Respons Masyarakat Marapu terhadap Alam dan Bencana

Dalam Wednesday Forum yang dihelat pada tanggal 10 Maret 2010, Jimmy Marcos Immanuel, mahasiswa CRCS, mempresentasikan sebagian hasil penelitian lapangannya yang bertema Marapu dan Bencana Alam di Sumba Timur. Meskipun jumlah pesertanya sedikit karena bersamaan dengan adanya workshop yang dihelat di lantai lima gedung sekolah pascasarjana di mana beberapa mahasiswa CRCS hadir, forum tetap berjalan dengan lancar.

Melalui tema “Merapu, Alam dan Bencana Alam, Jimmy mempresentasikan penelitiannya dalam tiga bagian. Pertama, dia menunjukkan lokasi Sumba dengan peta dan sejarah singkat lokasi. Kedua, dia menjelaskan sekilas pemandangan kehidupan masa lalu dan masa sekarang orang-orang Marapu dan tentang kosmologi orang-orang Marapu. Ketiga, dia mempresentasikan konsep dan perilaku orang-orang Marapu dengan penghormatannya terhadap masalah-masalah ekologi yang dibandingkan dengan kebijakan pemerintah dan definisi pada sarjana tentang bencana alam.

Menurutnya, orang-orang Marapu mempertimbangkan masalah-masalh ekologi atau bencana alam sebagai “hukuman/azab� dari Marapu (jiwa moyang mereka). Bahwa bencana apapun yang menimpa, mereka menerimanya dengan pasrah. Mereka memandangnya sebagai azab Marapu karena mereka telah melakukan suatu kesalahan. Meskipun demikian, mereka juga mencoba menenangkan Marapu dengan memegang beberapa hamayangu (ritual) yang mensyaratkan korban binatang dan beberapa aktivitas budaya. Orang-orang Marapu, lanjut Jimmy, melihat masalah ekologi berkenaan dengan persoalan mereka, hal yang paling serius dari persoalan serius lain dalam kehidupan mereka. Mereka mempertimbangkan kelaparan sebagai masalah paling serius dan bencana alam seperti gempa bumi sebagai masalah yang tak serius.

Dua bencana alam yang mereka alami yang dalam pandangan keagamaan berhubungan dengan Kristen adalah belalang dan perjangkitan katak besar. Mereka mengatakan bahwa ketika keduanya terjadi, tak hanya Marapu mereka yang marah padanya, tapi juga Tuhan Kristen, layaknya mereka dikirimi (ditimpa) hama seperti pada waktu Musa ketika Firaun menolak untuk mengirim Israel keluar dari Mesir. Mereka merespons demikian karena ajaran-ajaran sangat popular dalam masyarakat mereka.

Meskipun begitu, ketika bumi bergerak yang mengakibatkan gempa bumi, mereka menjelaskan bahwa ketika itu terjadi, seekor tikus sedang memakan batang pohon kosmologi. Untuk menghentikan gempa, mereka berteriak “yangga…yanggaâ€? yang berarti “ada orang di siniâ€?. Sebagai sebuah gambaran, orang Marapu membuat penjelasan kosmologi mereka melalui seekor kucing dan tikus ada di bawah pohon tersebut. Tikus adalah yang memakan batang pohon ketika kucing menyarankan tikus untuk berhenti mengunyah.

Konstruksi berbeda terkait bencana alam adalah bahwa orang-orang Marapu telah menghasilkan konsekuensi atas hal itu. Bagi orang Marapu, tidak ada istilah tunggal yang mengarah pada bencana alam, tetapi mereka memiliki “happa, hippu, ngangu hippu�, yang berarti “merusak aturan Marapu�. Ketika masalah ekologi terjadi, atau bencana alam dalam istilah orang luar, mereka bukanlah korban atau orang yang selamat, melainkan orang yang terhukum. Mereka seharusnya melakukan ritual untuk meminta maaf pada Marapu untuk menyeimbangkan hubungan antara Marapu, manusia, dan alam (triangle relation).

Setelah presentasi yang menarik itu, pertanyaan-pertanyaan dilemparkan pada pembicara. Pertanyaan paling menarik datang dari Pardomuan Sihombing, seorang pendeta di salah satu gereja di Jawa Tengah, yang menanyakan apa yang telah pemerintah lakukan untuk orang-orang Marapu tersebut. Pertanyaan lain datang dari Mark Woodward yang menanyakan di mana posisi nenek moyangnya dalam kosmologi mereka. Acara berakhir pada jam 2.30 siang yang disertai tepuk tangan meriah dari penyaji dan peserta.

Jimmy M. Immanuel, yang akrab dipanggil Jimmy, adalah mahasiswa CRCS. Dia adalah mahasiswa pertama dari angkatannya untuk berbicara dalam forum prestisius yang dihelat setiap Rabu. Topiknya merupakan bagian dari tesis MA yang juga akan dibawa ke Singapura untuk beasiswa Asia Research Institute.

(JMI)

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan