Melacak Diskontinuitas Sejarah Indonesia Lewat Peristiwa Seismik

“Banyak peristiwa seismik besar di Sumatera yang tak tercatat.” Poin inilah yang diangkat oleh Prof. Anthony Reid dalam kuliah umum “Rewriting (Sumatran) History in the Light of Seismology” pada hari Rabu, 13 Juli 2011. Forum istimewa ini disambut antusias oleh para akademisi baik dari dalam maupun luar negeri yang memenuhi ruang 306 CRCS-ICRS UGM.

 

Reid mengatakan bahwa wilayah pesisir barat Sumatera beberapa kali disapu tsunami. Hal ini berangkat dari data statistik kependudukan yang menunjukkan tren penurunan. Sayangnya, kerajaan-kerajaan Islam yang menguasai jalur perdagangan Sumatera seperti Samudera Pasai dan Perlak tidak meninggalkan catatan sejarah tentang kekuasaan Hindu-Budha yang berkuasa di daerah pesisir pantai sebelum mereka.

 

Oleh karena itu, Reid mengajak para arkeolog yang selama ini memokuskan diri di daerah tengah Sumatera untuk melakukan penggalian situs Hindu-Budha di wilayah pesisir. Sehingga para sejarawan bisa mengonstruksi kembali missing link sejarah Sumatera pra kolonialisasi Belanda yang masih menyimpan banyak misteri.

 

Keadaan yang sama terjadi di pulau Jawa. Guru Besar Sejarah lulusan Cambridge University ini menyatakan bahwa tak ada pemukiman di pesisir selatan Jawa sebelum kedatangan Belanda. Berbeda dengan kasus Sumatera yang sangat terkait dengan peristiwa Gempa dan Tsunami, sepinya pesisir pantai selatan Jawa lebih dipengaruhi oleh kisah sejarah berbau mitos, terkait perjanjian Panembahan Senopati, penguasa kerajaan Mataram Baru, dengan Nyai Roro Kidul, sang penguasa Laut Selatan.

 

Dalam sesi diskusi, salah satu peserta menyatakan bahwa faktor seismik bahari bukan satu-satunya penyebab minimnya populasi di pesisir. Dataran tinggi yang lebih dingin dan lebih subur membuat masyarakat yang berminat pada pertanian cenderung meninggalkan daerah pesisir. Menjawab persoalan ini, Reid mengatakan bahwa peristiwa seismik bahari memang bukan satu-satunya penyebab. Faktor represi kekuasaan dan perkembangan pembangunan turut mempengaruhi.

 

Diskusi juga menyinggung konsekuensi teologis dan etis dari bencana. Menurut beberapa orang bencana adalah akibat ulah manusia, namun pendiri Asia Research Institute ini cenderung melihat bencana dari sisi positif. Bencana adalah mekanisme dan konsekuensi geologis bumi yang terus bergerak menuju titik keseimbangan. Di sisi etis, masyarakat mulai tersadarkan untuk memberikan perhatian dan menghentikan tindakan eksploitatif berlebihan terhadap alam.

 

Dr. Nasir Tamara yang turut menghadiri kuliah umum ini menyinggung Syair Lampung Karam dan nyanyian tentang smong (tsunami) di pulau Simeulue yang bisa membantu mengungkap fakta sejarah Sumatera. “Naskah-naskah kuno itu menarik untuk diteliti”, ungkap doktor lulusan University of Paris ini. Di akhir presentasi, Reid menyatakan kegembiraannya, apabila para akademisi di Indonesia melakukan penelitian lebih lanjut mengenai peristiwa seismik dan hubungannya dengan perubahan masyarakat. [MoU]

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan