Upacara Beati terhadap Gadis Remaja Muslim dalam Kultur Masyarakat Gorontalo

Judul: Upacara Beati terhadap Gadis Remaja Muslim dalam Kultur Masyarakat Gorontalo

Penulis: Yowan Tamu (CRCS, 2009)

Kata-kata Kunci: beati, gadis remaja muslim, masyarakat, Gorontalo

Abstrak:


Penelitian ini berjudul “Upacara Beati terhadap Gadis Remaja Muslim dalam Kultur Masyarakat Gorontalo”. Upacara adat ini adalah sebuah ritual yang dilaksanakan sebagai bentuk perubahan status seorang gadis kecil manjadi gadis remaja. Tujuan penelitian ini adalah memberikan pemahaman spiritual Islam kepada gadis remaja yang telah akil baligh, karena dianggap belum sempurna keIslamannya sebelum melakukan ritual Beati.

 

Penelitian ini merupakan penelitian etnografi, dimana seluruh data yang digunakan berdasarkan pada pandangan, penataan, dan penghayatan suatu masyarakat yang mencakup semua aturan, kaidah, dan kategori yang dikenal oleh masyarakat. Pendekatan yang digunakan adalah menentukan satuan analisis, satuan pengamatan dan sumber informasi. Satuan pengamatannya adalah sama dengan satuan analisisnya, sumber informasi segi- segi penting dalam ritual Upacara Beati yang melibatkan para pelaku ritual Upacara Beati baik gadis remaja yang dibeati maupun gadis remaja yang belum dibeati.

 

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Marisa Kabupaten Pohuwato. Waktu yang dilakukan selama enam bulan untuk melihat tahap-tahap persiapan, pelaksanaan dan sesudah pelaksanaan Upacara Beati. Teknik-teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data yang diperlukan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Tahapan penelitian ini dirangkum dalam tiga pertanyaan berikut: Pertama, Bagaimanakah eksistensi Upacara Beati dalam perannya pada perkembangan mental, spiritual dan karakter gadis remaja di Marisa? Kedua, Mengapa Upacara Beati masih bertahan di saat gempuran penetrasi budaya asing makin mengemuka? Ketiga, bagaimanakah bentuk penerimaan masyarakat Marisa terhadap tradisi Upacara Beati?

 

Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa Upacara Beati adalah membentuk karakter mental gadis remaja menjadi seorang yang memiliki kepribadian baik, bermoral, bisa bertanggung jawab pada dirinya dan orang lain. Juga sebagaian masyarakat memandang sebagai salah satu wujud pelestarian budaya lokal, sebagaian lainnya menganggap sebuah pelanggengan tradisi yang sudah tidak relevan lagi dengan peradaban sekarang.

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan