kita sadari, hidup kita memang bergantung pada pilihan itu.

Kate Wright, setelah lulus dari Oberlin College pada 2001, mengajar bahasa Inggris di CRCS dari 2002 hingga 2005. Ia mendapat gelar M.A. dalam Studi Asia Tenggara. Ia, perempuan kulit putih yang menikah dengan lelaki berkulit hitam, kini adalah seorang ibu bagi dua anak; dan bekerja dan tinggal di Michigan. Anak sulungnya memiliki sindrom Down.

 

 

 

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan