Fiqh dan Dialog Antaragama

Judul: Fiqh dan Dialog Antaragama: Studi Kasus Pengembangan Fiqh Dialogis di Ma’had Ali Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo

Penulis: Imam Malik (CRCS, 2005)

Kata-kata Kunci: Fiqh, dialog, agama.

Abstrak:

 

Kebutuhan untuk berdialog antaragama adalah kebutuhan primer dalam kehidupan yang multi kultural seperti Indonesia tanpa adanya dialog antaragama persoalan-persoalan konflik berbasis agama akan sangat sulit dihindarkan. Seperti halnya kepentingan berdialog antaragama, kepentingan mencari metode berdialog yang tepat juga menjadi kebutuhan primer. Untuk kepentingan itulah tesis ini ditulis. tesis ini memberikan ilustrasi tentang masyarakat Islam Indonesia yang memilik perspektif Islam yang kental dengan nuansa fiqh yang membutuhkan pendekatan dialog dengan perspektif yang sama yaitu fiqh. Dengan pendekatan studi kasus tesis ini akan membahas tentang pengembangan fiqh dialogis yang dikembangkan oleh Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Pembahasan meliputi peran Ma’had Aly sebagai lembaga pendidikan pengembang fiqh dialogis dan fiqh dialogis sebagai entitas baru dalam wacana fiqh dan metode dialog antaragama.

 

Dalam sejarah wacana dialog antaragama di Indonesia, telah banyak tokoh Islam atau lembaga Islam yang melakukan pencarian metode berdialog dalam perspektif Islam. Dari banyak pencarian itu mayoritas mereka membangun dialog agama dalam bingkai teologis. Penulis melihat kontribusi yang telah diberikan oleh tokoh-tokoh dialog itu sangat besar, akan tetapi pendekatan teologis dan mistis itu dinilai kurang sesuai dengan perspektif masyarakat Indonesia yang fiqh oriented Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo sebagai lembaga kader ahli fiqh telah mencoba membangun sebuah gagasan baru yang menggunakan perspektif fiqh sebagai main stream baru dalam dialog agama.

 

Dengan metode penelitian kualitatif dan teori dialog Swidler dan fiqh dari Sahal Mahfudz, tesis ini berusaha menjawab pertanyaan seputar fiqh sebagai sebuah metode alternatif dalam pengembangan dialog antaragama serta peranan Ma’had Aly sebagai agennya. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa Ma’had Aly telah berhasil merumuskan sebuah produk fiqh baru, fiqh dialogis. Dengan tiga strategi, revitalisasi ushul al-fiqh, penghadiran teks tandingan dan perluasan wilayah takwil, Ma’had Aly telah memproduksi sebuah fiqh baru yang memungkinkan untuk berdialog antara teks dan konteks. Fiqh baru ini juga memberi ruang bagi “yang berbeda” dan bersifat komperhansif dan bertanggung jawab baik secara sosial maupun secara metodologis.

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan