Jender Queer dalam Perspektif Agama

Wednesday Forum pada tanggal 3 Maret, 2010 diberikan oleh Maesur Zaky dari PKBI (Pusat Keluarga Berencana Indonesia), Yogyakarta. Dalam forum ini, Maria Ingrid Nabubhoga, ICRS, menjadi moderator. Dalam presentasi ini, Zaky membangun argument bahwa agama sering ditempatkan dalam sistem yang dikotomis. Akibatnya, hampir semua pendekatan dalam kehidupan hanya terbagi dalam dua kategori: salah-benar, hitam-putih, kanan-kiri, dan kategorisasi lainnya yang bersifat mendua. Di antara kehidupan lainnya, seksualitas dan jender adalah fenomena yang seringkali secara tersurat dikategorikan dalam oposisi biner.

Dalam presentasinya, Zaky mencoba untuk membongkar model-model oposisi biner ini yang telah digunakan secara umum di banyak tradisi keagamaan, khususnya ketika melihat hubungan antara ruang jender dengan isu-isu seksualitas. Dengan mengungkapkan beberapa fakta pada fenomena transjender dalam tradisi-tradisi keagamaan di dunia ini, presentasi ini akan mencari bagaimana agama dapat memberikan sebuah situasi yang lebih akomodatif dan ramah dalam berhadapan dengan isu-isu pluralitas, jender identity dalam praktik-praktik keagamaannya. Pendekatan studi jender dari perspektif identitas, bukan hanya berperan penting, namun juga menawarkan alternatif perspektif dalam bernegosiasi dengan penafsiran-penafsiran teks-teks sakral keagamaan khususnya mengenai orientasi seksualitas. Diskusi dalam presentasi ini cukup bagus dalam memberikan model inspirasi dalam melihat teks-teks religius yang terbuka kemungkinan juga berprespektif queer (homoseksual, transjender, dan transexual). Sehingga teks-teks suci keagamaan bisa menjadi salah satu sumber dari jender pluralisme.

Dalam sesi tanya jawab, beberapa pertanyaan menarik ditujukan kepada pembicara. Fitri, seorang mahasiswi CRCS 2009 mengkritik Zaky bahwa ia tidak menjelaskan secara berimbang, karena presentasi hanya menampilkan ayat-ayat Islam yang mendukung keberadaan homoseksual, dan mengabaikan banyaknya ayat-ayat yang menentang keberadaan kaum homoseksual. Fitri juga menanyakan bagaimana respons Zaky dalam melihat kutukan Tuhan terhadap kaum nabi Luth yang mayoritas mempunyai orientasi homoseksual. Isu sensitif ini juga dikritik oleh Saber, seorang mahasiswa ICRS yang dengan lantang menunjukkan ketidaksetujuan terhadap pembicara karena keberadaan kaum homoseksual, dengan jelas telah dilarang dalam Al Qur’an.

Presentasi yang menarik ini berakhir pada pukul 14.30 dan audiens memberikan aplaus yang meriah kepada pembicara. Maesur Zaky sekarang adalah aktivis PKBI dan masih mengadvokasi masyarakat yang termarjinalkan karena orientasi seksualnya.

(HAK)

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan