Imajinasi Sosial dan Wajah Plural Modernitas

Sudarto & Najiyah Martiam

 

 

BernieIndonesia bisa jadi jauh lebih modern di banding negara-negara Barat, tergantung bagaimana kata modern ini diimajinasikan. Demikian salah satu poin penting dari presentasi Prof. Bernard Adeney-Risakotta pada Wednesday Forum (Wedforum) minggu lalu (12/9). Menurutnya modernitas tidaklah berwajah tunggal melainkan plural dan berbeda di setiap tempat tergantung imajinasi sosial di masing-masing tempat tersebut. Masyarakat dengan agama berbeda bisa jadi mempunyai imajinasi sosial yang berbeda, begitupula masyarakat dalam satu agama. Indonesia, melalui fakta-fakta yang dapat diamati dengan mata telanjang telah termodernisasi dengan caranya sendiri sesuai imajinasi masyarakatnya.

 

Menurut Pak Bernie –demikian ia biasa dipanggil- imajinasi sosial adalah etos dan perasaan terhadap dunia/kehidupan yang membuat tindakan menjadi masuk akal. Selanjutnya dosen di ICRS (Indonesian Consortium for Religious Studies) dari Amerika ini membagi perbedaan antara imajinasi sosial masyarakat Barat dengan masyarakat Indoneisa dalam beberapa tipe yang berpengaruh terhadap tata kelola pemerintahan dan persepsi terhadap kemodernan tersebut.

 

Menurutnya, masyarakat Barat dibangun atas dasar kontrak sosial yang rasional antar individu demi kepentingan bersama; individu bersifat otonom dan pasar bersifat bebas; pemerintah melindungi kebebasan, dan untuk mencapai kesejahteraan dilakukan melalui pertukaran ekonomi. Sementara di Indonesia, masyarakat adalah sebuah keluarga yang mewakili mikrokosmis hukum-hukum Tuhan; bersifat komunal dan hirarkis; serta kekuasaan bersifat tak kasat mata yang merefleksikan makrokosmos alam semesta. Pemerintah berperan seperti orang tua yang mengatur keyakinan dan perilaku yang benar dan menjamin kesejahteraan. Keharmonisan adalah tujuan utama.

 

Lebih lanjut Ia menjelaskan bahwa, di masyarakat Barat -yang berdasarkan pada hukum sekuler dan imparsial-  semua agama, ras, jenis kelamin, dan budaya diperlakukan secara setara, dan pemerintah bersifat netral terhadap semua agama. Sementara di Indonesia, masyarakatnya berdasarkan hukum agama; semua agama universal di hormati dan pemerintah bertanggung jawab untuk menerapkan hukum agama tersebut, dengan demikian pemerintah tidak netral.

wedforum

 

Beberapa pertanyaan, kritik dan tanggapan muncul dari audiens yang tidak hanya berasal dari mahasiswa CRCS dan ICRS, melainkan para dosen, staff dan publik dari luar UGM. Diantara tanggapan tersebut adalah, tipologi perbedaan ini bisa mengarah pada stereotyping atau pelabelan tentang masyarakat Indonesia dan Barat. Sementara itu Zainal Abidin Bagir yang turut hadir dalam wedforum tersebut mempertanyakan, ketika Pak Bernie menyebut imajinasi sosial Indonesia, maka Indonesia yang mana yang dimaksud, karena menurutnya masyarakat Indonesia tidak tunggal. Ia juga mempertanyakan dasar dari penarikan tipologi ini, jika didasarkan pada narasi sejarah, maka sejarahnya siapa dan kapan, karena imajinasi masyarakat Indonesia dulu dan sekarang mungkin sudah berbeda.

Menanggapi berbagai pertanyaan dan tanggapan yang muncul, Pak Bernie menjelaskan bahwa tipologi ini sekedar alat untuk membantu menganalisis, sebagai peta atau pintu untuk memahami, sehingga tidak bisa diharapkan dapat memberi penjelasan rinci.

 

Menanggapi perntanyaan apakah ada kaitan antara imajinasi sosial dan kemajuan atau kemunduran suatu bangsa, ia tidak secara langsung menjelaskan korelasinya. Ia menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia cenderung meremehkan capaian kemajuan yang dihasilkannya, dan tentunya tidak bisa mengukur kemajuan Indonesia dengan kemajuan Barat karena masing-masing punya karakter dan indikator tersendiri dalam mempersepsi sebuah kemajuan atau kemunduran. Ia mencontohkan keberhasilan Muhammadiyah. Ormas ini menurutnya memiliki kemajuan pesat dalam melebarkan sayapnya dibidang pendidikan, dan kontribusinya cukup signifikan bagi masyarakat Indonesia. Namun sayang, masyarakat tidak menganggap prestasi ini sebagai kemajuan, malah sering merendahkan (underestimate).

 

Diujung forum diskusi, Bernie menyimpulkan bahwa, perbedaan imajinasi sosial antara masyarakat Indonesia dan Barat menghasilkan modernitas yang berbeda. Keragaman masyarakat Indonesia berasal dari persaingan antar imajinasi sosial,  yang bukan hanya antara “Timur” dan “Barat”, tetapi antara kombinasi dari berbagai  praktek sosial, harapan, cerita, keyakinan dan imajinasi yang berasal dari berbagai sumber di dalam masyarakatnya sendiri. Oleh sebab itu menjadi penting untuk saling berbagi dan bersinergi dengan kelompok masyarakat yang berasal dari berbagai imajinasi sosial guna melakukan perlawanan terhadap berbagai hegemoni, terutama hegemoni sistem pasar global dan hegemoni interpretasi agama yang sempit (Ed-njm).

 

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan