Perbedaan dan Dialog dalam Kekristenan

Umat Kristen harus menjalin hubungan dengan umat non-Kristen, dengan cinta dan sikap menghargai, terlibat dalam dialog dengan kerendahan hati, mengakui kebenaran dan kekudusan yang disampaikan oleh Roh Kudus terhadap agama-agama lainnya. Demikian salah satu pandangan Mega Hidayati pada Wednesday Forum, 3 Juni 2009, dengan mengangkat topik diskusi ?Sebuah Pandangan Muslim terhadap Dialog Inter-Kristian.?

Berdasarkan pengalaman mengikuti sandwich program di Union Theological Seminary, New York, 2008, Mega melihat bahwa didalam kekristenan terdapat berbagai pandangan yang berbeda. Sebagai contoh, dalam perdebatan evangelikal, terdapat dua pandangan yang dianggap dominan dan berbeda satu sama lainnya, yakni ekslusivisme dan inklusivisme. Orang-orang yang dianggap eksklusif lebih menempatkan Yesus di atas kepercayaan lainnya. Sedangkan Inklusif, termasuk didalamnya pluralis, menyangkal adanya otoritas yang unik dan menguasai segalanya.

Disamping berbicara mengenai pandangan ekslusif dan inklusif, bagi Mega terdapat pula perspektif dari pihak progresif, partikuralisme radikal dan pentakostal. Masing-masing memiliki perspektif dan atau klaim yang cukup berbeda satu sama lainnya, terutama terkait dengan kehidupan umat Kristen dengan komunitas atau umat lainnya.

Dengan perspektif dan atau klaim yang berbeda-beda tersebut Mega mempertanyakan setiap pihak terkait dengan dialog yang perlu dibangun didalamnya. Contohnya, untuk perspektif evangelikal, siapa yang bisa menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah? Apa ukurannya? Terhadap progresif perspektif, apakah metafora yang dipakai dalam menggambarkan tentang Yesus menunjukkan bahwa Kristen seutuhnya tidak lebih dari metafora kehidupan moral? Bisakah mencapai kebenaran universal?

Berdasarkan pengalaman diatas Mega melihat adanya kecenderungan sikap tidak toleran terhadap perspektif yang berbeda di internal kita daripada pada agama lainnya. Untuk itu, dialog intra-Kristian dibutuhkan untuk membawa damai dan rekonsiliasi diantara umat Kristen dan orang-orang beriman lainnya. Terkait dengan itu pula, merujuk pendapat Mahmoud Ayoub, salah satu persoalan dalam dialog umat Kristen-Muslim adalah ketidakmampuan menerima iman orang lain disamping istilah-istilah mereka sendiri.

Dari beberapa tanggapan peserta terhadap pandangan Mega, terdapat salah satu tanggapan yang menarik. Tanggapan ini menunjukkan kesalahan dalam melihat kehidupan umat Kristen dalam kacamata kategori atau pengelompokan diatas. Tidak ada evangelis, pluralis, inklusifis, ekslusifis, progresifis, dsb. yang secara melulu diaplikasikan oleh umat Kristen. Seseorang pada saat yang sama bisa menjadi ekslusifis, inklusifis, progresifis, dsb. karena berbagai ajaran atau pengalaman yang dipahaminya.

Konteks dari kehidupan atau keberadaan umat Kristen perlu dipertimbangkan pula, karena melahirkan atmosfer dialog atau hubungan yang berbeda, terutama ketika terdapat kelas dan berbagai perbedaan mendasar lainnya. Hubungan atau dialog dalam komunitas umat Kristen yang akademis, contohnya, mempengaruhi wacana dan sikap yang dibangun didalamnya, dan hal ini akan berbeda dengan mereka yang berdialog dalam kehidupan sehari-hari baik dengan sesama Kristen maupun umat lainnya.

[MEGA HIDAYATI is an ICRS student who earned her master?s degree from CRCS UGM. Her research (thesis) was on Human Finitude and Interreligious Dialogue: A Discussion on Hans-Georg Gadamer?s Thoughts. Mega just finished her Sandwich Program, a semester studied at Union Theological Seminary, New York City, New York. She was involved with the conference on Gender, Post-Colonialism and Interfaith Movements, New York, October, 24-25, 2009. She also spoke on several workshop and group discussion on interfaith dialogue.]

Abstrak presentasi dapat dilihat pada link berikut:

http://crcs.ugm.ac.id/news.php?news_id=180

(JMI)

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan