” Sastrawan Perempuan, Seksualitas dan Agama”

Wednesday Forum pada tanggal 24 Februari 2010, disampaikan oleh Mita Chandria, mahasiswa PhD di ICRS-UGM. Sedangkan untuk moderator dalam forum ini adalah Mega Hidayati, yang juga mahasiswa PhD ICRS. Mitha mempresentasikan sekitar tiga novel yang ditulis oleh dua sastrawan perempuan, dengan judul presentasi “Perempuan Sastrawan, Seksualitas dan Agama”. Mitha melihat bahwa penulis perempuan kontemporer Ayu Utami dan Dee (Dewi Lestari) telah memicu pro-kontra-s dan s di kalangan kritikus sastra Indonesia karena mereka (perempuan) telah secara terbuka membahas seksualitas dalam novelnya. Banyak focus membahas mengenai diskusi tentang seksualitas dalam karya sastra perempuan namun telah mengabaikan sisi religius dalam novel-novel tersebut. Meskipun benar bahwa novel kedua perempuan ini kaya akan metafora seksual, Saman Ayu dan Bilangan fu, dan karya Dee Supernova sebenarnya penuh dengan penuh sentimen dan kritik tentang agama.

Dalam presentasinya Mitah berusaha untuk mengungkapkan sisi agama dalam novel Saman, Bilangan fu, dan Supernova. Wacana agama selama ini telah terisi dengan formalitas dan kemunafikan, dan telah mengabaikan moral dan nilai-nilai kemanusiaan. Alih-alih membebaskan, agama telah diintimidasi dengan para pengikutnya yang lebih menekankan pada perdebatan doktrin yang benar dan salah, surga dan neraka. Klaim kebenaran agama membagi manusia ke dalam kelompoknya (yang setia, yang terselamatkan) dan kelompok luar (yang dikutuk, yang berdosa). Sementara itu, pertanyaan yang mendesak dialamatkan kepada agama, yaitu apa kontribusi agama kepada umat manusia, justru belum terjawab. Kemiskinan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan dan terakhir adalah tantangan nyata, ketidaksetaraan gender untuk mengatasi kebutuhan agama. Dalam karya sastra, dua perempuan ini bukan hanya mengkritik seksualitas, namun juga mendiskusikan tentang perspektif-perspektif sempit penganut agama dalam melihat agama dan politik sehari-hari.

Pada sesi wawancara, banyak pertanyaan, masukan dan kritik yang ditujukan kepada Mitha, misalnya dari Mbak Jim, seorang mahasiswa lulusan pasca sarjana CRCS menanyakan mengapa memilih untuk Mitha hanya memilih penulis Non muslim saja, bukan dari muslim juga dalam melihat seksualitas. Karena tentunya hasilnya akan berbeda. Sementara Madyan, seorang mahasiswa ICRS bertanya bingkai teoritikal apa yang digunakan dalam melihat studi sastra, hal ini bertujuan agar kajiannya tidak terlalu luas dalam melihat seksualitas dan religiusitas, dan jenis pendekatan feminis apa yang dia digunakan untuk menjelaskan fenomena seksualitas dan religiusitas yang ditulis oleh sastra perempuan Indonesia. Beberapa audiens seperti Pak Djoko mahasiswa ICRS dan Amber, seorang guru bahasa dari ICRS juga mengkritik terhadap konsepsi-konsepsi yang dibangun oleh Mitha tentang religiusitas, seksualitas, vulgar, sensual, yang masih tidak jelas dan harus diuraikan kembali. Sesi wawancara dibuka tiga kali dan menerima banyak masukan dan pertanyaan. Presentasi yang menarik ini berakhir pada pukul 14:30.

Selain sebagai mahasiswa ICRS, Mita Chandria juga bekerja dalam beberapa penelitian seperti “analisis puisi Mustofa Bisri” dan ” relevansi teoritikal pada puisi Mustofa Bisri” dan banyak karyanya yang lain yang berkenaan dengan para sastrawan religius seperti Mustofa Bisris. Presentasi ini merupakan bagian dari tesis PhD awalnya yang akan ia kembangkan kemudian.

(HAK)

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan