Laki-laki dan Perempuan Menyoal Agama

 

Rabu 22 September 2010 lalu,  CRCS – ICRS UGM kedatangan seorang tamu akademisi bidang Religious Studies dari Belanda. Tepatnya di ajang mingguan bertajuk “Wednesday Forum”,  Dr. G.M. Speelman, pengajar dan peneliti bidang Religious Studies dan Keislaman di Protestant Theological University (PThU), Negeri Belanda, hadir untuk menjadi pembicara diskusi. Tema yang  diangkat pada siang hari itu oleh sarjana perempuan ini adalah “Laki-laki dan Perempuan dalam Dialog Antaragama”.

Sekitar pukul 13.00 diskusi dibuka oleh moderator Leonard C. Epafras, S.Si, M.Th, mahasiswa ICRS, setelah sebelumnya forum diawali dengan makan siang bersama. Melalui paparannya Speelman menjelaskan bahwa tema yang ia bawakan bermula dari sebuah penelitian yang telah ia lakukan di negerinya tentang relasi laki-laki perempuan dalam dialog antaragama. Hasil penelitian tersebut menurut rencana hendak dipublikasikan dalam sebuah jurnal internasional. Dan melalui forum ini beberapa poin dari penelitian hendak didiskusikan sebelum disusun menuju tulisan jurnal.

Penelitian dilakukan baru-baru ini dalam komunitas Islam – Kristen di sekitar kota Utrecht, melibatkan para pemeluk agama baik pribumi maupun imigran. Melalui metode participant observation Speelman membagi dua kelompok dialog, model pertama berupa forum heterogen baik laki-laki dan perempuan dari dua agama, model kedua berupa forum khusus perempuan yang melibatkan dua organisasi perempuan, Al Nisa mewakili Islam dan VIO mewakili Kristen.

Speelman memulai penelitian dengan beberapa proposisi psikologis tentang perbedaan laki-laki dan perempuan. Dan dari perbedaan ini Speelman berusaha menuju kepada bagaimana sistem komunikasi kemudian nampak dalam pembicaraan bertema agama. Dan menurut amatan Speelman, dalam model pertama perempuan lebih nampak pasif dan diskusi lebih didominasi oleh laki-laki. Sementara dalam model kedua yang homogen, perempuan mampu aktif namun pembicaraan menjadi potensial terhadap konflik karena perempuan cenderung mengaitkan sebuah tema kepada “perasaan” sehari-hari bukan pada formasi ide-ide yang bersifat abstrak.

Dan pada akhir paparan, Speelman menyuguhkan simpulan tentang ada atau tidaknya perbedaan sistem komunikasi laki-laki dan perempuan dalam dialog interrelijius. Baginya perbedaan itu benar adanya bukan dalam tataran epistemik, namun lebih terkait dengan hasil dari sistem dialog yang digunakan. Laki-laki dan perempuan akan mampu menuju kesetaraan dalam dialog ketika dialog itu sendiri dirancang sedemikian rupa sehingga mengakomodasi kondisi masing-masing.

Paparan sekitar satu jam itu kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi di mana beberapa peserta forum terutama perempuan begitu antusias. Dan salah satu komentar yang menarik muncul dari Prof. Dr. Bernard T. Adeney-Risakotta, dariICRS UGM. Berny mengingatkan agar harus selalu ada kehati-hatian dalam menggunakan proposisi perbedaan-perbedaan psikologis antara laki-laki dan perempuan yang telah menjadi common sense. Perlu amatan lebih mendalam semisal dalam kasus dialog homogen perempuan yang lebih rawan konflik padahal proposisi yang digunakan adalah bawa perempuan lebih menghindari konflik dalam sebuah pembicaraan.

Diskusi berakhir pada sekitar pukul 14.30, namun beberapa peserta diskusi perempuan nampak bersemangat untuk terus berdiskusi secara informal dengan pembicara. Dan menurut Speelman, ia akan berada di Indonesia untuk beberapa bulan ke depan sebagai utusan perguruan tingginya, memberikan kuliah-kuliah bertema sama di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. [MoU]

 

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan