“Tidur” dalam Wilayah Agama dan Sains

Tidur bisa menjadi persoalan aktivitas manusia yang sepele, namun bisa juga menjadi pembahasan ilmiah yang menarik. Begitulah yang terjadi dalam “Wednesday Forum” diskusi mingguan khas CRCS/ICRS UGM edisi Rabu 29 September 2010 lalu. Pembahasan tidur menjadi tema utama diskusi, disampaikan oleh presentator tamu dari Universitas Malaya Kuala Lumpur. Lebih spesifiknya tema yang diangkat adalah “Tidur Menurut Perspektif Neuroscience dan Perspektif Islam; Studi Kasus Muslim  dalam Sistem Pendidikan Malaysia”.

Mohd Amzari Tumiran, mahasiswa Sekolah Pascasarjana Universitas Malaya, mempresentasikan hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaga penelitian mahasiswa Universitas Malaya Neuroscience Research Group (NSG) di mana Tumiran bergabung. Penelitian ini bermula dari inisiatif beberapa pengajar dari beberapa disiplin berbeda.

Penelitian dilakukan dengan metode analisa konten serta survey. Objek risetnya 24 sekolah menengah berbasis asrama di wilayah Kuala Lumpur, Selangor, dan Negeri Sembilan. Dimulai dengan elaborasi tema tidur dalam literatur sains dan Islam, penelitian berlanjut pada kuesioner tentang seluk beluk tidur di kalangan pembimbing dan murid di dalam asrama. Kemudian temuan dalam penelitian lapangan tersebut dijadikan acuan studi komparasi.

Diskusi berlangsung seru bersama moderator Ahmed Saber dari ICRS. Saber sendiri membuka diskusi dengan menukil beberapa ayat dari Al-Quran yang mengandung tema seputar tidur. Beberapa peserta diskusi mempersoalkan metode penelitian yang seolah bertujuan memaparkan seacara apologetik tentang tidur dalam perspektif Islam, sementara perspektif sains hanya digunakan sebagai alat pembenar saja.

Tumiran kemudian menjawab ‘tuduhan’ Islamisasi sains ini dengan mengungkapkan argumen keselarasan antara Islam dengan sains. Meskipun pemaparan tersebut tak terlalu memuaskan audiens, namun tak membuat diskusi menjadi kurang menarik. Beberapa peserta diskusi terlibat aktif dalam tanya jawab meskipun nampak seperti konsultasi kesehatan seputar permasalahan tidur.

Pada akhir forum, Tumiran menyampaikan terima kasih atas beberapa kritik yang diajukan oleh beberapa peserta diskusi. Ia pun menyampaikan terima kasih kepada moderator yang membantu menerjemahkan bahasa Inggris yang ia akui belum terlalu dikuasai. Baginya hal itu teramat penting bagi kelanjutan hasil penelitian yang akan dipublikasikan oleh Universitas Malaya.

Tumiran adalah dikirim ke Indonesia oleh universitasnya ditemani oleh Khairuddin, anggota NSG untuk tinggal satu bulan di Yogyakarta. Menurut rencana, selain mempresentasikan hasil penelitian di beberapa perguruan tinggi, dua mahasiswa ini juga akan melakukan penelitian di beberapa pesantren. [MoU]

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan