Menjadi Saksi Yesus di Ujung Bumi

Subandri Simbolon | CRCS | Perspektif

Empat puluh hari setelah Paskah, umat Kristiani merayakan Ascensio Iesu, hari Kenaikan Yesus Kristus. Pada tahun 2017, perayaan ini jatuh pada 25 Mei. Perayaan ini sangat penting bagi umat Kristiani karena berada dalam satu rangkaian perayaan Kebangkitan Yesus yang menjadi pusat iman Kekristenan.

Dalam catatan sejarah, perayaan ini mulai resmi dimasukkan dalam kalender liturgi sejak pertengahan abad keempat. Namun, secara de facto, rangkaian kisah Kebangkitan Yesus (Paskah-Kenaikan-Pentakosta) telah dirayakan sejak era gereja perdana.

Di beberapa negara, umat Kristen merayakan Kenaikan pada hari Minggu. Di Indonesia, dengan jumlah umat Kristiani sekitar 16,5 juta jiwa, Kenaikan Yesus dirayakan pada hari Kamis sesuai perhitungan kalender dan menjadi hari libur nasional berdasarkan Keputusan Presiden No. 251/1967. Sementara di negara mayoritas Kristen terbesar, Amerika Serikat, hari peringatan Kenaikan Yesus tidak dinyatakan sebagai hari libur, Indonesia agaknya menjadi satu-satunya negara mayoritas Muslim yang menjadikan hari ini libur nasional.

Lebih dari sekadar hari libur, peringatan Kenaikan Yesus, sebagai salah satu pusat iman Kekristenan, selaiknya menjadi momen refleksi iman dan religiositas. Salah satunya tentang pesan Yesus sebelum naik meninggalkan para murid-Nya.

Dasar Biblikal

Beberapa kitab dalam Perjanjian Baru menggambarkan peristiwa Kenaikan Yesus secara berbeda, berdasarkan teologi masing-masing penulisnya. Injil Markus mengabarkan, “Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah (16:19).” Injil Lukas menceritakan peristiwa ini dalam satu bab tersendiri. Lukas mengisahkan bahwa Yesus membawa para murid ke luar kota Yerusalem di dekat Betania (24:50), di kawasan bukit Zaitun di timur Yerusalem. “Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga,” demikian Lukas (20:51) menggambarkan proses kenaikan itu.

Dalam Kisah Para Rasul, Lukas memberikan penjelasan lebih rinci mengenai bagaimana Yesus terangkat: “Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka” (Kis. 1:9). Dalam perikop yang sama, Lukas juga menunjukkan kehadiran dua orang berpakaian putih (malaikat) di dekat mereka dan memberikan penegasan bahwa Yesus telah naik ke surga: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga” (Kis. 1:11). Secara biblikal, dapat disimpulkan bahwa peristiwa kenaikan Yesus ke Surga adalah sebuah peristiwa yang terjadi dalam ruang dan waktu.

Diskusi teologis terhadap peristiwa ini selalu dilihat secara kristologis, yakni memahami Yesus sebagai Kristus yang menderita, wafat, dimakamkan, bangkit, dimuliakan, dan kembali ke surga. Dengan demikian, makna teologis dari kenaikan Yesus adalah peneguhan keillahian Yesus yang sehakikat dengan Allah. “Kenaikan Kristus ke surga menggambarkan langkah masuk yang definitif dari kodrat manusiawi Yesus ke dalam kemuliaan Allah di surga, dari mana la akan datang kembali, tetapi untuk sementara tersembunyi bagi pandangan manusia” (Katekismus Gereja Katolik, art. 665). Inilah yang dinyatakan dalam credo atau Syahadat Para Rasul: “Yang naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Mahakuasa”. Secara umum ini dipercayai umat Kristiani, baik dari Katolik maupun non-Katolik lintas denominasi.

 “Sampai ke Ujung Bumi”

Mengkontekstualisasikan makna peristiwa Kenaikan Yesus penting agar pesannya tetap berbunyi. Naiknya Yesus ke surga dapat dilihat sebagai tindakan yang melampaui sekat-sekat primordial dan golongan.

Di saat-saat terakhir bersama Yesus, para murid masih memiliki pemahaman yang keliru tentang Yesus. “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis.1:6). Para Rasul masih melihat Yesus sebagai pembebas kaum Israel dari penindasan Romawi.

Pertanyaan itu tidak dijawab oleh Yesus. Dia malah menyerahkan tugas perutusan kepada mereka untuk menjadi saksi-Nya “di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:8). Penunjukkan geografis ini adalah isyarat akan universalitas ajaran Yesus. Dia tidak ingin ajaran-Nya hanya terbatas pada sekat-sekat golongan yang membatasi tugas perutusan para murid. Yerusalem adalah tempat ajaran itu mengemuka di bumi. Samaria adalah suku yang dikucilkan oleh orang Yahudi. Ujung bumi, dengan konsep bumi bulat, menegaskan keseluruhan. Dalam kebulatan, semua adalah ujung.

Selama 3 tahun berkarya, Yesus berhadapan dengan berbagai kelompok masyarakat, baik Yahudi maupun non-Yahudi. Kelompok-kelompok Yahudi dengan pelbagai orientasi politik dan keagamaannya yang menjumpai Yesus adalah kaum Zelot, Sicarii, Herodian, Eseni, Farisi, Saduki, Proselit, para Ahli Taurat, para imam, dan rakyat jelata. Dari kelompok masyarakat non- Yahudi: orang Samaria, Persia, Yunani, Galilea, dan Kanaan. Dalam interaksi sosialnya, Yesus hadir dan berkarya di tengah-tengah semua kelompok itu.

Kaum Farisi, Ahli Taurat dan para imam sering muncul dalam Injil. Kaum Farisi (Ibrani: Parash) terkenal kegigihannya dalam menjaga hukum Taurat Musa dan jati diri sebagai orang Yahudi. Bagi mereka, menjadi rakyat Tuhan berarti harus taat ketat pada setiap detail hukum Taurat. Kehadiran Yesus adalah ancaman bagi mereka karena Yesus sering melakukan tindakan-tindakan yang menurut mereka berlawanan dengan hukum Taurat. Misalnya, Yesus menyembuhkan orang sakit kusta pada hari Sabat (Luk 13:10-17). Tindakan ini mengundang perlawanan kaum Farisi terhadap Yesus.

Injil mengabarkan bagaimana kaum Farisi beberapa kali ingin menjerat Yesus dengan dalil penodaan agama, perlawaan terhadap kaisar, dan penghinaan terhadap Allah. Rangkaian upaya “kriminalisasi” inilah yang nanti berujung pada penyaliban Yesus. Namun Yesus tidak bereaksi dengan dengan jalan memusuhi. Dia menerima undangan makan bersama dari Simon, seorang Farisi (Luk 7:36-50). Pada saat makan bersama, seorang perempuan berdosa datang dan mengelus kaki Yesus dengan minyak wangi. Kaum Farisi yang ada di rumah itu menyibir Yesus. Tetapi Yesus justru menunjukkan pengajarannya mengenai pengampunan dan belas kasih.  

Salah satu perjumpaan Yesus dengan orang non-Yahudi terjadi saat Dia dan murid-murid-Nya pergi ke Tirus-Sidon di wilayah Siro-Fenisia (Markus 7:24-30). Dalam perjalanan, seorang perempuan keturunan Yunani bangsa Siro-Fenisia datang menghadap Yesus. Dia datang dan tersungkur di depan kaki Yesus  memohon agar Yesus mau menyembuhkan putrinya yang kerasukan roh jahat. Markus mengisahkan bahwa Yesus mengabulkan permintaan perempuan itu. Dia menyembuhkan putri perempuan itu dari kejauhan tanpa harus pergi ke rumahnya.

Perjumpaan-perjumpaan Yesus dengan orang dari beragam latar belakang semakin meneguhkan bahwa ajaran dan diri Yesus bukan milik sekelompok orang. Kerajaan Allah yang ditawarkan-Nya tidak hanya bagi orang para murid, tetapi bagi semua orang tanpa terkecuali. Dia menghujat mentalitas orang Farisi, Ahli Taurat dan para imam, tetapi tetap mengasihi mereka sebagai subjek. Dia melepaskan diri dari sekat-sekat yang menyempitkan ruang gerak pewartaan-Nya.

Sikap-sikap Yesus terhadap orang-orang dari beragam suku itu mengisyaratkan inklusivitas Kekristenan untuk semua. Bila Kenaikan Yesus mengandung perintah untuk menyebarkan ajaran-Nya ke ujung bumi, maka ajaran inklusif itu itu adalah salah satunya. Hari Kenaikan Yesus dengan demikian dapat dimaknai sebagai perayaan agar ajaran dan warta gembira akan kehadiran-Nya tidak menjadi milik eksklusif satu suku bangsa tertentu, tetapi menjadi pemberi rahmat untuk semua manusia.

Subandri Simbolon adalah alumnus dan kini staf CRCS UGM.

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan