Politik Identitas Mayoritas-Minoritas Di India

Politik Identitas Mayoritas-Minoritas Di India Wawancara dengan Ram Kakarala

Ram adalah sarjana India yang berasal dari bagian selatan India. Dia tinggal di sebuah kota yang bernama Banghalore, dan bagian dari perjalanan CSCS (Pusat Studi Budaya dan Masyarakat). Dalam wawancara ini, Ram menguraikan bagaimana hubungan mayoritas Hindu dan minoritas Islam maupun Kristen menjadi permasalahan penting dalam hubungan antar agama di India sejak tahun 1980an. Selain permasalahan radikalisme umat Hindu, India juga menghadapi permasalahan perbatasan dengan Pakistan dan munculnya beberapa gerakan separatisme, karena itu Ram menegaskan bahwa permasalahan India sesungguhnya mirip dengan apa yang dihadapi oleh pemerintah Indonesia.

Hatib: Bisakah anda ceritakan siapa anda?

Ram: Untuk singkatnya nama orang memanggil saya dengan Ram. Latar belakang saya sendiri, awalnya saya belajar di studi perdagangan, lalu belajar filsafat politik. Kemudian studi sosiologi politik. PhD saya adalah sosiologi politik dengan studi empiris mengenai hak asasi manusia dalam beberapa komunitas di India. Lalu saya belajar hukum hak asasi manusia. Dan saya pikir mengajar di undang-undang di sebuah universitas selama sepuluh tahun, sebelum pada akhirnya berpindah ke CSCS. Jadi saya adalah seorang hibrid, yang belajar dari teori politik, filsafat politik, dan sebagian hukum hak asasi manusia.

Hatib: Dan apa itu CSCS sendiri?

Ram: Ini adalah pusat studi interdisipliner. Secara luas ini disebut sebagai kajian budaya, tetapi juga memfokuskan pada studi ilmu-ilmu sosial dan media. Di fsayaltas ini, saya juga punya mahasiswa yang berasal dari non ilmu sosial subjek, seperti medis, psikoterapi, arsitektur hingga sastra Inggris. Kami memiliki sekitar 30 PhD siswa sampai tahun ini. Untuk tahun ini kami memiliki sekitar 15 PhD mahasiswa, sehingga secara total kami memiliki sekitar 44-45 PhD, dan kami memiliki 15 fsayaltas. Jadi bukan tentang besar atau kecilnya sebuah universitas, meskipun jumlah mahasiswa PhD kami terus meningkat, tapi fsayaltas kami sendiri masih sekitar 15. Dan belakangan ini pula, sebagian besar ada yang yang juga menjadi sebagai asisten profesor, associate professor, senior fellow, research fellow dll, jadi kami mengikuti pola beberapa lembaga riset di Amerika Serikat. Ini adalah lembaga yang masih sepuluh tahun, tidak terlalu tua, dan didanai secara swasta.

Hatib: Saya ingin melihat kembali ke belakang, bagaimana anda melihat bahwa orang tua anda membentuk pemikiran anda tentang dunia dan tentang orang India?

Ram: Ayah saya adalah seorang imam, dan ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga. Kemudian latar belakang pendidikan ayah saya adalah seorang Sanskrit, karena ia adalah seorang imam. Dia tidak sekolah seperti sekolah yang saya pelajari kini. Jadi orientasi hidup mereka bukan untuk memikirkan tentang bangsa India atau negara, tetapi orientasi mereka untuk hidup adalah tentang lingkungan, di mana Anda berada, dan jenis perilaku yang harus anda miliki. Jadi tentang bagaimana berhubungan dengan diri sendiri, dengan tetangga, keluarga, masyarakat Anda, dan untuk kota anda. Nilainya ada disana. Saya juga mendapatkan kenyataan bahwa saya sekarang berusia 49tahun, jadi kembali sekitar 40 tahun yang lalu di masa kanak-kanak, komunikasi di India tidak begitu banyak berkembang dan saya tinggal di kota yang sangat kecil, sampai saya berada di 20-21 saya tinggal di kota yang sangat kecil dan pemerintahannya sangat miskin dan saya menjadi sarjana di sebuah perguruan tinggi di kota itu. Saya belajar dari orang tua saya bahwa seluruh orientasi pertanyaan bukan tentang bangsa yang besar tapi bagaimana bergaul dengan baik dalam komunitas

Hatib: Lantas, bagaimana bahasa dan budaya mengkonstruksi sikap dan pemikiran anda?

Ram: Tidak seperti di Indonesia, di mana ada bahasa kesatuan nasional. Kami, India untuk beberapa alasan hidup dengan bahasa sendiri-sendiri, jadi berbicara bahasa Inggris di antara kami sendiri jika kami adalah orang yang melek huruf atau elit, tapi sebaliknya kami berbicara bahasa lokal kami sendiri juga. Jadi bahasa ibu saya disebut Tehlu, dan bahasa daerah lain berasal dari Banghalore disebut sebagai Tanada. Mereka memiliki beberapa kesamaan seperti bahasa melayu dengan bahasa Indonesia. Dalam hal skrip, saya juga mengerti bahwa aksara Jawa dekat dengan satu bahasa di bagian selatan India kami menyebutnya Malealm, yang di Kerala dan Tamil. Jadi kesamaan jika saya tunjukkan antara skrip Malealm dan skrip Tamil sangatlah dekat dalam hal naskah-naskah tulisan.

Hatib: Jika Anda membandingkan dengan Indonesia, apa yang merupakan masalah penting di India?

Ram: Kita memiliki masalah yang hampir sama. Tentu saja masalah yang kita hadapi adalah sedikit berbeda, namun sebenarnya jenisnya sama. Ketegangan antara kelompok-kelompok keagamaan di India dan ketegangan dalam Islam pada kasus di Indonesia, seperti yang saya mengerti adalah hampir sama. Tapi kalau disini adalah ketegangan diskusi antara kaum Radikalis dan Liberalis. Di India, adalah ketegangan adalah antara Mayoritas Hindu dan Islam minoritas, atau mayoritas Hindu dan minoritas Kristen. Seperti yang anda tahu, di India kita memiliki kategori yang luas dengan yang disebut Hindu. Saya sendiri tidak mengerti, meskipun saya seorang Hindu secara lahir. Dan bagaimana Anda menggambarkan diri Anda sendiri? Jadi saya akan mengatakan bahwa saya seorang Hindu karena status kelahiran sedangkan skeptis oleh iman, karena saya tidak sungguh-sungguh mempraktikkan Hindu, meski saya berasal dari keluarga yang sangat serius mempraktikkan ajaran Hindu. Adik saya misalnya, adalah seorang yang sangat ortodoks, dia menjadi penerus keimanan keluarga, tapi saya benar-benar keluar dari makna iman itu sendiri, dalam arti tertentu. Tetapi kategori yang disebut Hindu adalah sebuah masalah, karena begitu banyak jenis praktek di dalamnya. Seperti yang anda tahu kata-kata yang sering dipakai oleh beberapa etnolog bahwa kami memiliki jutaan Tuhan (million Gods). Jadi dengan kata lain, satu orang memiliki lebih dari satu Tuhan. Jadi ini adalah permasalahan beragamnya gaya hidup yang tidak terpusat pada satu hal saja. Orang tahu Bhagavad Gita, tetapi kebanyakan orang juga tidak mempraktekkannya. Ceritera Rama dan Mahabharata, mereka bukanlah Kitab Suci yang menuntun anda cara berperilaku, tetapi mereka akan memberikan cerita tentang Krishna, Rama, dan lain-lain itu saja. Jadi Hindu adalah struktur agama yang sangat longgar. Ada beberapa orang menyebut bahwa ini bukan agama. Salah satu petinggi hukum menyebutnya Hindu bukan agama, tetapi hanyalah cara tentang hidup. Itulah masalah yang kini saya pikirkan.

Hatib: Bagaimana anda melihat minoritas Islam dan Kristen di wilayah bagian barat India india yang berhadapan dengan Mayoritas Hindu?

Ram: Kami memiliki populasi Muslim yang besar, persis di sejajar dengan Indonesia dalam hal populasi. Bahkan tidak Pakistan, Mesir ataupun setiap negara di Timur Tengah yang mampu mendekati jumlah Muslim di India dan Indonesia. Kami memiliki 13% populasi muslim di India, jadi sekitar 116 juta umat Islam tinggal di India. Ini adalah populasi yang sangat besar. Kedua, pengaruh agama ini sifatnya tidak ditularkan dari satu titik, tidak di satu bagian, melainkan tersebar di seluruh India, karena setiap desa pasti ada. Islam sangat tertanam baik di India; setiap desa kecil dan setiap bagian dari India memiliki populasi Muslim yang sangat hidup. Di beberapa daerah, jumlah mereka jauh lebih banyak daripada rata-rata tingkat pertumbuhan penduduk nasional, seperti Kerala, dan Uttar Pradesh di bagian utara India. Beberapa wilayah kurang dari rata-rata nasional, dan di bagian barat, dimana Portugis pernah lama menjajah sebelum kemerdekaan India, umat Kristen berjumlah 2,1% jauh lebih besar daripada rata-rata pertumbuhan penduduk nasional. Jadi ada variasi. Tapi secara umum rata-rata nasional ada 116 juta orang Muslim. Disamping itu, ada sebesar 800 juta Hindu yang tidak menganggap diri mereka sebagai kelompok identitas Hindu yang tunggal. Dan kami juga mempunyai sekitar 25 juta orang Kristen. Ini adalah satu tingkat diskusi yang sangat menarik.

Hatib: Apakah menurut anda bahwa ketegangan antara agama dan pengikutnya, baik di Indonesia atau India merupakan bagian dari kegagalan ide sekularisme?

Ram: Tepatnya di India, diskusi ini terdiri dari dua hal, pertama, ketegangan antara Hindu dan Islam, dan antara Hindu dan Kristen, yang baru saja terjadi tidak terlalu lama sekitar empat atau lima tahun lalu. Tapi ketegangan antara Hindu dan Islam telah terjadi dalam waktu yang lama sejak tahun 1980-1981. Munculnya ketegangan menunjukkan kegagalan negara, bukan kegagalan sekularisme. Ada kelompok hak asasi manusia, ada organisasi-organisasi politik sekuler seperti partai kiri dan kita masih memiliki parlemen komunisme, kami juga memiliki Maoisme, dan kami memiliki kelompok kecil gerakan gerilya yang sekarang tinggal di hutan. Kadang-kadang mereka menciptakan semacam politik sensasional. Jika Anda mengikuti berita beberapa bulan yang lalu mereka menduduki salah satu kota kecil di negara bagian Benghal, mereka memegang kendali dan tentara butuh waktu sekitar dua minggu untuk membunuh beberapa dari mereka dan mengusir mereka dari tempat itu. Ini adalah cerite tentang Maois yang masih eksis, mereka memang ada. Dan sebagian besar parlemen Marxis masih memerintah di Kerala dan di barat Benghal. Jadi, ada kelompok yang cukup besar. Jadi saya menganggap mereka sebagai partai sekuler, karena mereka tidak memerlukan hukum agama dalam melakukan pengambilan suara. Lalu saya membayangkan bahwa sebagai seorang muslim anda disumpah berdasarkan Al-Quran dan jika anda adalah seorang Hindu anda mengambil suara di Bhagavad Gita. Marxis bersumpah suara pada apa yang mereka perdulikan, dan kemudian mereka mengatakan bahwa mereka bersumpah atas kesadaran mereka sendiri. Jadi berdasarkan kesemuanya diatas, ini adalah kegagalan negara.

Hatib: Jadi bagaimana aturan Negara yang seharusnya?

Ram: Ada akademisi kritis yang mengatakan bahwa ini adalah kegagalan istilah sekuler seperti yang kita mengerti. Salah satu argumen mengatakan bahwa sekularisme memecahkan ketegangan antara agama. Dengan kata lain, jika ada ketegangan antara kelompok A dan kelompok B selalu ditengahi oleh Negara yang harus datang dan menyelesaikan masalah tersebut, dalam kenyataannya, masyarakat menyelesaikan sendiri. Jadi argumen bahwa konstituen orang harus mengandalkan pada negara. Tapi, dalam kenyataannya negara tidak pernah untuk memecahkan masalah, karena negara sebagai pelaku yang netral adalah asumsi yang salah.

Hatib: Jadi bagaimana keadaan minoritas Muslim di India sekarang?

Ram: Mari kita berbicara tentang salah satu sumber utama dari permasalahan, ada tempat fiktif, yang disebut Ayutthaya. Ini adalah tempat mandi untuk Rama, menurut ceritera Ramayana, tetapi yang mana Ayutthaya kita tidak tahu, tapi ada kota bernama Ajodhya di India Utara dan BJP, Partai Barathya Janata dan apa yang kita disebut keluarga besar Sangh (pemuda, mahasiswa, organisasi perempuan ), Sangh adalah organisasi fundamentalis Hindu, menyebut Ajodhya sebagai Ayutthaya. Masalahnya adalah ada satu kuil yang berdekatan dengan sebuah masjid. Di masa lalu, ada sejumlah struktur antaragama, ada beberapa struktur seperti candi dan masjid, dan ada ketegangan antara Hindu-Budha karena adanya pendudukan pada tempat suci Buddha, beberapa orang Hindu kemudian menempatinya dan meletakkan patung Siwa di dalamnya. Jadi praktek-praktek seperti ini terjadi terus-menerus dalam waktu yang lama. Kini, kelompok-kelompok Hindu tidak berbicara tentang apa yang mereka lakukan untuk Buddha dan Islam. Mereka benar-benar tampak anarki. Jadi umat Hindu meminta kaum Muslim untuk menghancurkan masjidnya, dan meminta untuk diberikan kepada mereka. Jadi umat Muslim diminta memberikan masjid untuk umat Hindu, karena mereka ingin membangun sebuah kuil dengan penalaran bahwa ini adalah bagian dari Ajodhya kota suci tersebut. Ini terjadi pada tahun 1994. Jelas umat Islam menolaknya, karena bukan masalah yang baru terjadi pada tahun 1994, melainkan adalah permasalahan pada awal kemerdekaan 1949-1950. Sebenarnya apa yang dilakukan kelompok Hindu pada awal tahun 1950-an bahwa mereka mengambil patung Rama, dan memasangnya di tempat yang sekarang dianggapnya sebagai masjid, kemudian mengatakan bahwa ini adalah sumber konfliknya. Jadi didasarkan pada isu tunggal ini, mereka menciptakan seluruh gerakan, yang disebut gerakan untuk memperoleh kembali tempat kelahiran Rama. Itu terjadi pada tahun 1950 yang mengubah hubungan Hindu-Muslim secara signifikan. Sekarang pertanyaannya adalah, apakah polisi dan tentara cukup netral dalam mengatasi kasus ini? Mereka netral kadang-kadang, tapi mereka tidak netral dalam banyak hal. Jadi, sebagai akibatnya upaya negara untuk melakukan pemecahan masalah menjadi bagian dari masalah itu sendiri. Jadi kita tidak bisa melihat bahwa sekulerisme ditempatkan pada negara, melainkan menempatkan sekulerisme sebagai bagian dari pola piker kita.

Hatib: Apakah menurut anda bahwa gagasan Abdullah An Naim megnenai “Civic Reason” dapat di terapkan di India dalam menghadapi radikalisme dari BJP misalnya, dan penyelesaian diskriminasi terhadap minoritas?

Ram: Kami belum serius menerapkan konsep tersebut, tapi memang mungkin ada manfaatnya konsep tersebut untuk memunculkan rasa kewarganegaraan. Dalam kasus India, terutama untuk jika berbincang tentang masyarakat Muslim di India, di sini adalah Islam adalah minoritas. Dan mayoritas memiliki zona nyaman di dalamnya, meskipun Muslim di India memiliki jumlah yang besar, tetapi mereka masih tetaplah minoritas. Bagaimanapun juga minoritas tidak akan senyaman dengan mayoritas, karena selalu ada ketegangan besar dengan mayoritas. Jadi logika identitas bagi masyarakat Muslim India, dalam pengertian saya, sangat berbeda dibandingkan dengan logika identitas Islam di Indonesia. Kedua, karena sebagai minoritas cenderung untuk dimasukkan ke dalam struktur tunggal. Ada keseragaman, Orang-orang di Tamil Nadu hanya berbicara Tamil, mereka tidak berbicara bahasa Hindi. Hingga saat ini mereka mulai berubah, karena semua Muslim di India cenderung bergerak ke arah yang disebut bahasa Urdu, yang berakar dalam bahasa Persia dan Arab. Bahasa ini muncul pada abad ke-19 melalui Persia dan Arab. Urdu digunakan secara luas di bagian lain DARI India. Jadi secara kebahasaan, terdapat kemajemukan kelompok yang sangat beragam.

Hatib: Apakah menurut anda bahwa, Pakistan yang terpisah dari India, dan Bangladesh yang dipisahkan dari Pakistan, adalah permasalahan mayoritas dan minoritas dan bagaimana pendapat anda ketika ide nasionalisme berhadap dengan gagasan Pan-Islamisme dan pan-Hindu?

Ram: Itu pertanyaan besar. Hindu fundamentalis percaya bahwa semua benua Asia Selatan sebagai bangsa yang bersatu. Filosofi mereka mereka bertujuan untuk membangun kembali India dalam kesatuan yang meliputi negara Asia Selatan. Jadi, India, Pakistan, Nepal, Bhutan, Bangladesh, semuanya diletakkan bersama-sama, hal itu disebut “India yang tidak terbagi”. Asumsinya bahwa India adalah Negara yang terpecah, karena itu harus kembali dibangkitkan. Ide untuk membangun India yang tidak terbagi adalah hal yang utopis. Jadi itu adalah sebuah masalah. Dalam pandangan saya, ini adalah keputusan politik yang diambil secara pragmatis. Telah ada proses pada awal abad ke-20 ada Islam yang percaya bahwa mereka harus mengklaim kembali tanah air mereka yang berbeda dan terpisah dari India. Inggris mengambil kesempatan ini dengan membagi antara kelompok Muslim dan Hindu. Partai Kongres tentu saja memiliki beberapa pemimpin Islam yang sangat menonjol dan baik hati, tapi itu saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah. Tentunya ada rasa sentimen. Munculnya sentimen ini dengan jelas mulai terjadi karena berpisahnya Pakistan, 1947 dan menjadi suatu bangsa. Ini adalah keputusan politik. Ada begitu banyak negara-negara yang lahir karena alasan politis. Pembagian Pakistan dan India disebut kompromi yang diperlukan pada saat itu sebagai salah satu solusi perlu dijalankan. Tentu saja ada ratusan ribu orang meninggal akibat dari adanya perpisahan Pakistan ke India dan munculnya rasa trauma di Asia Selatan, mungkin ini adalah bencana terbesar di abad ke-20. Jadi saya piker nasionalisme tidak ada hubungannya dengan bentuk-bentuk alam sebuah Negara, melainkan nasionalisme adalah tentang hasrat politik. Jika anda melihat Nasionalisme Tamil di Srilanka, itu hanyalah gerakan politik, karena berdasarkan adanya diskriminasi dan kesenjangan konstitusional, ditambah dengan berbagai masalahlainnya yang berpotensi kuat memunculkan adanya gerakan separatisme. Dalam kasus India, kita mengenal wilayah Nagas, dengan penduduk sekitar dua ratus ribu. Mereka ingin merdeka di tahun 1946, karena mereka tidak pernah ditaklukkan oleh Inggris sepenuhnya. Akibatnya, impian Nagas menjadi tanah yang merdeka tercapai pada saat ini. Jadi sekali lagi, nasionalisme adalah gerakan politik.

Hatib: Bagaimana pandangan anda terhadap Pemilu terakhir di India yang memenangkan Partai Kongres dan menurutmu anda apakah ini dapat menyelesaikan masalah Kashmir untuk masa depannya?

Ram: India adalah negara penuh dengan kontradiksi, jelasnya satu tahun yang lalu, sebelum pemilihan, semua rekan-rekan sekuler berada dalam depresi berat karena berbagai masalah. Lihat Gujarat, dimana kekerasan komunal yang terjadi 5-6 tahun yang lalu. Ini adalah tempat dimana pemerintah yang secara langsung terlibat. Ada banyak bukti yang menunjukkan pemerintah tampak putus asa. Dan melihat partai Kongres saat ini, adalah prestasi ajaib. Bahkan partai yang berkuasa tidak mampu mencapai prestasi tersebut kembali. BJP tidak melakukan pembangunan langsung terhadap masyarakatm sehingga mereka kehilangan beberapa aliansi pentingnya. Seperti dalam kasus Upanishad, di mana terdapat kerusuhan antara kelompok Hindu dan Kristen sebelum pemilihan. Partai regional setempat memisahkan diri dari BJP. Jadi, sekarang BJP adalah partai keempat, partai terbesar adalah Partai Dallit. Sejak menjadi partai terbesar di India, BJP menjadi nomor keempat, sehingga cukup mengejutkan bagi BJP dan mengejutkan untuk Partai Kongres yang mencapai partai terbesar ketiga. Tapi, saya tidak merayakan kemenangan partai Kongress dalam Pemilu akan memecahkan krisis di Kashmir, karena elit India hari ini memecahkan masalah Kashmir tidak dengan menggunakan wilayah politik, atau kekuatan kedaulatan, melainkan dengan bisnis dan pembangunan ekonomi. Dengan melakukan bisnis lintas batas ini akan menjadi lebih mandiri, dan perlahan-lahan masalah Kashmir akan terselesaikan.

Hatib: Ok, pertanyaan terakhir saya, saran apa yang akan Anda berikan kepada siswa anda yang merencakan pendidikannya untuk masa depan mereka?

Ram: Semua kelas PhD saya, dalam UU sekolah atau dalam kelas musim panas (summer class), saya selalu berkata dalam kelas-kelas ini untuk mencoba dan belajar bagaimana membaca teks. Secara umum, saya tidak memberikan resep, Saya tidak mengatakan “Anda harus melakukan ini, atau anda harus melakukan itu!” Saya akan mengatakan mari kita membaca teks-teks dan bagaimana kita menafsirkannya. Dan biasanya hasil dari interpretasi menghasilkan perbedaan pendapat, dan kemudian kita mencoba melihat mengapa kita menghasilkan perbedaan pendapat tersebut. Jadi sebenarnya, kita berusaha untuk melakukan latihan metodologi. Bagi say, pedagogi adalah pengalaman yang paling penting. Jadi apa yang saya lakukan dengan para murid adalah semacam membaca secara kolektif membaca dan berbagi penafsiran.

Hatib: Ok Terima kasih.

(HAK)

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan