MC. Ricklefs: Polarisasi Aliran dan Politisasi Agama dalam Masyarakat Indonesia

Ricklefs adalah ilmuwan sejarah yang sangat “menguasai” Indonesia, beberapa naskahnya sudah banyak dinikmati oleh orang Indonesia maupun oleh Indonesianis. Berikut adalah petikan wawancara CRCS (Hatib) dengan Ricklefs di Singapura mengenai Polarisasi Masyarakat Jawa. Meskipun demikian, perbincangan pun mengalir hingga menyangkut topik masuknya Islam abad 14, munculnya istilah abangan buat orang Jawa di pertengahan abad 19, konstelasi politik keagamaan terkini, dan masa depan polarisasi keagamaan masyarakat Indonesia. Wawancara ini akan lebih mengasikkan, bagi mereka yang telah membaca Polarizing Javanese Society. Islamic and Other Visions (C. 1830-1930) (2007), salah satu karya Ricklefs yang cukup ambisius.

CRCS: Apa kabar baru dari bentuk polarisasi Islam di Indonesia?

Ricklefs:Ya sangat dinamis, di Jawa itu ada hal yang umum di mana orang yang bekas PKI, lalu masuk Kristen, dan juga banyak yang berlatar belakang kebatinan, meski sebagian memang masuk Islam, tapi sebagian juga masuk Kristen. Baru-baru ini ada informasi dari Jawa Barat, oleh kolega saya, Pak Ali, itu menarik sekali, karena ada satu kelompok yang mempunyai agama tersendiri, agama Jawa Sunda Wiwitan. Itu jadi semacam kebatinan, lalu mereka menganut kepercayaan itu. Dan pada awal Orde Baru mereka merasa terancam, lalu masuk Kristen, sekarang keluar lagi dan mendirikan lagi agama Jawa Sunda Wiwitan itu. H: Ini nasibnya persis seperti kaum ”abangan” di Jawa, lantas ke mana sekarang entitas yang dianggap “abangan” atau kepercayaan Jawa itu?

Ricklefs: Kesan saya begini, sampai abad pertengahan sembilan belas itu, kelompok abangan baru muncul. Dan pada tahun 1950-an kelompok abangan itu ada yang merepresentasikan mereka, yakni dua partai yang sangat kuat sekali pada waktu itu PNI dan PKI. Kalau kita lihat, pada kampanye tahun 1950-an itu menarik sekali, ada polarisasi antara kelompok santri antara Masyumi dan NU yang sangat berbeda sekali. Selain itu, pada waktu itu, mayoritas orang Jawa, yang sama juga dengan mayoritas orang Indonesia lainnya, buta huruf, mereka tidak dapat membaca. Sehingga yang penting adalah slogan-slogan, simbol, nyanyian dsb yang digunakan sebagai kendaraan politik. Slogan tersebut, misalnya, PKI dicap sebagai Partai Kriminal Indonesia. Kenapa PKI dianggap seperti itu? Karena mereka akan mencuri tanah. Sedangkan NU dianggap sebagai partainya wong Nunggu Udan (Menunggu Hujan), karena mereka dianggap tidak bergerak.

Selain itu, ada perpindahan, orang santri yang tinggal dalam kampung abangan pindah ke kampung santri, demikian juga sebaliknya. Menarik juga ada laporan dari tim penelitian Geertz, Robert Jay, yang melakukan penelitian dengan Geertz sekitar pada tahun 1953, tapi Jay kembali lagi pada tahun 1958, dan ada satu laporan yang menarik sekali. Jay mengatakan bahwa pada waktu pertama kali dia datang, biasanya perempuan santri tidak selalu memakai kerudung, perempuan abangan biasanya mengenakan kerudung ketika keluar rumah. Sedangkan pada tahun 1958 perempuan santri tidak pernah keluar dengan tidak mengenakan kerudung, dan perempuan abangan tidak pernah sama sekali mengenakan kerudung lagi. Ini adalah satu tanda bahwa perbedaan itu sangat digarisbawahi. Dan puncak perbedaan ini adalah pada pertengahan tahun 1960 an yang berakhir dengan pembunuhan massal. Tapi menurut saya, ada satu langkah lagi, yakni fusi parpol-parpol pada tahun 1970-an. Dulu pihak abangan selalu diwakili oleh Parpol, selain itu tidak ada, justru karena budaya abangan agak anti institusi sebenarnya.

Semua institusi yang tidak begitu kuat mewakili agamanya, seperti abangan itu dihapuskan. Berbeda dengan pihak santri, walaupun parpol-parpol dianggap tidak ada, mereka masih mempunyai pengajian, rumah sakit, badan amal usaha, ada sekolah, ada pesantren. Jadi banyak sekali institusi yang masih membela dan mewakili pihak santri. Oleh karena itu, gelombang islamisasi itu, mampu berjalan tanpa ada halangan sama sekali. Tidak ada institusi yang menghalangi sama sekali. Karena itu, sebetulnya agak susah menghitung berapa banyak orang abangan, berapa banyak orang Islam, semua survey dan sebagainya agak kesulitan. Menurut perhitungan saya, pada tahun 1950 an, mungkin kira kira ¼ orang Jawa adalah santri, itu berdasarkan berapa banyak orang yang membayar zakat. Misalnya orang-orang abangan banyak sekali yang memilih parpol NU, karena mereka mengakui kepemimpinan seorang kyai sebagai pemimpin masyarakat, walaupun tidak bersembahyang, tidak berpuasa, dan sebagainya. Namun sekarang ini orang yang mengaku diri sebagai abangan mungkin tidak lebih dari 1/4. Perubahan seperti di atas merupakan sebauh perubahan sosial yang sangat mendasar. Hipotesis saya ialah fenomena ini juga berdasarkan satu proses di seluruh dunia, semenjak tahun 1960-an, hampir semua agama di seluruh dunia menguat, yang pertama adalah gerakan protestan di Amerika, lalu sesudah itu tahun 1970-an Islam, tahun 1980-an justru Hindu. Dan Indonesia merupakan sebagian dari fenomena itu. Kesadaran agama itu hampir menguat di seluruh tradisi keagamaan di seluruh dunia, kecuali di Eropa, itu yang menarik sekali, kenapa tidak terjadi di Eropa? Ini suatu pertanyaan yang besar sekali.

CRCS: Jadi mereka yang belong to PDI itu belum dianggap abangan pada tahun 1970-an?

Ricklefs: Orang-orang yang masih dianggap sebagai abangan masih ada, mereka akan berkoalisi dengan Golkar dan PDI P juga masih banyak. Justru sebaliknya, dari informasi kami, ada satu kasus yang menarik di Kediri. Karena keputusan MK (Mahkamah Konstitusi) yang menetapkan kemenangan calon legislatif berdasarkan suara terbanyak mempunyai dampak penting sekali. Karena pada umumnya, partai politik di Indonesia itu lemah, sedangkan sekarang lebih lemah lagi. Sebab orang memilih berdasarkan orang, bukan partai. Di sana ada contoh kasus kader PPP yang menarik sekali, ada orang dari satu kampung yang menganggap diri sebagai abangan yang kuat sekali, tidak pernah sembahyang, tidak pernah ke mesjid dan sebagainya, tapi ia menjadi calon kader PPP yang mendukung PPP bukan karena partai itu, tapi karena dari kampungnya. Ini menunjukkan polarisasi mulai memudar. H: Kalau relasi antara santri-abangan; santri-priyayi; priyayi-pemerintah kolonial sejak usainya Perang Jawa; gerakan mesianistik-pemerintah kolonial; SI-Muhammadiyah, Boedi Oetomo-Taman Siswa; dan relasi gerakan Tarekat Naqsabandiyyah dan Satariyyah itu telah terpetakan, baik relasi maupun polarisasinya, lantas bagaimana dengan relasi abangan dengan pemerintah kolonial? R: Begini, pemerintah kolonial Belanda selalu mengajak kerjasama dengan elit. Kalau ingin memperdayakan masyarakat itu sebenarnya hanya pada tingkat politik, jadi supaya melancarkan upaya-upaya pasti mereka memilih priyayi yang punya ketaatan tinggi. Mereka juga sering mencurigai misionaris-misionaris, karena mereka menganggap bahwa misionaris itu sebagai orang orang yang akan menimbulkan kesulitan dalam masyarakat. Jadi, sebenarnya, bukan orang Kristen yang mendapatkan dukungan, melainkan orang Islam kebanyakan yang juga priyayi. Orang abangan kebanyakan yang tinggal di kampung hubungannya agak jauh dengan pemerintah kolonial, jadi hubungan mereka dengan Priyayi. Kalau pemerintah Jepang, justru memobilisasikan kaum abangan. Berbeda dengan tujuan Belanda yang selalu untuk mengontrol masyarakat, tujuan Jepang adalah memobilisasi.

CRCS: Lantas bagaimana dengan gerakan mesianistis sempalan atau juga gerakan kebatinan yang muncul sejak 1850 dan marak di 1870-1880-an?

Ricklefs: Hampir semuanya itu berasal dari pihak abangan, karena kehidupan spiritualitas mereka juga sangat kental sekali, penuh dengan roh-roh, dan kekuatan ghaib. Tapi biasanya jika kita melihat gerakan kebatinan seperti ini selalu hampir bergantung kepada pemimpin. Jadi, sesudah pemimpinnya meninggal, biasanya gerakan ini akan mati. Kalau kita melihat sekarang misalnya, setahun yang lalu saya di Surabaya dan melihat ada seorang tokoh kebatinan. Bapak tersebut menginformasikan ada suatu pertemuan kebatinan di Jawa Timur. Menurut dia ada 4.000 orang yang hadir, dan dia bangga sekali. Kalau kita kembali pada awal tahun 1970-an, ada sensus di Solo, pada waktu itu mereka belum punya kategori-kategori agama yang resmi, itu mereka masih mencatat kebatinan dan jumlah penganutnya sekitar 40 ribu orang. Jika misalnya masing-masing di seluruh kota Jawa Tengah ada 40 ribu orang, maka jumlah itu merupakan suatu perbedaan yang besar sekali dibanding sekarang. Jadi dahulu mereka kuat sekali.

CRCS: Dalam gambaran sejarawan, Sartono Kartodirdjo, sepanjang tahun-tahun 1860-1890 banyak sekali gerakan-gerakan mesianistik Islam yang muncul secara sporadis, apa penyebabnya, dan apakah ini bagian dari polarisasi agama dalam masyarakat Jawa?

Ricklefs: Salah satunya ialah perubahan abad Masehi yang dibarengi dengan perubahan abad dalam perhitungan Jawa, ini banyak sekali gerakan millenarian yang mempercayai bahwa abad baru akan mendatangkan penyelamat baru terhadap situasi yang buruk. Di Eropa juga terjadi seperti ini, yakni dalam peralihan antara abad ke 19 dan 20. Akan tetapi, yang paling penting adalah lebih ditekankan pada penanggalan Jawa. Ya dan ini adalah salah satu varian lain dari gerakan Islam yang ada.

CRCS: Baik, kita kembali ke masa kini, munculnya gerakan seperti HTI, MM, yang tidak sudi mengakui sistem demokrasi di Indonesia, apakah ini ada cerminan dari adanya polarisasi di abad pertengahan abad 19?

Ricklefs: Biasanya, di mana saja, dalam agama apapun, dalam masyarakat apa pun, kalau ada suatu gerakan baru yang datang dan bilang mereka datang ke sini untuk memurnikan “kamu” pasti ada suatu reaksi, ada yang ikut, dan selalu ada banyak yang menentang. Dan rupanya HTI adalah gerakan wahabi pada umumnya yang melihat masyarakat dianggap belum sempurna, sehingga mereka hendak memurnikan.

CRCS: Tapi bagaimana dengan nasib gerakan radikal seperti ini ke depannya?

Ricklefs: Gerakan radikal itu selalu terpecah di dalamnya. Ada juga kelompok baru Abu Bakar Ba’asyir yang pecah dari Majelis Mujahidin, tapi itu masih kecil barangkali. Di sisi lain, ini ada juga fenomena menarik bahwa ada suatu gejala hampir di seluruh Indonesia, pasca otonomi daerah, semua daerah mencari sesuatu yang khas dari daerahnya, dan maskot lokal, dan sebagainya. Itu sering yang dicari adalah dari jaman Pra Islam, seperti tarian lokal, kerajaan lokal. Apalagi Ini merupakan suatu proses yang memperkuat heterogenitas antar daerah. Melainkan Islam hendak menghomogenisasikan. Jadi memang ada dua gelombang yang bertentangan pada tingkat kebudayaan. Misalnya di Kediri lagi, dari pemerintahan lokal, mereka mau menggunakan tarian tayub sebagai maskot daerah, dan semua kyai memberontak, karena itu dianggap terlalu sensual.

Sekarang jaranan juga sangat kuat, karena persis pada masa Soeharto itu agak lemah, sekarang itu kuat sekali ada di mana-mana, karena bukan hanya dianggap bermuatan lokal, tapi juga mempunyai kekuatan ghaib. Dan para kyai memang agak kurang senang dengan itu. Saya mempunyai empat rekan, dari Yogya, Solo, Kediri dan Surabaya yang memperkaya bahan-bahan saya, contoh kasus dari Kediri menarik sekali. Dalam pilkada baru-baru ini ada beberapa calon yang didukung oleh para kyai, termasuk Gus Riza anaknya kyai Imam, malah ada beberapa calon dari keluarga kyai, dan semuanya kalah. Satupun tidak lolos dari sekitar 8 calon. Apalagi setahun yang lalu, ada pemilihan walikota, ada sekitar 5 calon pasangan, 4 dari pasangan calon itu di dukung oleh para kyai, dan yang menang adalah seorang dari Muhammadiyah, dengan wakil walikota yang malah seorang keturunan Arab. Jadi jelas pengaruh para kyai dalam kepemimpinan politik mulai menurun, dan masyarakat tampaknya ingin mencari sesuatu hal yang baru.

CRCS: Apa yang menyebabkan munculnya gerakan radikal di Indonesia demikian berkembang demikian pesat pasca Orde Baru, bahkan HTI mengklaim sudah punya anggota lebih dari 1 juta, padahal gerakan ini kan dilarang tidak hanya di Jerman, tapi juga di negara-negara Timur Tengah?

Ricklefs: Itu lebih karena HTI dianggap tidak ancaman keamanan oleh tentara. Sementara, di luar (tentara), HTI dianggap sebagai gerakan ekstrim, meskipun tidak pernah terlibat dalam kegiatan terorisme. Dan kesan saya, kelompok-kelompok ekstrim itu sudah mengakui bahwa terorisme hanya akan menghilangkan dukungan dari banyak orang, terutama dukungan dari klas menengah, karena kelas menengah itu yang selalu menentukan nasib politik suatu negara. HTI ini memang cukup pintar, apalagi PKS, kecuali kalau kasus seperti di Monas kemarin (2008), itu cukup membahayakan, tapi gerakan seperti HTI ini, mereka selalu mengajak diskusi dan sejenisnya. Oleh karena itu, mereka bergerak secara damai agar tidak dapat dihapuskan oleh negara dan militer. Juga terutama dari militer, kalau politik sipil itu gagal, itu merupakan keuntungan militer dan sebuah peluang untuk merebut kekuasaan lagi.

CRCS: Lantas bagaimana dengan partai-partai Islam yang menjadi “rising star” pada pemilu kali ini seperti PKS?

Ricklefs: Ya, partai ini di luar perkiraan, karena telah mematok 20 persen suara, kenyataannya hanya dapat 7 persen. PKS memang lebih profesional, dan berdisiplin. Tapi secara metode gerakan, partai PKS ini mempunyai banyak kesamaan dengan PKI, keduanya lebih aktif pada tingkat akar rumput, mereka sangat berdisiplin, jauh lebih profesional dan dicurigai oleh partai lain punya hidden agenda. Ada satu tesis dari Masdar Hilmi yang sangat bagus sekali, dia membedakan orang-orang di PKS itu antara utopian yang percaya kepada khalifah dan millienaris yang merupakan gerakan dari Kristen, mereka menganggap dunia ini sebagai dunia yang tidak sempurna, oleh karena itu mereka mencari perbaikan. Ini bukan utopian, karena hanya mencari sesuatu yang lebih baik. Kesan saya, dalam parpol PKS mereka semuanya dapat bekerja sama kalau arahnya sama, meski tujuannya berbeda. Dan dari kaum utopian itu juga berdekatan dengan HTI, asal mereka bekerjasama dengan orang lain itu pasti maju. Kalau melihat pada Pemilu 1999 hanya mencapai kurang dari 6% dan pemilu sekarang sudah 7% dan itu merupakan bukti bahwa strateginya memang berhasil mencapai kemenangan. PKS itu selalu mencari dukungan dari medan politik yang tengah, yang bersih dan peduli, dan tidak menekankan dukungan terhadap syariah, karena itu akan malah mengancam keberedaan masa depannya.

CRCS: Menanggapi buku terbaru dari Wahid Institute, “Ilusi Negara Islam” yang kemudian ditentang keras oleh HTI, kira-kira bentuk polarisasi apa lagi yang akan terjadi 10-20 tahun ke depan, apakah sejarah akan berirama seperti polarisasi antar kepercayaan dan agama seperti pada tahun 1830-1950?

Ricklefs: Yang paling mengesankan saya ialah bahwa parpol-parpol sekarang rupanya semuanya berupaya untuk menjembatani perbedaan aliran untuk mencegah adanya polarisasi. Dulu Partai Demokrat dianggap sebagai partai sekuler, tapi mereka mencari dukungan dari PKS, PBB, PPP dan sebagainya, meskipun ada selalu banyak slogan, itu partai agamis, sekularis. Kondisi ini juga berdasarkan pendidikan dari berbagai gerakan-gerakan islamis. Apakah itu akan menimbulkan bentuk polarisasi baru? Kemungkinan bahwa suatu politik aliran akan muncul lagi, saya kira tidak bakal terjadi, karena politik aliran itu akan sangat berbahaya sekali. Tapi ada polarisasi antara gerakan-gerakan di dalam Islam itu sendiri, jadi bukan polarisasi antara Islam dan abangan, melainkan polarisasi antara NU-Muhammadiyah, PKS-MMI. Saya pernah tanya kepada Kyai Idrus Marzuki, dia bilang bahwa Negara kita akan dihancurkan oleh pihak HTI, MMI, lalu saya tanya, kalau begitu bagaimana pihak NU akan dia bilang bahwa kami masih mempunyai ilmu.

CRCS: Oke baik pak, terima kasih atas waktu bincang-bincangnya.

(Hatib)

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

Tinggalkan Balasan