Dari Kuliah Umum “Imam dan Pastor”: Agama Menggerakkan Perdamaian

Anthon Jason| CRCS | Liputan

“Kita menginginkan perdamaian, tapi kita tidak pernah mempelajari perdamaian,” Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina Ihsan Ali-Fauzi menyampaikan sambutan singkat sebelum memberikan buku Ketika Agama Membawa Damai, Bukan Perang: Belajar dari “Imam dan Pastor” kepada Pastor James Wuye dan Imam Muhammad Ashafa dalam acara kuliah umum di Gadjah Mada University Club pada 10 Oktober 2017. Dari beliau berdua, Pastor James dan Imam Ashafa, Ihsan menyampaikan harapannya agar kita bisa belajar bagaimana agama membangun perdamaian. (Baca pengantar Ihsan Ali-Fauzi untuk acara ini di sini.)

Dimoderatori oleh Alissa Wahid, putri almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur), acara kuliah umum yang dihelat atas kerja sama berbagai lembaga itu dihadiri peserta yang membludak sehingga sebagian peserta harus rela berdiri. Empat hari sebelumnya, pada 6 Oktober 2017, pemutaran film The Imam and the Pastor di Lembaga Indonesia Prancis (IFI) juga dihadiri peserta yang membludak.

Jauhi Solidaritas Negatif

Di awal ceramahnya, Pastor James menyatakan bahwa konflik bukanlah hal yang senantiasa buruk. Yang terpenting ialah bagaimana konflik itu dikelola. Pastor James menyampaikan penyesalannya dulu ketika masih menjadi bagian dari milisi Kristen melawan Muslim, ia memakai pendekatan konfrontasional dalam konflik, dengan menggunakan kekerasan. Andai dulu menyadari apa yang sudah ia sadari kini, demikian Pastur James bercerita, tak perlu ada banyak orang meninggal dalam konflik dan ia sendiri tak perlu kehilangan tangannya. Konflik dengan kekerasan akan merembet dampaknya dalam polarisasi dan segregasi masyarakat. “Saya berdoa semoga kalian tidak melalui masa yang sudah saya lalui itu, masa yang penuh benci dan kemarahan.”

Pastor James melanjutkan bahwa dalam suasana apapun, selalu kedepankan cinta, sebab cinta dapat menular. Cinta akan mengundang cinta, sebagaimana benci akan menarik benci. Dan cinta, tuturnya, tidak akan lahir dalam hubungan yang didasari semangat meninggikan golongan sendiri sembari merendahkan golongan lain. Dalam hubungan antaragama, khususnya Islam dan Kristen dalam hal ini, terdapat klaim-klaim yang bisa mengarah dalam hubungan yang demikian. Muslim mendaku Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Dalam Kristen, Pastor James mengutip Yohanes 14:6, Yesus berkata, “Akulah jalan, dan kebenaran, dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

Pastor James mengingatkan agar kita menghindari pertengkaran dalam persoalan klaim-klaim eksklusif itu. Ketimbang berselisih dalam soal ini, ia mengajak agar kita mengedepankan hubungan yang membawa pada perdamaian, “sebagaimana yang diajarkan Yesus sendiri, untuk mencintai tetanggamu,” tegasnya. Dalam hubungan antaragama yang berbeda, seyogianya kita memakai “aturan emas”: jangan lakukan suatu hal kepada orang lain yang kau tak ingin orang lain melakukannya padamu.

Untuk menjalin hubungan damai antarumat beragama, lanjut Pastor James, penting bagi kita untuk menghindari komunikasi yang saling menyerang keimanan satu sama lain. Ia menyontohkan: kata kufr ialah satu bentuk komunikasi yang keras. Cara atau gaya berkomunikasi yang demikian membuat hubungan menjadi rentan akan konflik. Di negaranya, Nigeria, Pastor James menceritakan bahwa orang-orang selatan memandang orang-orang utara sebagai orang-orang yang kurang berperadaban. Cara pandang yang menonjolkan superioritas satu golongan seperti ini akan menambah disharmoni hubungan dan segregasi antarkelompok.

Karena itu, menjelang akhir ceramahnya, Pastor James mengingatkan tentang bahayanya “solidaritas negatif”, yaitu solidaritas berwujud pembelaan buta terhadap yang seiman betapapun saudaranya yang seiman itu melakukan kesalahan. Solidaritas negatif ini, alih-alih menambah keimanan, justru makin memanaskan konflik dan memicu lahirnya kekerasan, yang akhirnya akan membawa korban dan merugikan bukan hanya kelompok lain melainkan juga kelompok sendiri.

Tekankan Ajaran Damai

Imam Ashafa memulai ceramahnya dengan menguraikan fenomena global kekerasan atas nama agama. Ia menekankan bahwa fenomena ini bukan hanya terjadi pada Islam atau Kristen. Kaum Buddhis di Myanmar dalam kasus Rohingya, kaum Sikh di India seiring gerakan insurgensi di Punjab, orang Yahudi di Israel dalm kasus pembunuhan Perdana Menteri Yitzhak Rabin, orang Shinto di Jepang melalui gerakan Aum Shinrikyo—ini adalah sedikit dari banyak contoh kekerasan yang antara lain dipicu oleh agama.

Namun demikian, Imam Ashafa menegaskan, agama-agama dapat memotivasi pemeluknya untuk melakukan gerakan perlawanan tanpa kekerasan. Mahatma Gandhi dengan satyagraha, Uskup Oscar Romero di El Salvador dengan teologi pembebasannya, Marthin Luther King Jr. dengan Gerakan Hak-hak Sipil, Syekh Ahmadou Bamba dengan gerakan Mouridiyya melawan penjajahan Prancis—ini adalah sekian contoh gerakan nirkekerasan dengan basis keagamaan yang kuat.

Karena itu, lanjut Imam Ashafa, kita perlu mempelajari bagaimana agama dapat menggerakkan perjuangan damai nirkekerasan. Dengan demikian, agama, yang sekian lama dihakimi sebagai sumber kekeresan, dapat berbalik menjadi—dan harus menjadi—penggerak perdamaian antaragama.

Mengerucutkan pembahasannya mengenai perdamaian dalam Islam, Imam Ashafa menguraikan bahwa, sebagaimana agama lain, Islam juga dapat dan harus berkontribusi dalam upaya binadamai ini. “Teladan dari Nabi Muhammad mengajarkan pada kita bahwa di dunia ini kita tak bisa tinggal sendirian,” tuturnya.

Al-Quran mengajarkan bahwa Tuhan menciptakan manusia berbangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal satu sama lain (“lita’arafu”—QS 49:13). Hampir di setiap akhir khotbah Jumat di mana-mana di seantero dunia Islam sang khatib membaca QS 16:90: “Allah menyuruh (kamu) berbuat adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan pada kerabat, dan Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

Imam Ashafa lebih lanjut memaparkan bagaimana perlakuan Nabi Muhammad terhadap umat Kristen. Nabi Muhammad mempersilakan umat Kristen dari Najran untuk menyelenggarakan doa di dalam Masjid Nabawi. Dalam kisah hijrah pertama ke Ethiopia untuk menghindari persekusi orang-orang Quraisy Mekkah, Nabi Muhammad berkata kepada pemeluknya, “Di negeri Habasyah ada raja yang adil. Pergilah ke sana mencari suaka.” Raja itu adalah Raja Najasyi yang Kristen. Pascapembebasan Mekkah, Nabi Muhammad memberika amnesti umum kepada banyak orang Quraisy yang telah berlaku zalim pada umat Islam Muhajirin dengan mengusir dan merampas harta benda mereka.

Nabi Muhammad mewedarkan sabda, “Muslim ialah dia yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya.” Al-Quran, lanjut Imam Ashafa, mendeskripsikan siapa itu hamba Tuhan yang Maha Pengasih, yaitu “orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata menghina), mereka mengucapkan salam.” (QS 25:63)

Menjelang akhir ceramahnya, Imam Ashafa menekankan bahwa, bukan ayat-ayat kekerasan yang terus diujarkan, yang kerap kali dipahami keluar dari konteksnya, melainkan ayat-ayat perdamaian dan teladan Nabi Muhammad yang demikian itulah yang mesti ditekankan terus-menerus kepada umat Islam jika Islam ingin menjadi agama yang menggerakkan hubungan damai antaragama.

Pada sesi diskusi dan tanya jawab, satu peserta mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana membangun perdamaian di tingkat akar rumput. Imam Ashafa menjawab bahwa mereka membangun beberapa pendekatan. Yang pertama adalah secara formal. Di sekolah-sekolah dasar dan menengah di Nigeria mereka merintis klub perdamaian antariman. Selain itu, mereka juga memberi pelatihan kepada kaum muda, khususnya para calon imam dan pastor di daerah-daerah, untuk menyampaikan pesan-pesan teologi yang inklusif. Bekerjasama dengan universitas, lembaga pemerintah, dan berbagai organisasi sipil yang mendukung perdamaian, saat ini mereka sedang mengembangkan institusi, yaitu Interfaith Mediation Center, untuk melatih para pemimpin agama di berbagai tingkat dan terlibat aktif dalam upaya rekonsiliasi konflik yang melibatkan para pemeluk agama.

*Anthon Jason adalah mahasiswa CRCS UGM angkatan 2016.

______________________

Seri Liputan Kuliah Umum “Imam dan Pastor” dan Lokakarya Pelembagaan Mediasi Antariman

Liputan 1: Dari Kuliah Umum “Imam dan Pastor”: Agama Menggerakkan Perdamaian

Liputan 2: Institutionalizing Interfaith Mediation: What, Why and How?
(Terjemah Indonesia: Pelembagaan Mediasi Antariman: Apa, Mengapa, dan Bagaimana?)

Liputan 3: Pelembagaan Binadamai dalam Pengalaman Mindanao

Liputan 4: Pelembagaan Binadamai dalam Pengalaman Maluku

Liputan 5: Refleksi dari Lokakarya Pelembagaan Mediasi Antariman

This post is also available in: Indonesian

Leave a Reply