“Hubungan Antar Agama di Tamilnadu,” Valliamal Baskaran

Pada tanggal 28 April 2010, pembicara dalam forum mingguan CRCS-ICRS, Wednesday Forum, adalah Dr M. Valliammal Baskaran yang berbicara tentang “Hubungan Antar Agama Kuno Tamilnadu” Sedangkan Maufur Ipung, koordinator akademik ICRS, bertindak sebagai moderator.

Sebelum melanjutkan ke inti presentasinya, Valiammal menunjukkan peta India pertama untuk menunjukkan wilayah Tamilnadu kepada para audiens. Menurutnya, selama umur Sangam (300 SM – 300 M), ada tiga agama inti di sana: agama Veda, agama Adat, dan agama Shramanic – yang mengacu kepada Jainisme, Buddhisme, dan lain-lain. Valiammal mengatakan bahwa selama masa tersebut tiga agama utama ini eksis hingga akhir Zaman Sangam.

Valiammal melanjutkan bahwa tidak ada konflik antara mereka dan tidak ada bukti konflik pada masing-masing pemeluk agama. Untuk mendukung penelitiannya, Valiammal menunjukkan alasan mengapa tidak ada konflik agama di Era Sangam. Masyarakat cukup akomodatif, mereka mempunyai visi besar “every village as their village and every people as their relative/kin person,” mereka juga masih memiliki tradisi eklektik, misalnya Tirukkural, Silappadikaram, Manimekalai. Raja juga membangun kuil untuk dewa-dewa yang berbeda dan dilindungi.

Selama periode ini, raja-raja sendiri mempromosikan hubungan antar-agama, mereka mendorong perdebatan yang sehat dan diskusi di antara para pengikut agama yang berbeda dan mendorong mereka untuk menghormati prosedur yang harus diikuti dalam debat di ruang publik. Mereka juga menyarankan untuk menghindari segala bentuk konflik, kemarahan, bahkan dengan musuh untuk tidak berkonfrontasi dalam menanggapi perbedaan pendapat dan pandangan. Perbedaan doktrinal di antara orang-orang diperlakukan dengan saling menghormati.

Valiammal mengatakan bahwa penyebab konflik agama adalah perbedaan doktrinal, klaim terhadap kebenaran absolut, semangat misionaris dan upaya penyebaran agama (yang dilakukan secara terorganisir oleh orang-orang Saivite dan pemimpin Vaisnava), ketakutan terhadap pola misionaris dari luar dan rasa tidak aman, kesalahpahaman, prasangka, dan stereotip, faktor ekonomi dan politik (kompetisi untuk memenangkan patronase kerajaan), dan institusionalisasi agama Hindu.

Valiammal melanjutkan presentasinya pada perubahan yang terjadi setelah tahun 800 setelah masehi. Jainisme secara bertahap mulai untuk muncul kembali, patung Jainisme kembali dipugar dan kuil dibangun. Orang-orang dan badan-badan pemerintah lokal melakukan inisiatif dalam mengawali pembangunan ini dan kemudian raja juga memberikan sumbangan secara bebas untuk candi Jainisme, tapi pembangunan tersebut tidak terjadi dalam kasus agama Buddha kecuali mereka hanya diberi subsidi yang sangat kecil.

Selama forum terbuka, seolah-olah audiens terpesona, enggan untuk mengangkat tangan mengajukan pertanyaan. Namun setelah sedikit persuasi dari moderator, beberapa tangan terangkat. Pembicara menjawab pertanyaan dengan baik dan mendapat respon positif dari peserta. Forum ini berakhir tepat pukul 14:30 dengan putaran tepukan hangat untuk Valiammal. Dr M. Valliammal Baskaran adalah profesor Departemen Sejarah di Lady Doak College di Madurai, Tamilnadu, India. Beliau saat ini tinggal di Yogya sebagai fellow di ICRS-Yogya.

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan