Kerawanan Kerusuhan Etnis Bugis-Makassar dan Cina di Kotamadya Makassar, Sulawesi Selatan

Judul: Kerawanan Kerusuhan Etnis Bugis-Makassar dan Cina di Kotamadya Makassar, Sulawesi Selatan 

Penulis: Mustamin (CRCS, 2006)

Kata-kata Kunci: etnis, konflik, kerusuhan

Abstrak:

 

Peristiwa Kerusuhan amuk massa di kota Makassar yang melibatkan etnis Bugis-Makassar dan etnis Cina dengan sentimen etnis seringkali diawali oleh kejadian yang hampir sama. Suatu peristiwa kriminal murni yang segera meluas menjadi kekerasan. Kekerasan dengan sentimen etnis merupakan akumulasi persoalan yang multidimensi yang berakhir dengan wujud serangan kepada etnis Cina. Dengan demikian, fenomena itu patut dikaji untuk memberikan pemahaman yang lebih luas tentang dimensi akar, penyebab, dan pemicu terjadinya kerusuhan sehingga mampu mengeliminir terjadinya kerusuhan.

 

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitis tentang problem di atas dengan menggunakan sumber data tertulis dan hasil wawancara dengan para narasumber dari etnis Bugis-Makassar dan etnis Cina di kota Makassar untuk mendapatkan gambaran umum kerusuhan dari dua sudut pandang. Substansi pertanyaan dalam wawancara meliputi dimensi-dimensi politik, ekonomi, sosial, budaya dan agama yang melahirkan potensi konflik dalam hubungan Cina dan Bugis-Makassar. Pendekatan sosiologis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi relasi antaretnis dalam bidang perdagangan, keterwakilan dalam bidang politik, dan apresiasi terhadap masing-masing budaya.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan dengan sentimen etnis dibangun oleh kondisi struktural ditandai dengan dominasi etnis Cina dalam bidang perdagangan yang tidak tersaingi oleh etnis Bugis-Makassar di kota Makassar. Sementara itu etnis Bugis-Makassar mendominasi bidang politik yang menjadi strategis bagi kebijakan dalam bidang sosial. Ketiadaan satu media yang mempertemukan etnis Cina dan etnis Bugis-Makassar adalah realitas yang melahirkan persepsi dan prasangka. Di tambah lagi dengan Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah ternyata justru memperkuat simbol-simbol identitas primordial etnis Cina dan etnis Bugis Makassar sehingga potensi kekerasan menjadi bersifat laten. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan suatu model pencegahan konflik kerusuhan dengan inisiatif lokal melalui pembentukan lembaga yang bersifat lintas etnis.

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan