Membangkitkan Kembali Institusi Sosial dan Budaya Bangsa

Edisi Resonansi ke 31 yang akan disiarkan secara langsung oleh RRI pada tanggal 7 Juni 2007 akan mendiskusikan ?Membangkitkan Kembali Institusi Sosial dan Budaya Bangsa?. Selain di RRI, Resonansi talkshow dapat disaksikan di TVRY-Jogja pada hari Jum?at dan Senin (8 dan 11 Juni 2007) pada jam 18.00-17.00 atau dapat dibaca di koran Radar Jogja pada tanggal 11 Juni 2007.

Krisis ekologis, kekerasan, dehumanisasi, kriminalitas, kesenjangan sosial yang kian melebar, serta ancaman kelaparan dan sebagainya merupakan problem serius yang saling terkait satu sama lain di era millennium ketiga sekarang ini. Problem, kehidupan pada era informasi ini juga merambah kehidupan domestik dan personal. Maraknya kasus perceraian, penggunaan obat-obat terlarang, depresi, psikopat, skizofrenia, dan bunuh diri yang disebut oleh Fritjof Capra sebagai “penyakit-penyakit peradaban” telah menjadi bagian keseharian kehidupan modern. Perkembangan sains dan teknologi yang menjadi ikon modernitas ternyata tidak selalu berkorelasi positif dengan kesejahteran manusia karena harus dibayar mahal dengan keterasingan manusia dari dirinya sendiri. Institusi-insitusi sosial dan budaya yang memuat nilai-nilai luhur yang mampu menyelaraskan manusia dengan Tuhan, alam dan lingkungan sosialnya perlahan-lahan terbang jauh ditelan zaman yang lebih mementingkan rasionalitas dan keuntungan ekonomi dibanding hati nurani.

Institusi sosial seperti adat-istiadat, norma, aturan, pandangan hidup tradisional atau kearifan-kearifan lokal, dan sebagainya yang dulu menjadi panduan menjalani kehidupan baik sebagai individu, anggota masyarakat maupun sebagai hamba Tuhan; memberi makna; dan juga perekat antar keluarga maupun masyarakat semakin lama semakin melemah karena dianggap tak sejalan dengan logika modernitas, alias tidak praktis dan ekonomis sehingga semakin ditinggalkan.

Keterasingan akibat ketercerabutan dari akar budaya karena mengikuti perubahan yang tak dipahami betul mengapa dan untuk apa membuat manusia modern umumnya dan Indonesia khususnya mencoba mencari kohesi-kohesi untuk mengisi keintiman yang tak lagi ditemukan dalam keluarga ataupun lingkungan sosialnya dengan membentuk club-club society. Baik club society yang didasarkan pada persamaan hobi, gaya hidup, cara pandang, kepemilikan, kebutuhan maupun idiologi dengan password-nya sendiri-sendiri. Intimacy semacam ini menurut Prof. Irwan Abdullah berpotensi menimbulkan clash karena tidak adanya collective password yang bisa mempertemukan mereka. Sehingga dimasa mendatang potensi konflik bukan lagi di persoalan SARA akan tetapi konflik pemakaian ruang cultural dengan adanya klub-klub ini.

Konflik-konflik ini bisa diantisipasi dengan merevitalisasi ataupun mereproduksi institusi-institusi sosial dan kebudayaan yang bisa menjadi ruang komunikasi dan sosialisasi nilai-nilai bersama yang bisa mendekatkan kembali masyarakat baik dengan dirinya sendiri, keluarga maupun lingkungan sosialnya. Atas dasar inilah RESONANSI merasa perlu untuk mengajak masyarkat untuk menghidupkan kembali institusi-insitusi sosial yang sarat dengan nilai-nilai luhur ini. Untuk itu beberapa hal yang akan didiskusikan dalam talkshow ini meliputi:

Untuk mengantisipasi konflik dengan merevitalisasi sosial institusi dan budaya bangsa yang bisa mengkomunikasikan nilai-nilai bersama yang bisa mendekatkan masyarakat dengan diri mereka, keluarga maupun lingkungan sosialnya. Resonansi edisi 31 ini akan berbicara tentang membangkitkan kembali institusi sosial dan budaya bangsa. Beberapa isu yang akan dibicarakan dalam talkshow ini adalah: Bagaimana institusi sosial dan budaya yang memiliki nilai-nilai luhur dapat terkikis oleh nilai-nilai modernitas? Bagaimana modenitas berpengaruh terhadap individu, keluarga dan masyarakat? Bagaimana kekuatan lokal dapat menandingi modernitas? Bagaimana peran pemimpin agama dalam merevitalisasi institusi sosial dan budaya? Dan lain-lain.

Untuk mempelajari permasalahan tersebut lebih komprehensif, Resonansi akan mengundang 2 orang pakar. Mereka adalah:

  1. Dr. Pande Made Kutanegara. (Dosen anthropologi UGM serta peneliti pada Pusat Studi Kependudukan, UGM) Sebagai antropolog dan peneliti sosial budaya, pembicara diharapkan dapat memaparkan proses terjadinya pengikisan sosial dan budaya bangsa oleh modernitas dan juga contoh-contoh kekuatan-kekuatan lokal di nusantara yang penting untuk direvitalisasi ataupun dipertahankan.
  2. HM. Nasrudin Anshory, CH. (Pengasuh Pondok Pesantren Budaya Ilmu Giri). Selaku pelaku budaya dan pemimpin institusi budaya yang telah melakukan reproduksi tradisi diharapkan dapat memaparkan andil komunitas keagamaan dalam menghidupkan kembali institusi sosial, serta kekuatan-kekuatan lokal yang bisa dihidupkan dan dikembangkan kembali, bagaimana itu bisa dilakukan serta kendala- kendala apa yang muncul.

Acara ini seperti biasa akan dipandu oleh Prof. Dr. Irwan Abdullah dari CRCS UGM dan akan dihadiri oleh Anand Ashram Yogyakarta.

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan