Prof. Achmad Mursyidi: TIDAK ADA DAKWAH DI CRCS

 


Sejak awal berdirinya Program Studi Agama dan Lintas Budaya
atau Centre for Religious & Cross-cultural Studies (CRCS) di Universitas Gadjah Mada tahun 2000, Prof. Dr. Achmad Mursydi menjabat sebagai Direktur CRCS hingga tahun 2009. Ia merupakan saksi sejarah berdirinya program studi agama disebuah universitas yang tidak berafiliasi pada agama tertentu. Bagaimana latar belakang berdirinya CRCS, model pembelajaran seperti apa yang coba dikembangkan di CRCRS, serta harapan dan kenangan yang dimiliki selama di CRCS, berikut petikan wawancara Angie Wuysang dari CRCS dengan Prof. Dr. Achmad Mursyidi, M.Sc.


MursydiCRCS :Bisakah Bapak ceritakan bagaiman latar belakang didirikannya CRCS ini, dan sejauh mana keterlibatan Bapak?


Prof. Mursyidi    : Sebenarnya idenya dulu dari Pak Alwi Shihab, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri.  Beliau adalah mahasiswanya Pak John Raines di Temple University, USA.  Pak Alwi ingin agar di Indonesia ada lembaga pendidikan seperti yang pernah dia pelajari dulu di Temple University, di mana ada Comparative Religious Studies atau ilmu perbandingan agama.  Pak John Raines setuju atas permintaan Pak Alwi dan Raines pun berkunjung ke Indonesia.  Kemudian usul tentang porgram ini pun diupayakan untuk didirikan. 

Lalu karena ini mengenai pendidikan maka Menlu (Menteri Luar Negeri) tidak punya wewenang untuk itu, yang punya wewenang adalah Mendiknas (Mentri Pendidikan Nasional) yang waktu itu dijabat oleh Prof. Yahya Muhaimin.  Karena ini juga mengenai agama, maka melibatkan pula Menag (Menteri Agama). Jadi ada trio antara Menteri Luar Negeri, Menteri Diknas dan Menteri Agama.  

 

CRCS  : Mengapa di UGM, tidak di Universitas yang berafiliasi ke agama?

 

Prof. Mursydi : Setelah ada kesepakatan tiga menteri itu, lalu mulailah pemilihan lokasi.  Setelah dipikir-pikir, lembaga ini pokoknya tidak bisa di lembaga agama, dan tidak di lembaga perguruan tinggi agama.  Sebab, kalau nanti pelaksanaannya di lembaga seperti UIN (Universitas Islam Negeri), nanti orang-orang non-Muslim merasa tidak nyaman.  Pun kalau di lembaga Kristen, nanti orang-orang Muslim yang akan merasa tidak enak.  Lalu dipilihlah lembaga yang dianggap netral yaitu Universitas Negeri atau State University.  Dulu sempat terpikir untuk memilih Jakarta karena Depag (Departemen Agama) beroperasi di Jakarta, tapi tidak jadi. Karena agama dianggap dekat dengan filsafat, maka hendak dipilih universitas yang mempunyai program studi filsafat.  Pilihannya ada dua, Jakarta atau Jogja, Universitas Indonesia (UI) atau Universitas Gadjah Mada (UGM).  Di UI memang ada program studi Filsafat, tapi hanya jurusan dari Fakultas Sastra.  Kalau di UGM memang memiliki Fakultas Filsafat.  Jadi mestinya kalau memang akan dikembangkan, akan lebih bagus jika lembaga ini ada di UGM.  Lalu untuk meyakinkan itu, disamping satu faktor tadi dicarilah faktor yang lain: di Jogja pakar apapun ada.  Walaupun tidak di pusat pemerintahan tapi pakar agama apapun ada; Kristen ada, Hindu ada, Buddha ada.  Dan lagi, kalau nanti ada mahasiswa yang tidak berikatan dinas,  biaya hidup di Jogja terbilang murah. 

 

CRCS : Mengapa bisa Pak Mursydi yang dipilih jadi direkturnya, padahal latar belakang ilmu Bapak bukan agama tetapi farmasi?

 

Prof. Mursydi : Di awal tahun 2000 ketika sedang berada di Makassar, saya ditelpon Pembantu Rektor I UGM, waktu itu Professor Anwar.  Ketika itu saya bertugas sebagai Rektor di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.  Saya tanya ke Pak Anwar, mengapa dan apa dasarnya memilih saya? “You kan tahu, saya latar belakangnya apoteker.  Apa pertimbangannya memilih saya?”  Tapi dia minta saya agar langsung saja bicara dengan Pak Rektor, sebab dia yang memilih.  Jadi waktu itu saya tidak bisa mengatakan ya atau tidak.  Akhirnya sesampainya saya di Jogja, saya telpon Rektor UGM dan bertanya, kenapa saya?  Beliau menjawab, “kenapa bukan?”  Saya menawarkan Doktor Damardjadi Supajar dari Filsafat UGM.  Juga ada nama lain yang saya tawarkan.  Tetapi Pak Rektor tidak memberi komentar.  Beliau memberikan penawaran bahwa saya masih bisa terus mengurus UMY bila bertugas di CRCS. Sampai akhirnya, beliau mengungkapkan alasan memilih saya yaitu karena saya senang dengan pengajian-pengajian.  Memang di kalangan dosen saya senang mengurus pengajian-pengajian.  Begitu saja sebenarnya.  Akhirnya, saya katakan ya.  Padahal kalau bisa saya sebenarnya akan berkelit.  Jadi kisahnya seperti itu.

 

CRCS :  Setelah itu, apakah Bapak langsung membentuk CRCS?

 

Prof. Mursyidi : Oh, tidak.  Saya ini nol betul mengenai program comparative religion.  Maka saya kemudian diundang ke Jakarta, dipertemukan dengan John Raines.  Di Jakarta saya juga bertemu Pak Menteri, terutama, Pak Yahya Muhaimin.  Saya katakan bahwa saya sebenarnya tidak tahu tentang religious studies.  Kalau saya mempelajari agama saya, itu ya, tetapi religious studies saya tidak pelajari.  Lalu disana saya diajari, pokoknya begini, core religion-nya begini, begini.  Saya waktu itu mulai Februari 2000.  Lalu, saya harus berulang kali ke Jakarta.  Saya katakan ke Pak Menteri, kalau begini terus saya tidak bisa, tidak enak dengan UMY.  Lalu saya usul, kalau bisa di Jogja saja.  Jadi Selama dua minggu non stop, Pak John ke Jogja.  Dan, selama dua minggu itu alhamdulilah bisa selesai, setiap pagi dan sore. Ceritanya seperti itu. 

 

CRCS    : Bagaimana Bapak melihat sifat studi agama yang dikembangkan di CRCS selama masa kerja Bapak di CRCS ini?

 

Prof. Mursyidi  : Dulu, karena ketidaktahuan saya, saya membayangkan perbandingan agama itu sebenarnya harus seperti apa?  Saya memang dulu bertanya-tanya, bagaimana kalau agama satu dibandingkan dengan yang lain?  Yang jelas waktu itu kita sepakat dengan John Raines, pokoknya mata kuliahnya tidak ada dakwahnya.  Istilah dan arti dakwah semua pasti mengerti.  Jadi nggak boleh mahasiswa Islam mengajak mahasiswa non-Muslim masuk Islam, dan sebaliknya.  Ini harus fully academic.  Jadi artinya, Islam, yang dilihat ajaran Islam itu seperti apa, Kristen itu ajarannya seperti apa, Hindu seperti apa. Jadi as it is.  Yang penting ini tinjauannya dari tinjauan akademik, tidak tinjauan teologis.  Kalau teologis, bisa bentrok nanti.

 

Angie   : Menurut saya teologi tetap penting, sebab teologi yang antara lain membentuk agama.  Bagaimana menurut Bapak?

 

Prof. Mursyidi : Ya, tetapi tinjauannya tidak sampai teologis.  Misalnya begini, Islam dan Kristen berasal dari agama nabi Ibrahim, yang dasarnya sama, sampai pada akhirnya agak ada perbedaan.  Yahudi, kemudian Nasrani, dengan Islam, kan masih ada sedikit perbedaan, kalau sisi teologinya yang ditekankan nanti bisa runyam.  Misalnya status nabi Isa atau dalam bahasa Nasrani Yesus, itu berbeda di kedua agama.  Oleh karena itu, kalau diskursus Islam harus diajarkan oleh orang Islam, Kristen diajarkan oleh orang Kristen, Hindu diajarkan oleh orang Hindu, lalu sekarang gimana perbandingannya?  Kalau saya sebagai orang Islam mempelajari agama Kristen, otomatis saya sendiri membandingkan.  Agama Islam dengan Kristen itu bedanya di sini.  Walaupun saya juga mempelajari agama Kristen tetapi kan dari versi background saya sebagai orang Islam, pedoman pokoknya Qur’an.  Qur’an bicara apa tentang nabi Isa.  Qur’an berbicara apa tentang nabi Musa atau Moses.  Jadi kan beda dengan kalau orang Kristen mengatakan Yesus itu seperti apa.  Disini yang tidak boleh dipertentangkan karena secara teologis ada perbedaan antara orang Kristen dan Islam dalam memandang Nabi Isa.  Walaupun kadang-kadang, namanya diskusi ada perbedaan pendapat antara dosen dengan mahasiwa atau mahasiswa dengan mahasiswa untuk mendialogkan itu.  Tetapi kalau sudah dialog, tekanannya ada pada penilaian akademis tidak nilai teologis.  Kalau sisi kemanusiaannya, insya allah sama.  Misal, dalam melihat Palestina, secara  teologis ada perbedaan pandangan antara orang Kristen dan Islam, tapi secara kemanusiaan sama.  Orang Yahudi sendiri sudah banyak yang anti terhadap sikap Israel.  Tapi ini kan kemanusiaannya.  Kalau teologis memang berbeda.  Nah, oleh karena itu tidak ada dakwah, sehingga kalau diskusi jangan sampai terlalu dalam memasuki ranah teologis.  Ya, alhamdulilah di awal-awal kita tidak ada pertentangan yang berarti yang kemudian beradu argumentasi tentang aspek teologis, alhamdulilah.

 

CRCS    : Lalu apa signifikansi studi ini menurut Bapak?

 

Prof. Mursyidi : Nah, itu memang jangkanya lama.  Secara teoritis harapannya, kalau saya mempelajari agama Kristen yang sumbernya dari orang Kristen, saya akan bisa berempati.  Orang Kristen bisa paham cara pandang Islam terhadap Nabi Isa atau Yesus. Jadi saya tidak memaksakan cara pandang Islam tentang Yesus kepada orang Kristen. Ini tidak boleh karena kita memang beda.  Dengan begitu, harapannya kalau nanti ada perbedaan di masyarakat, kita bisa menjelaskannya.  Contohnya sederhana saja, kalau kita makan sambal, itu pedas, tapi kan orang lain senang.  Itu adalah masalah rasa.  Kalau keyakinan itu nggak bisa dipaksakan.  Kalau dari pergaulan kemudian mereka berubah sedikit demi sedikti baik dari Islam ke Kristen dan sebaliknya, ya itu soal lain.  Signifikansi yang lain ialah, karena kenyataan sering terjadi konflik, jadi minimal kita bisa menjadi penengah-lah.  Kita Islam dan Kristen jangan dibenturkan, jadi similarities-nya yang digunakan.  Semboyannya kan, we agree and disagree.  Intinya, pendidikan di CRCS itu kan a long time investment.  Yang penting kalau ada konflik, kita tidak ikut-ikutan ekstrem seperti kelompok-kelompok di mana kita tinggal.  Saya pribadi mulai berempati dengan bagaimana orang Kristen memandang agamanya sejak awal saya di CRCS.

 

CRCS    :  Bagaimana Bapak melihat potensi dan sumbangsih lembaga seperti CRCS ini di Indonesia yang agamanya majemuk dan Islam yang secara demografis mayoritas? 

 

Prof. Mursyidi  : Ya itu yang saya bilangnya ini long term.  Harapan orang-orang lulusan CRCS suatu saat nanti akan punya posisi.  Nah, kalau kita sudah in position, kita sudah bisa menentukan kebijakan.  Supaya ada kesadaran bahwa memang kita diciptakan Tuhan dengan beragam, tidak hanya satu jenis.  Jadi bagaimana kita me-manage keragaman itu untuk kebaikan.  Ini adalah peluang yang dimiliki CRCS.  Seperti misalnya, sejak di CRCS ini saya berubah sikap, setidaknya lebih toleran terhadap orang lain.  Meskipun saya banyak mendapat cercaan soal ini namun soal akidah dan keyakinan teologis saya tidak berubah.  Dengan berkomunikasi dengan orang lain, seperti yang sedang dan sementara terjadi di CRCS, kita akan mampu berempati.  Dulu di CRCS saya juga sangat mengharapkan dan menekankan supaya yang Muslim semakin Muslim, yang Kristen semakin Kristen.  Jadi kalau kita meyakini sebuah keyakinan, yakinilah itu dan praktekkan.  Orang-orang mengatakan bahwa saya ini terlalu ketat; saya sih suka-suka aja.

 

CRCS    :  Tantangan kedepan yang mungkin akan dihadapi CRCS menurut Bapak apa?

 

Prof. Mursyidi  : CRCS harus bijak menanggapi isu-isu, baik isu dirinya yang dituding sebagai agen Amerika juga isu pendangkalan akidah.  Saya suka bilang, kalau anda mau tahu CRCS,  ya jangan lihat dari luar.  Anda masuk kedalam dan lihat apa sebenarnya yang sedang terjadi disana; diskusinya seperti apa, pengajarannya seperti apa.  Dulu, untuk menampilkan kesan bahwa kita tidak too American, maka kita juga menerima bantuan dari Lybia.  Beasiswa dari Amerika itu kan ditujukan buat yang Muslim maupun yang non-Muslim, maka yang dari Lybia juga begitu.  Bantuan dari Lybia ini juga antara lain untuk menepis anggapan bahwa kita ini agen Amerika.  Tapi juga, kita ini bukan agennya Lybia.  Karena ini kan for the sake of the institution, not for the sake of religions.  Nah, nanti kalau ada negara-negara Timur Tengah yang akan membantu saya kira ini akan lebih baik.  Kebetulan Zainal Abidin Bagir (direktur eksekutif CRCS waktu itu- ed.) kan turunan Arab, siapa tahu Pak Zainal  dan Pak Alwi Shihab bisa mencari dukungan dari Timur Tengah, biar seimbang.    

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan