Bunuh Diri Sebagai Fenomena Multidimensi

wedforumSalah satu fenomena masyarakat yang masih layak dikaji secara komprehensif adalah persoalan bunuh diri. Frekuensi kasus bunuh diri relatif tinggi dan berkait erat dengan berbagai aspek kehidupan manusia. Mengatasi persoalan ini, dengan demikian, harus diawali dengan kajian menyeluruh yang melibatkan metodologi interdisipliner. Demikianlah yang disampaikan Dicky Sofjan, Ph.D. dalam presentasinya di Wednesday Forum CRCS-ICRS pada Rabu 27 oktober 2010 lalu.

Mengangkat judul “Suicide and Social Disintegration: Where’s the (Dis)-Connection?” Sofjan, Regional Project Manager di lembaga Asian Public Intellectuals (API), mengawali presentasinya dengan deskripsi intensitas bunuh diri di seluruh penjuru dunia. Motif serta tipe bunuh diri yang sedemikian beragam juga ia paparkan. Secara khusus ia kemudian membahas seputar angka bunuh diri yang cukup tinggi di wilayah Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Terkait dengan tema integrasi sosial, Sofjan mencoba menguraikan fenomena bunuh diri menggunakan teorinya Émile Durkheim, Johnson, B. D. serta Ted Robert Gurr. Alienasi, agresi, frustrasi, dan disintegrasi adalah persoalan-persoalan kunci yang berada di sekitar fenomena bunuh diri. Fakta menarik dari teori Gurr yang dipaparkan Sofjan adalah apabila integrasi sosial menjadi tinggi, angka bunuh diri juga bisa menjadi semakin tinggi. Angka bunuh diri justru mencapai titik terendah pada saat angka integrasi sosial seimbang.

Tentang Islam, Sofjan menyebut bahwa bunuh diri di kalangan penganut agama ini adalah persoalan tersendiri. Dalam survey bunuh diri di dunia, sulit didapatkan angka pasti di negara-negara Muslim, karena bunuh diri belum bisa dikaji secara terbuka. Sikap Islam terhadap bunuh diri pun masih mengandung ambiguitas dan terhadap persoalan ini masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut secara mendalam.
Presentasi yang dimulai pada pukul 13.00 ini berlangsung selama empat puluh lima menit, dilanjutkan dengan sesi komentar dan tanya jawab. Para peserta forum yang memenuhi Ruang 306 Gedung Sekolah Pascasarjana UGM lantai tiga itu kemudian terlibat aktif dalam diskusi yang berlangsung seru. Beberapa peserta mendiskusikan bagaimana korelasi sikap pasrah dalam tradisi Jawa dengan tingginya angka bunuh diri di Gunungkudul. Sementara itu peserta lain terlibat diskusi dengan pembicara terutama tentang persoalan metodologi.

Diskusi sempat pula menyinggung kasus meninggalnya tokoh fenomenal Mbah Maridjan dalam bencana meletusnya Gunung Merapi pada sore hari sebelumnya. Seorang peserta diskusi membahas sikap sang penjaga Gunung Merapi ini yang tetap tinggal di rumahnya meski letusan gunung telah diprediksikan pihak berwenang. Bagi Sofjan, kematian Mbah Maridjan ini dapat dikategorikan sebagai altruistic suicide, bukan disebabkan oleh alienasi sosial namun justru karena tingkat integrasi sosial yang begitu tinggi.

Pada penutup diskusi, Sofjan yang juga konsultan di UNDP serta pendiri sekaligus direktur lembaga INA Frontier ini menekankan bahwa persoalan bunuh diri mesti disikapi secara bijaksana. Perlu pendekatan dari beragam dimensi, tak hanya psikologi, namun juga dimensi sosial hingga biologi. Usaha menekan angka bunuh diri dengan menggunakan argumen teologi belum juga berdampak signifikan. Lebih dari itu seluruh elemen masyarakat mesti proaktif mengambil bagian dalam pemecahan persoalan ini. [MoU]

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan