Bukit Kasih (Indahnya Multireligiusitas)

Seorang antropolog Jerman dengan spesialisasi kajian Asia Tenggara, Dr. Judith Schlehe, hadir sebagai pembicara dalam Wednesday Forum CRCS-ICRS 13 April 2011. Profesor dari Universitas Freiburg, Jerman, ini menyampaikan presentasinya yang berjudul ‘Bukit Kasih, the Hill of Love: Multireligiosity for Pleasure’. Presentasi ini merupakan studi lapangan atas objek wisata Bukit Kasih di Sulawesi Utara yang berkonsep wisata antar agama, ditandai dengan rumah-rumah ibadah dari agama berbeda.

 

Bukit Kasih terletak di Desa Kanonang, Kecamatan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara. Dari Manado, ibukota provinsi, berjarak  sekitar limapuluh kilometer ke arah selatan. Lokasinya merupakan daerah perbukitan yang menurut kepercayaan leluhur masyarakat lokal adalah tempat suci. Pertama kali dinamai Bukit Do’a di tahun 1999, kemudian di tahun 2004 rumah ibadah lima agama resmi Indonesia dibangun sehingga tempat ini memiliki nama baru Bukit Kasih.

 

Gagasan Bukit Kasih adalah pencanangan simbol kerukunan beragama saat pada pergantian dua millenium konflik agama marak di Indonesia. Namun Schele menyebutkan di tempat itu bahwa suasana pariwisata lebih terasa daripada suasana antar-agama. Pengunjung hanya memasuki tempat ibadah agama masing-masing tanpa ketertarikan dengan rumah ibadah agama lain. Baginya gagasan antar-agama tak nampak lagi, bahkan masyarakat sekitar melihat keberadaan tempat itu dari segi bisnis.

 

Di tempat ini pula terdapat makam mantan gubernur Sulawesi Utara, A. J. Sondakh. Menurut Schlehe, hal ini menunjukkan adanya nuansa politik dan kuasa di balik berdirinya lokasi wisata ini. Namun di luar kegagalan representasi antar-agama, Schlehe menekankan tentang bagaimana agama sesungguhnya bisa direproduksi dalam logika popular. Fakta bahwa substansi keagamaan dapat muncul dalam beragam suasana dan situasi melawan teori sekularisasi ini bertentangan dengan teori sekularisasi.

 

Setelah presentasi, sesi dibuka untuk pertanyaan dan pendapat. Diskusi menyinggung isu hubungan antropologi dengan dialog antar agama saat Schlehe menjelaskan bahwa dia sebagai antropolog hanya memberikan saran ke dalam area dialog antar-agama. Ini mengingat bahwa konfik keagamaan memang benar-benar ada sehingga sarjana ilmu sosial punya semacam tanggung jawab terhadap area dialog antar-agama tersebut.

 

Salah seorang peserta diskusi berkomentar bahwa kegagalan fungsi antar agama justru disebabkan oleh identifikasi kekuasaan pada Bukit Kasih. Schlehe tak menyanggah komentar itu dan ia menambahkan bahwa Bukit kasih lebih merupakan perayaan atas keberagaman namun tak sepenuhnya mampu mendorong dialog. Ia sukses sebagai objek ziarah agama-agama satu per satu bukan namun tidak secara keseluruhan. Ziarah adalah wisata itu sendiri sebagaimana disebut Victor Turner and Edith Turner.

 

Forum juga menyebut bahwa Bukit Kasih lebih didominasi oleh simbolis-simbol Kristen. Satu asumsi adalah bahwa ia bukan simbol antar-agama namun hanya dominasi Kristen dalam wilayah multirelijius yang bebas konflik. Schlehe juga mempertanyakan tidak adanya simbol Konghucu yang faktanya telah dilegalkan di Indonesia sejak 2002. Namun bagaimanapun, masih ada celah potensi dalam kasus Bukit Kasih yang bisa dimaksimalkan demi gagasan keberagaman agama dan dialog antar agama. [MoU]

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan