Mendialogkan Dialog Antar-iman

Dua bulan terakhir ini, mahasiswa CRCS aktif mengadakan perjalanan lapangan. Pada 12-13 Februari yang lalu, mereka bersama Prof. Irwan Abdullah dan Dr. Mark Woodward mengadakan proyek penelitian kecil di Klaten. Penelitian itu difokuskan pada perayaan Yaqowiyyu di Jatinom, sebuah desa kecil di Klaten, dan merupakan bagian dari perkuliahan mereka untuk ?Metodologi Penelitian? dan ?Agama dan Masyarakat Lokal?. Sedangkan perjalanan terakhir adalah mendialogkan dialog antar-iman sebagai salah satu bagian pula dari mata kuliah lainnya.

Pada 14 Maret yang lalu, mahasiswa mengadakan sebuah perjalanan yang produktif bersama kedua dosen mereka (Prof. Banawiratma dan Dr. Fatimah Husein) untuk mata kuliah ?Dialog antar-Religius’. Mereka mengunjungi dua institusi yang mempromosikan dialog antar-iman, yakni Percik dan Sekolah Alternatif Qarryah Tayyibah (SMP dan SMA alternative). Tujuan dari perjalanan ini adalah mengajak mahasiswa untuk merefleksikan serta membandingkan pengalaman-pengalaman teoritis terhadap praktek nyata sejauh berhubungan dengan dialog antar-religius. Percik adalah sebuah organisasi non-pemerintah yang menyelenggarakan dialog antar-iman sebagai salah satu program mereka. Melalui jejaring, organisasi ini telah membangun sejenis program kerjasama disamping program mereka sendiri. Berdasarkan penjelasan mereka terkait dengan program dialog antar-iman, mereka memulainya dengan mengusung wacana pluralism dan dialog antar-iman itu sendiri ke komunitas. Program dialog mereka tidak terbatas dengan agama atau istilah-istilah yang religius, melainkan juga mengawal isu-isu politik, ekonomi, sosial-budaya, dan sebagainya.

Pada sisi lain, dialog antar-iman yang dipraktekkan di Sekolah Alternatif Qarryah Tayyibah berbeda dari Percik. Sebagai sebuah institusi pendidikan berbasiskan komunitas, dialog antar-iman dilatih di sekolah berangkat dari semangat demokrasi yang ada didalam sistem pendidikannya; sekolah ini mempromosikan pendidikan yang membebaskan. Sekolah ini mengkritik sistem pendidikan di Indonesia yang menurut mereka lebih memprioritaskan biaya sekolah, berbagai persyaratan administratif dan ujian. Mereka juga mengkritik proses pembelajaran siswa yang lebih menginginkan mereka untuk mengikuti apa yang sekolah atau guru inginkan terhadap mereka. Di sini, istilah ?guru? tidak dipakai oleh mereka, karena mereka lebih senang menggunakan istilah ?teman? bagi mereka yang membantu dan mendukung mereka untuk belajar apa yang mereka inginkan. Pelajar di sekolah ini yang menentukan kurikulumnya. Mereka diberikan kebebasan untuk mengetahui apa yang ingin mereka ketahui sejauh mereka bertanggungjawab atas itu, dan sejauh hal tersebut tidak melanggar hukum dan/atau aturan dalam masyarakat serta tidak membahayakan kehidupan orang lain. Ketika seorang pelajar menemukan topik atau subyek tertentu yang menarik baginya atau mendukung kebutuhan komunitas, maka ia mencari seseorang di sekolah ini yang bisa memfasilitasinya dengan sejumlah informasi dan keterampilan sesuai kebutuhannya. Patut dibanggakan, dengan pola yang demikian beberapa pelajar telah menulis sejumlah buku dan naskah drama, memproduksi beberapa film, dan di antaranya bahkan telah menciptakan beberapa karya teknologi informasi. Selain itu, sekolah ini mengakomodasi tamu-tamu dari Indonesia dan luar negeri, religius dan yang tidak religius; dan tamu-tamu itu belajar banyak hal dari pengalaman sekolah ini. Hal ini dilakukan untuk membangun dan memelihara dialog antar-iman.

Bagi mahasiswa CRCS, kunjungan ini telah memberikan wawasan dan perspektif baru dalam studi mereka. Pertanyaan yang kemudian muncul untuk mereka, ?bisakah mereka melakukan sesuatu yang lebih baik dari kedua organisasi di atas? Atau paling tidak, dapatkah mengekspresikan atau mempromosikan semangat yang sama secara akademik atau praktis??

(JMI)

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan