Teologi Pembebasan dalam Penafsiran Al-Quran

Judul: Teologi Pembebasan dalam Penafsiran Al-Quran (Perspektif Farid Esack tentang Kerjasama Antaragama Melawan Ketidakadilan) 

Penulis: Erik Sabti Rahmawati (CRCS, 2006)

Kata-kata kunci: Teologi pembebasan, penafsiran al-Qur’an, Kerjasama antaragama.

Abstrak:

 

Penelitian ini berusaha menjawab tiga persoalan berkaitan dengan ide-ide Farid Esack, (1) bagaimana Farid Esack mengaplikasikan prinsip-prinsip liberation theology dalam upaya menafsirkan al-Qur’an? (2) bagaimana pandangan Esack tentang pluralisme agama dan kerjasama antarumat beragama? (3) mengapa Esack mengumandangkan pendapatnya tentang pluralisme agama dan kerjasama antarumat beragama dalam al-Qur’an?

 

Pendekatan dan metode yang digunakan adalah historis dan hermeneutika. Kajian historis digunakan untuk mengkaitkan pandangan Esack dengan sisi sejarah yang mengitari kehidupannya, sebagai causal explanation atau semangat zaman yang melatarbelakangi munculnya gagasan tersebut, sedang kajian hermeneutika dipakai untuk menangkap dan memahami gagasan-gagasan Esack yang tertuang dalam karya-karyanya.

 

Berdasarkan penelitian ditemukan hasil sebagai berikut. Pertama, hermeneutika Esack yang dibangun berdasarkan konteks Afrika Selatan juga merujuk prinsip-prinsip dan hermeneutics circle yang diajukan oleh liberation theology. Karena itu, Esack mengajukan kunci-kunci penafsiran yang khas Afrika Selatan, meliputi, taqwa, tauhid, nâs, mustadl`afin, `adl dan qist, dan jihad. Kedua, bahwa konsep pluralisme agama dalam gagasan Esack bukan sekadar berdasarkan alasan sosiologis atau praksis, melainkan teologis. Bagi Esack, al-Qur’an tidak hanya menunjukkan kebenaran yang dibawanya tetapi juga menghargai dan mengakui kebenaran pada agama lain, jadi tidak ada halangan bagi orang Islam untuk melakukan hubungan dan kerjasama dengan fihak-fihak non-muslim, dan kerjasama tersebut bukan sekadar alasan kemanusiaan tetapi benar-benar berlandaskan teologi keagamaan dan kesetaraan. Ketiga, faktor penyebab (causal explanation) yang menuntut Esack untuk mengumandangkan gagasannya adalah semangat zaman yang berpengaruh dalam kehidupan Esack, pertama; zaman ‘konvergensi atau oikumenisme agama’ (pertemuan agama-agama), kedua, dipengaruhi dan dibangun atas dasar kepentingan pembebasan masyarakat di Afrika Selatan dari penindasan yang dilakukan rezim apartheid, karena tafsiran-tafsiran klasik yang lebih bersifat eksklusif dalam kasus Afrika Selatan, justru melanggengkan sistem penindasan yang dilakukan apartheid.

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan