Muslim Amerika di Tengah Keragaman dan Demokrasi

Wednesday Forum CRCS-ICRS pekan pertama di bulan April (6 April 2011) menampilkan Abdul Hamid Robinson-Royal. Membawakan judul ‘Islam in America, from Hajj to Hip Hop and from Roots to Rap’ mahasiswa doktoral di Graduate Theological Union, Berkeley, California USA, yang sedang mengambil program fellowship di ICRS Yogyakarta ini menyampaikan presentasi seputar muslim di Amerika Serikat beserta sejarah dan identitasnya.

 

Abdul Hamid yang juga seorang musisi dan memiliki gelar master di bidang musik menggunakan istilah a ‘hip hop’ dan ‘rap’ untuk menunjukkan sejauhmana komunitas muslim Amerika Serikat berkembang seiring perkembangan historis. Namun lagi-lagi isu identitas tetap menjadi perhatian sehingga Abdul Hamid mesti membuka presentasinya dengan pembahasan ilmiah mengenai istilah-istilah semisal ‘indigenous’, ‘authentic’, ‘pluralism’, authority, ‘panoptic’, ‘decolonial’ sebagai pengganti ‘post-colonial’ dan juga ‘double consciousnes’ sebagai ganti ‘double colonization’.

 

Istilah-istilah tersebut adalah kunci untuk memahami kehidupan muslim Amerika Serikat yang eksistensinya tak terpisahkan dari isu perbudakan dan imigrasi. Di sela-sela presentasi, Abdul Hamid menayangkan film yang menggambarkan sejarah Islam, kemunculan Islam di Amerika dan perkembangannya hingga saat ini. Dia juga menampilkan kumpulan gambar yang menampilkan keberagaman Islam di Amerika Serikat beserta beragam aktivitas yang dilakukan muslim Amerika.

 

Pasca 9/11, keberadaan Islam dipertanyakan dan muslim di seluruh dunia menjadi pusat perhatian. Namun keadaan ini menurut Abdul Hamid tidak benar-benar menjadi ancaman bagi muslim Amerika dalam menjalankan agamanya. Bahkan fakta menunjukkan bahwa Islam di Amerika berkembang pesat pasca 9/11. Terjadi gelombang muallaf yang berasal dari beragam latar belakang spiritual, termasuk Abdul Hamid yang sebelumya penganut Kristen Pantekosta.

 

Forum yang dimoderatori Kelli Swazey ini, berlanjut dengan sesi dialog. Pertanyaan pertama terkait fenomena komedi pop di kalangan muslim Afro-Amerika. Abdul Hamid menyatakan, memang benar jika orang muslim humoris. Ini adalah bentuk kreativitas muslim yang tak jauh berbeda dengan fenomena musik Islam di mana hip hop and rap adalah bagian erat dari padanya. Abdul Hamid menceritakan bahwa para musisi Ahmadiyah adalah bagian dari blantika Jazz Amerika di tahun 1950-an.

 

Abdul Hamid lalu menjawab pertanyaan lain tentang ambiguitas persepsi muslim Amerika sebagai kaum minoritas. Pertanyaan ini menyinggung bahwa status minoritas dan keberagamaan justru menjadi penjaga demokrasi dalam masyarakat muslim Amerika. Bagi Abdul Hamid menjadi minority bukanlah masalah besar mengingat muslim Amerika terus berkembang. Salah satu di antara peserta diskusi mengkritik film yang lebih terasa sebagai propaganda bukan sebagai film documenter akademis. Abdul Hamid ditanya, apakah ada konflik di antara kelompok berbeda dalam masyarakat muslim Amerika. Ia menjawab bahwa sejauh yang ia amati tak ada konflik besar antara kelompok-kelompok itu. Bahkan di sebuah masjid di Amerika, seorang imam dari mazhab tertentu bisa mengimami jamaah yang terdiri dari orang-orang yang menganut mazhab berbeda, “We are Muslims and that is the important thing.” [MoU]

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan