“Konflik dan Dialog antar-Iman di Tanah yang Dijanjikan”

Wednesday Forum yang diadakan pada tanggal 13 Maret, 2010, dipresentasikan oleh Mucha-Shim Q. Alquiza, seorang mahasiswi ICRS. Ia mendiskusikan tentang masyarakat di wilayah Filipina Selatan yang berkaitan dengan isu dialog lintas iman. Dalam forum kali ini Dian Maya Safitri, seorang mahasiswi CRCS menjadi moderator.

Judul yang dipilihnya adalah “From Mission to Transformation: Dialogic encounter of peoples of faith in the bleeding Promised Land.”? Alquiza mempresentasikan hasil penelitiannya dalam tiga bagian. Pertama, ia menunjukkan metodologi yang digunakannya dalam penelitiannya, dengan pendekatan teori kuasa pengetahuan Foucault dan sistem pemerintahan. Kedua, ia mengajak para audiens membahas wilayah Filipina Selatan dengan bantuan peta yang menunjukkan di mana orang-orang Moro berada dan tanah-tanah mereka yang ditempati oleh Negara pada saat ini. Alquiza juga membahas sejarah orang-orang Moro dan populasi mereka sejak adanya sensus pertama kali pada tahun 2000 dan menunjukkan turunnya angka populasi mereka. Pada bagian ketiga, Alquiza mempresentasikan sejarah dialog antar iman dalam pertemuan antara orang-orang di Mindanao dan Sulu.

Alquiza mengatakan bahwa dialog antar iman di Mindanao dan Sulu telah menjadi sebuah gerakan sosial yang paling alot dalam menegakkan keadilan dan perdamaian. Selama rentang waktu sekitar 30 tahun, 1970-2000, merupakan sebuah periode yang dianggap sebagai hasil paling positif dalam pertemuan dan dialog antar iman. Alquiza menambahkan bahwa dalam dialog ini kemudian ide untuk mendamaikan berbagai gerakan di Filipina selatan (seperti antara GRP dan MNLF, GRP dan MILF) kesemuanya gagal, tetapi menunjukkan bahwa bangsa Mindanao-Sulu adalah masyarakat yang multi-kultural dan multi-religius.

Menurut Alquiza, masyarakat Mindanao-Sulu secara bersama-sama tinggal di tanah yang dijanjikan, sekaligus tinggal di wilayah yang penuh dengan pertumpahan darah. Alquiza mengakhiri presentasinya dengan menyatakan bahwa konflik di Mindanao bukanlah permasalahan agama sebagaimana dipercayai oleh masyarakat luar, namun lebih kepada permasalahan tanah dan kekuasaan.

Setelah presentasi yang menarik ini, beberapa pertanyaan merespons balik terhadap presentasi Alquiza. Prof. Dr. Bernard T Adeney-Risakotta meminta padanya untuk menjelaskan perbedaan antara organisasi MNLF dan MILF, dan apakah MNLF masih ada hingga sekarang, dan mengapa Alquiza menggunakan pendekatan ideologi neo liberal dalam presentasinya. Pertanyaan lain datang dari Maufur, staf ICRS yang secara kontroversial bertanya apakah benar bahwa Mindanao adalah wilayah pelatihan untuk tentara-tentara Islam yang akan dikirim ke wilayah Asia Bagian Barat seperti Afganistan dan Pakistan.

Forum ini berakhir pada pukul 14:30 sebagaimana biasanya. Pembicara mendapatkan aplaus hangat dari audiens. Mucha-Shim Q. Alquiza adalah presenter kedua dalam forum ini yang membincangkan situasi di wilayah Filipina Selatan.

(HAK)

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan