Peace Journalism and Conflict Resolution in Indonesia

Endi bayuniAgama mendapat perhatian lebih sejak tragedi 9/11. Media mulai menulis tema-tema seputar agama dan para wartawan mulai tertarik menulis “feature” kisah-kisah religius. Hampir setiap media massa menyediakan kolom khusus agama. Fenomena ini memberi kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi lebih banyak tentang isu agama melalui media. Media dan agama kemudian saling mempengaruhi. Namun, hubungan ini tidak selalu berjalan harmonis. Menyadari betapa pentingnya relasi agama dan media, CRCS-ICRS menghadirkan Endy M. Bayuni sebagai pembicara Wednesday Forum dengan topik “Religion and Media”, Rabu 22 Februari 2012 yang lalu. Bayuni yang saat ini menduduki posisi editor senior koran berbahasa Inggris terkemuka di Indonesia, Jakarta Post, memulai presentasinya dengan menyebutkan bahwa agama dan jurnalisme adalah dua bidang yang bisa bersatu tetapi juga berpotensi untuk saling bersaing. Bersatu karena sama-sama terlibat dalam pencarian kebenaran. Namun berselisih jalan dalam hal status kebenaran. Agama mengajarkan kebenaran yang final, sementara jurnalisme berpegang teguh dengan prinsip kebenaran sebagai proses. Oleh karena itu, agama disikapi sebagai “taken for granted”, sedangkan media terus-menerus melakukan verifikasi atas informasi yang dipublikasikannya. Fellow Nieman di Harvard University tahun 2003/2004 ini berkeyakinan, media merupakan cermin sebuah masyarakat. Media ingin menunjukkan wajah masyarakat lewat pemberitaan yang bersumber dari situasi faktual. Di Indonesia, kehidupan beragama terpolarisasi dalam sketsa beragam. Pemberitaan tentang kerukunan tentu tidak menimbulkan implikasi serius. Akan tetapi, posisi media serba dilematis ketika menyikapi ketegangan dan konflik antar komunitas agama. Kemampuan menghadirkan berita yang netral dan proporsional menjadi tantangan besar. Apakah mereka bisa menjadi peredam konflik atau malah provokatif? Bayuni yang pernah menjadi wartawan kantor berita Reuters dan Agence France Presse (AFP) ini mengatakan, ada perubahan signifikan dalam dunia jurnalistik Indonesia. Semasa Soeharto berkuasa, media dibelenggu dengan berbagai aturan yang membatasi keleluasaan dan independensi mereka untuk menyampaikan berita. Banyak yang memilih menjadi “anak baik” agar terbebas dari ancaman pembredelan. Sehingga kekerasan bermotif agama tidak begitu menyita perhatian masyarakat karena pemerintah “berhasil” untuk memeti-eskannya sebelum tersebar. Tetapi memasuki era Reformasi, media bebas menggiringkan opini masyarakat kemanapun mereka suka dengan justifikasi undang-undang kebebasan pers. Meski sudah terjadi kemajuan luar biasa, ternyata media khususnya yang sudah punya nama dan berkiprah cukup lama terlihat masih gamang memberitakan konflik dan kekerasan bermotif agama. Kehati-hatian seringkali membuat mereka bimbang dan ketakutan melakukan kesalahan pemberitaan. Di sisi lain, media-media berlabel agama tertentu secara serampangan memaparkan fakta-fakta memihak yang membuat solidaritas dan sensitifitas keagamaan semakin menguat. Menurut Bayuni, kedua varian di atas sama-sama mengundang masalah. Oleh karena itu, kelemahan tersebut harus diatasi dengan pemberian pembelajaran pluralisme dan multikulturalisme kepada para wartawan agar mereka bisa melepaskan diri dari sikap alergi dan ketidaktahuan terhadap persoalan agama serta kecenderungan tidak objektif dalam menyampaikan sesuatu karena sentimental pribadi. Selain itu, konsep “jurnalisme perdamaian” juga perlu diperkenalkan kepada komunitas media. Mereka harus menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari konflik. Kenapa hal ini penting? Bayuni mencontohkan, ketika konflik Ambon meletus, koran Kristen dan koran Islam saling berkontestasi sehingga permusuhan terus dipelihara. Padahal ketika melaporkan konflik agama, media punya tanggung jawab menggiring ke arah rekonsiliasi. Pada akhir presentasinya, alumni Kingstone University UK ini menyampaikan bahwa media-media di Indonesia membutuhkan masukan-masukan dari dunia akademis untuk pembenahan dan perbaikan kualitas pemberitaan khususnya reportase terkait isu-isu agama. (SAM)

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan