Perempuan Lebih Spritualis daripada Laki-laki

Rabu, 1 April 2009. Wednesday Forum mendiskusikan topik sufisme dan perempuan. Najiyah Martiam, pembicara, sekaligus alumni CRCS, berpendapat bahwa dunia sufisme adalah dunia yang penuh dengan pemikiran-pemikiran yang peduli dan ramah terhadap perempuan. Hasil penelitian ini diperoleh setelah melakukan penelitian terhadap tiga sufi perempuan dan satu sufi laki-laki di Yogyakarta, dan pengalaman wawancara dengan tokoh-tokoh sufi di Turki selama kurang lebih satu bulan.

Bagi Jim, panggilan akrab Najiah, Ibn Arabi (1165-1240) dan Jalaluddin Rumi (1207-1273) adalah tokoh sufi yang berpendapat bahwa perempuan adalah sosok yang sangat penting dalam menjalankan kesufian mereka. Ibn Arabi mengatakan jika seorang laki-laki ingin menjadi seorang sufi, maka ia harus berubah menjadi seorang perempuan. Pandangannya ini terkait dengan caranya memandang keilahian sebagai sesuatu yang feminin. Sedangkan Jalaluddin Rumi menegaskan bahwa perempuan adalah sinar Tuhan. Mereka tidak hanya dicintai secara duniawi, mereka kreatif, tidak diciptakan. Menurutnya, ketika seorang perempuan menahan perasaan-perasaannya di bawah kontrol hawa nafsunya, maka pada saat itu ia sedang meninggalkan laki-laki, ia berada pada jalan Tuhan dan mencapai kebenaran lebih cepat daripada laki-laki.

Dua tokoh sufi laki-laki ini menunjukkan besarnya perhatian mereka terhadap perempuan dalam hubungannya dengan Tuhan. Bagaimana dengan para sufi perempuan memandang perempuan dan Tuhan? Untuk menjawab pertanyaan ini, melalui penelitiannya terhadap tiga sufi perempuan di Jawa, antara lain : Umi, Bu Heni dan Mbak Ati Hidayati, Jim melihat bahwa ada perbedaan spiritualitas antara laki-laki dan perempuan. Ia mengatakan bahwa spiritualitas perempuan lebih integratif atau holistik. Ada sebuah kesatuan intrinsik dari keseluruhan bentuk ciptaan yang disebut juga kekuatan hidup atau energi kehidupan. Tuhan dianggap di sini bukan di sana. Pengalaman kebersatuan dengan yang ilahi dapat dicapai oleh siapapun, sekarang dan di sini. Tidak ada dikotomi antara tubuh dan pikiran. Tubuh adalah sumber utama spiritualitas dan kekuatan.

Dengan meneliti para sufi di atas, Jim tidak bermaksud untuk lebih mengedepankan perempuan daripada laki-laki, melainkan menunjukkan bahwa di dunia ini dibutuhkan sebuah keseimbangan. Ia tidak berbicara tentang dikotomi antara perempuan dan laki-laki. Lebih dari itu, energi maskulin dan feminim yang dimiliki setiap manusia harus dapat seimbang. Menurutnya, budaya patriarki yang mengedepankan maskulinitas telah menyebabkan ketidakseimbangan di dunia ini yang berakhir pula dengan dominasi rasio dan superioritas laki-laki terhadap perempuan. Oleh karena itu, energi feminin, yang merepresentasikan perasaan dan keberadaan perempuan di dunia ini, harus pula dikembangkan hingga mencapai keseimbangan yang dimaksud.

Kerangka berpikir sufisme ini, sebagaimana ungkap Jim, menarik untuk diikutsertakan dalam persoalan isu ketidaksetaraan gender dan persoalan-persoalan sosial lainnya yang merujuk pada maskulinitas. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa perbincangan mengenai metafisik patut kita pertimbangkan dalam mencari solusi-solusi pesoalan saat ini. Bahkan Fritjof Capra , seorang fisikawan, dalam bukunya berjudul Jaring-jaring Kehidupan berpendapat bahwa fisika dan sejarah menunjukkan peristiwa-peristiwa di dunia ini terkait dengan kedua energi (maskulin dan feminin).

(JMI)

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan