Modernitas dan Toleransi : Keragaman Agama di Timur Tengah

Edisi ketujuh Forum Jumat Sore CRCS akan dilaksanakan hari Jumat, tanggal 30 November 2007, Jam 15:30-17:00. Diskusi akan dilaksanakan di Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, Lantai 3, Ruang 306. Pembicara dalam diskusi ini adalah Prof.Dr. Dick Douwes. Tema yang akan diangkat dalam diskusi adalah Modernitas dan Toleransi : Keragaman Agama di Timur Tengah. Dibawah ini merupakan biografi singkat pembicara serta abstract dari tema yang akan dipresentasikan.

Prof. Dr. Dick Douwes dilahirkan di Sorong, 1957. Beliau mempelajari bahasa dan budaya Arab di Universita Nijmegen, negeri Belanda. Pada tahun 1993, beliau memperoleh Ph.D dari Universitas Nijmegen. Douwes mengajar Sejarah Timur Tengah pada universitas Nijmegen dan Leyden. Pada tahun 1994 beliau bergabung dengan Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies (INIS). Tahun 1998 beliau merupakan akademik coordinator- kemudian menjadi eksekutif direktur the International Institute for the Study of Islam in the Modern World (ISIM),suatu institute penelitian gabungan dari universitas Amsterdam (UvA) Nijmegen, Leyden and Utrecht, serta beliau juga merupakan editor berita dan paper serial ISIM. Sejak tahun 2006, beliau merupakan professor penuh pada kajian sejarah Masyarakat non-Barat pada Fakultas Sejarah dan Arts di Erasmus University Rotterdam. Beliau mempublikasikan sejarah Ottoman di Syria, pluralitas agama di Timur Tengah, serta Muslim di Eropa Barat.

AbstractTingkat keragaman agama di Timur Tngah sungguh luar biasa. Kemoderenan Timur Tengah merupakan warisan pengalaman-pengalaman sejarah tradisi Yahudi, Kristen dan Islam, -ketiganya telah meninggalkan bekas dalam taman keagamaan-. Suatu keragaman yang luas dari Kristen, Yahudi serta tradisi keagamaan yang lain telah hidup selama 14 abad dalam peradaban Muslim. Lebih lanjut, variasi yang dimiliki Islam di Timur Tengah telah dan masih- luar biasa tinggi jika dibandingkan dengan mayoritas Muslim pada daerah lainnya.

Namun, pada akhir abad 19 dan 20 afiliasi agama serta perbedaannya secara meningkat dipertandingkan di dalam konteks kolonialisme, pembangunan bangsa serta migrasi. Negara-negara modern, yang colonial maupun post-kolonial, seringkali kelihatan menemukan kesulitan besar dalam mengakomodasi perbedaan warganya- baik itu secara agama, etnik maupun bahasa- jika dibandingkan dengan leluhur mereka. Gagasan nasionalism, digabungkan dengan konsep (secular) kewarganegaraan partisipasi aktif dan sejajar dalam masyarakat- menantang sikap tradisional, seperti keunggulan Muslim dalam public space, tetapi juga menciptakan kesempatan bagi berbagai komunitas agama untuk memanifestasikan diri mereka secara lebih terbuka.

Dalam komunitas non-Muslim di Timur Tengah, affiliasi dengan Barat, melalui asosiasi kolonial, migrasi, agama dan atau orientasi ekonomi, telah meningkat secara tajam ke tingkat yang beberapa komunitas secara actual eksis dalam dua dunia, beberapa menetap di Barat. Tetapi alasan utama mereka adalah akar mereka di Timur tengah, sebagai suatu tempat dimana agama berada.

Dengan munculnya politik Islam pada tahun 1970an, afiliasi agama mungkin kelihatan sangat problematik. Akan tetapi, hal tersebut pada lahirnya memberikan orientasi keagamaan dari gerakan Islam. Mereka mungkin menyediakan suatu konteks untuk suatu batas penyebaran komunitas non-Muslim sepanjang mereka secara Islam dikenal seperti beragamnya komunitas Kristen dan Yahudi.

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan