Perbedaan yang Membuat Kita Sama: Etnisitas sebagai Kerangka Identitas Kultural orang Minahasa yang Multi Relijius

Wednesday Forum pada tanggal 25 November 2009 mengundang Kelli A Swazey, seorang kandidat Ph. D dari Jurusan Anthropology University of Hawai’i, Manoa. Dalam forum ini Swazey menjelaskan tentang identitas menjadi orang Kristen di Minahasa. Seperti tempat lainnya di Indonesia yang didatangi oleh misionaris Kristen pada awal periode kolonial, wilayah Sulawesi Utara yang dikenal sebagai Minahasa juga sangat kuat diasosiasikan dengan warisan Kristennya. Hubungan yang dapat dilihat antara orang Minahasa dan Kristen bukan hanya tampak dari populasinya, namun juga melalui rasa kebudayaan orang Minahasa dan ajaran Kristen yang tercampur menjadi satu. Meskipun demikian, penduduk non Kristen di wilayah ini ditandai berbeda secara etnis.

Semenjak perubahan demografis dan efek dari kebijakan desentralisasi telah menyebabkan para politisi lokal menempatkan konsepsi tentang budaya regional dan identitas kultural yang inklusif antara Muslim dan Kristen, juga dengan jelas memainkan perbedaan identitas agama mereka masing-masing. Representasi kerangka lokal digunakan untuk melakukan penyesuaian etnisitas dengan identitas keagamaan, dan telah membentuk sebuah ruang untuk perkembangan identitas orang Minahasa yang inklusif terhadap penduduk non Kristen. Selain memfokuskan penelitian pada kesamaan identitas, konstelasi etnis baru ini lebih berfokus pada cara orang Kristen dan Islam di Sulawesi Utara membedakan dirinya secara eksplisit atau mengekspresikan perbedaan keagamaan mereka dengan cara lokal yang spesifik. Hal ini untuk membedakan antara populasi keagamaan pendidikan di Sulawesi Utara yang didefinisikan secara berbeda dengan kelompok suku bangsa lainnya di Indonesia tanpa menghapuskan identitas keagamaan dan akses terhadap jaringan afiliasi politik secara relijius.

Swazey menjelaskan penelitiannya secara antusias hingga tidak terasa hampir satu jam. Dalam tanya jawab yang singkat beberapa pertanyaan diajukan kepadanya, sebagai misal, jia Swazey berbicara tentang hubungan antara umat Kristen dan Islam, bagaimana hubungan keduanya dalam melihat agama lainnya, seperti Katolik? Audiens lainnya juga bertanya tentang asal-usul konstruksi orang Minahasa, apakah identitas tersebut secara sengaja ditemukan oleh Belanda atau bukan. Pak Zainal, pengajar CRCS bertanya tentang identitas kultural orang Minahasa yang disematkan ke dalam beberapa simbol politik oleh pemerintahan, mengapa itu bisa terjadi? Di akhir forum Swazey menyimpulkan bahwa ada sebuah tendensi di arena politik lokal dimana identitas kultural disesuaikan dengan afiliasi agama.

Kelly Swazey baru-baru ini mendapatkan sebuah beasiswa fullbright Hays DDRA. Pada tahun 2008 dia mendapatkan master degreenya dari University of Hawai di Manoa. Dia menulis tesis berjudul: Carrying God (Re) creating Nation through Christianity: Minahasan culture and identity in transnational churches in New England. Wilayah yang sekarang menjadi fokus ketertarikannya adalah Budaya Indonesia, Antropologi Kristen, Hubungan antar Agama, Nasionalisme dan Etnisitas.

(HAK)

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan