Konsep Proses Belajar Dalam Timbangan Sains Dan Islam

Untuk kedua kalinya utusan dari Universitas Malaya Kuala Lumpur ambil bagian dalam presentasi diskusi diskusi khas CRCS/ICRS “Wednesday Forum”. Jika sebelumnya tema yang diangkat oleh utusan universitas tersebut adalah seputar permasalahan tidur, kali ini tema yang diangkat dalam Wednesday Forum edisi 20 oktober 2010 adalah seputar permasalahan konsep ganjaran dan hukuman dalam sistem pendidikan.

Mohamad Khairudin Bajuri, mahasiswa Filsafat Pascasarjana Universitas Malaya, mengetengahkan judul “Use of Reinforcement in Learning: Content Analysis from Behavioral Science and Islamic Perspectives.” Melalui presentasi ini Bajuri menyampaikan hasil riset yang ia lakukan di beberapa lembaga pendidikan Islam di Malaysia. Riset ini telah diawali sebelumnya dengan kajian pustaka baik dari literatur sains utamanya psikologi maupun dari literatur Islam.

Menurut Bajuri, proses belajar adalah elemen inheren dalam ajaran Islam. Ia menukil beberapa ayat Al Quran dan narasi Hadits yang menjelaskan tentang proses belajar. Kemudian ia menunjukkan konsep pembelajaran aplikatif yang digunakan oleh Nabi Muhammad juga beberapa sarjana Muslim. Di sisi lain, ia memilih konsep proses belajar yang dirumuskan oleh beberapa sarjana psikologi aliran Behaviorisme.

Apa yang lalu didapat Bajuri adalah adanya konsep ganjaran dan hukuman yang menduduki posisi penting dalam proses belajar baik menurut perspektif sains maupun perspektif Islam. Kecocokan dalam tataran konsep ini kemudian dipadukan dengan analisa terhadap hasil riset lapangan. Ia pun berlanjut pada kesimpulan tentang adanya kesamaan antara konsep Islam dan konsep sains yang mendukung pengembangan proses belajar.

Dalam sesi tanya-jawab, Dr. Mark Woodward, pengajar tamu di ICRS dan CRCS, mengkritisi penggunaan istilah perspektif Islam dalam presentasi tersebut. Baginya, isu proses belajar dalam Islam memiliki spektrum sangat luas yang tak bisa direduksi begitu saja menjadi sebuah perspektif yang homogen.

Beberapa peserta diskusi turut mengkritisi metodologi yang digunakan dalam riset. Pemilihan paradigma Behaviorisme yang digunakan dalam riset dipertanyakan karena Behaviorisme sendiri bukan lagi menjadi tren utama dalam Psikologi. Sementara itu para peserta yang lain menyarankan agar deskripsi riset dikerucutkan kembali dengan menyertakan data lokasi riset secara spesifik, jika perlu, disebutkan dalam judul presentasi.

Dalam penutup sesi yang berlangsung selama satu jam ini penyaji presentasi mengucapkan terima kasih atas segenap kritik yang diajukan peserta diskusi. Menurutnya kritik tersebut akan dijadikan sebagai pertimbangan atas revisi hasil riset sebelum dipublikasikan. Dan karena waktu singgah di Indonesia bagi dua utusan Universitas Malaya ini tinggal sebentar, mereka berdua mengucapkan selamat tinggal dan menyampaikan terimakasih kepada pihak CRCS dan ICRS atas bantuan dan kerja sama selama ini. Moderator Nyong Eka Teguh Imam Santoso dari ICRS pun menutup Wednesday Forum edisi ini. [MoU]

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan