Peace and Dialogue: Kajian Sosiologi terhadap Dialog dan Inisiatif Damai di Ambon 1999-2004

Judul: Peace and Dialogue: Kajian Sosiologi terhadap Dialog dan Inisiatif Damai di Ambon 1999 – 2004 

Penulis: Yance Zadrak Rumahuru (CRCS, 2005)

Kata-kata Kunci: Pertikaian dialog, komunitas sosial

Abstrak:

 

Tesis ini mengusung tema besar Dialog dan Perdamaian (Peace and Dialogue) dalam konteks komunitas-komunitas sosial (umat beragama) di Ambon yang dikaji melalui pendekatan sosiologi. Penelitian ini bertujuan pertama, mendeskripsikan bagaimana cara pihak-pihak yang bertikai dalam konflik komunal di Ambon membangun dialog dan upaya perdamaian. Kedua, memberikan pemetaan mengenai proses dialog dan upaya perdamain yang dilakukan oleh pemerintah dan kelompok-kelompok mesyarakat selama pertikaian di Ambon. Patut disebutkan bahwa pewacanaan mengenai Maluku selama pertikaian, cenderung dilakukan dalam bentuk dikotomi dan konfrontasi antarkomunitas umat beragama yang saling menghujat, membunuh dan mencari pembenaran masing-masing atau pengungkapan aspek kekerasan dari konflik dibanding pengungkapan berbagai fakta tentang upaya kelompok-kelompok masyarakat dan pemerintah membangun dialog dan perdamaian.

 

Penelitian ini dilakukan di Ambon, dengan mengambil fokus pada dua lokasi masing-masing, Negeri Batumerah (negeri Islam) di kecamatan Sirimau dan Negeri Passo (negeri Kristen) di kecamatan Teluk Ambon Baguala di kota Ambon. Pilihan atas kedua wilayah ini didasarkan pada pertimbangan bahwa pertama, Batumerah dan Passo merupakan salah satu tempat di mana terjadi pemusatan pertikaian di Ambon 1999-2002. Kedua, masing-masing negeri memiliki tingkat kemajemukan yang cukup tinggi, terutama dari latar belakang etnis. Ketiga, Batumerah dan Passo merupakan negeri adat, yang secara kultural memiliki kesamaan budaya dan adat istiadat dengan negeri-negeri lainnya di Ambon dan Maluku Tengah secara keseluruhan. Subjek dari penelitian ini adalah raja, tokoh adat, pemuka masyarakat dan kaum muda di kedua negeri. Untuk menemukan data yang diperlukan pertama, peneliti (penulis) memberikan kuesioner (angket) yang terdiri dari beberapa pertanyaan dengan pilihan jawaban tertentu dan jawaban terbuka guna diisi oleh responden. Kedua, melakukan focus group discussion (FGD), dengan kelompok-kelompok masyarakat di Batumerah dan Passo. Ketiga, melakukan wawancara mendalam dengan 14 (empat belas) informan pada kedua negeri. Penelitian di Passo dan Batumerah menemukan bahwa baik pemerintah maupun kelompok-kelompok masyarakat sama-sama menggunakan pendekatan struktural dan kultural dalam upaya penghentian dan penyelesaian pertikaian sebagai prasyarat untuk membangun rekonsiliasi dan rehabilitasi di Maluku. Namun demikian terdapat penilaian oleh komunitas setempat bahwa pemerintah (negara) lebih cenderung menggunakan pendekatan yang sifatnya stuktural. Berbeda dengan pemerintah, umumnya kelompok-kelompok masyarakat melakukan dialog dan inisiatif damai melalui pendekatan dari bawah dan menggunakan kearifan atau kebanggaan-kebanggaan lokal setempat yang dalam tesis ini disebut dengan pendekatan kultural.

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan