Merayakan 500 Tahun Reformasi Protestan dalam Kerendahan Hati

E. Gerrit Singgih | CRCS | Perspektif

Tanggal 31 Oktober 2017 Reformasi Protestan telah mencapai usia 500 tahun. Dapat dimengerti mengapa di mana-mana orang merayakannya dengan penuh sukacita. Komunitas yang menjadi sasaran Reformasi, yaitu Gereja Katolik Roma, juga ikut merayakan 500 tahun Reformasi. Sri Paus hadir dalam beberapa acara dan Vatikan mengeluarkan prangko khusus memperingati Reformasi. Ini berarti kritik-kritik Reformasi sebagian diakui sebagai dapat diterima dan, secara keseluruhan, Reformasi bermaksud baik. Memang rentang 500 tahun telah menghasilkan rekonsiliasi Katolik-Protestan. Hubungan mereka bukan lagi antagonistik melainkan oikumenis.

Namun demikian, kita perlu juga mempertimbangkan dengan cara bagaimana kita merayakan 500 tahun Reformasi Protestan ini. Tidak perlukah kita, dalam rangka memeriksa dampak Reformasi ini terhadap kehidupan manusia secara konkret, melakukan analisis historis terhadap kisah-kisah mengenai Reformasi dan tokoh-tokohnya? Kisah-kisah mengenai Luther dan Calvin kebanyakan bersifat “hagiografis”, dalam arti yang bagus-bagus saja dikemukakan; tidak ada yang tidak bagus. Tetapi, betulkah semua bagus? Kemudian, kita juga perlu bertanya: apakah dalam perjalanannya selama waktu yang sangat panjang itu, dampak Reformasi tampak dalam dunia kini yang menjadi lebih baik?

Mite dan Sejarah

Robert W. Scribner dalam The German Reformation (Humanities Press International. Inc, 1986: 1) berpendapat bahwa, dalam rujukan-rujukan mengenai Reformasi Luther di Wittenberg tahun 1517, analisis historis jarang digunakan. Para sejarawan sudah lama mengemukakan bahwa Reformasi Luther bukan hanya hasil dari perjuangan pribadinya saja, melainkan melainkan hasil dari berbagai faktor lain.

Para sejarawan juga ragu-ragu bahwa Luther pernah menempelkan 95 dalil di pintu gereja di Wittenberg seperti yang ada dalam kisah-kisah Reformasi. Satu episode yang terkenal, ketika Luther mengemukakan keteguhan hatinya dalam persidangannya di Worms, bahwa “Hier stehe ich, ich kann nicht anders” (“di sini aku berdiri/bertahan, aku tidak bisa [berbuat] lain”), mungkin juga tidak pernah dikatakannya. Episode-episode ini baru kemudian disisipkan ke sejarah Reformasi menjadi, seperti kata Scribner, “myths about the Reformation”.  Reformasi betul terjadi, dan andil serta jasa Luther besar, tetapi mungkin kejadiannya tidak sespektakular seperti yang diceritakan dalam “myths about the Reformation” itu. Saya juga yakin bahwa hal yang sama dapat kita kenakan pada kisah-kisah mengenai Calvin, penggerak Reformasi yang hidup satu generasi sesudah Luther.

Saya harus mengakui bahwa sulit sekali memisahkan sejarah dari mite. Bahkan ada yang mengatakan bahwa mite terkandung dalam sejarah. Tetapi saya masih yakin bahwa kita bisa membedakan sejarah dari mite. Kita bisa membedakan di antara keduanya, kalau dalam diri kita orang Protestan terdapat kerendahan hati, untuk tidak melakukan sesuatu yang kita kecam pada orang lain. Seperti diketahui, Reformasi Protestan mengecam adanya penghormatan terhadap orang-orang kudus dalam gereja Katolik. Semua orang Kristen adalah kudus, tidak ada yang secara khusus diproklamirkan sebagai kudus.

Tetapi dalam perjalanan Reformasi, kekosongan ini diisi dengan penghormatan yang tinggi sekali terhadap kedua tokoh Reformasi itu (Luther dan Calvin). Bahkan di beberapa komunitas Reformasi, kedua tokoh itu menjadi infallible, tidak bisa salah dan dan hanya ajaran mereka yang patut dipelajari di sekolah teologi. Perayaan 500 tahun ini kiranya bisa membuat kedua tokoh tercinta ini kembali lagi menjadi manusia, sesuai dengan prinsip Reformasi itu sendiri.

Persatuan atau Perpecahan?

Kemudian marilah kita melihat dampak dari Reformasi ini, yaitu perpecahan komunitas Kristiani menjadi sekian banyak denominasi dan masing-masing merasa diri sebagai gereja Tuhan yang ditugaskan membuat dunia bertobat.  Memang bukan Reformasi yang baru memulai perpecahan ini. Sejak sebelumnya sudah terjadi perpecahan antara gereja Latin dan gereja Yunani. Tetapi Reformasi mengintesifkan perpecahan ini menjadi sekian banyaknya  dan dalam waktu singkat!

Denominasi-denominasi ini membonceng negara-negara kolonial yang menjajah Asia, termasuk Indonesia. Mereka mengabarkan Injil tetapi juga warna denominasi mereka. Di Indonesia warna denominasi ini bergabung dengan etnisisme. Jadilah gereja-gereja yang bertembok tebal denominasi dan kesukuan. Ketika gerakan oikumene muncul di abad 20 dalam rangka menyembuhkan perpecahan ini,  dampaknya  kecil. Orang merasa bahwa persatuan itu salah, perpecahan itulah yang baik. Sampai hari ini misalnya di Indonesia, gerakan oikumene hanya berhasil menciptakan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), yang beranggotakan sekian banyak gereja-gereja, dan ada anggota PGI yang merupakan pecahan dari anggota PGI juga. Cita-cita membentuk Gereja Yang Esa tinggal menjadi cita-cita. Maka kita perlu bertanya, jangan-jangan hakikat Reformasi itu memang perpecahan dan bukan persatuan?!

Konteks Kepelbagaian

Yang terakhir adalah pertanyaan apakah Reformasi memberikan sumbangan bagi kehidupan yang lebih manusiawi dalam konteks kepelbagaian, termasuk kepelbagaian agama di Indonesia.  Reformasi memang membuat orang bergairah untuk kembali ke ajaran-ajaran para pendahulu dan kembali ke ajaran-ajaran itu dianggap sebagai berdampak baik bagi kehidupan komunitas maupun masyarakat. Gairah itu dapat kita sebutkan sebagai “gairah untuk memurnikan” atau cukup “pemurnian” sajalah. Tetapi saya merasa kita semua sudah maklum juga bahwa pemurnian atau pembersihan itu memiliki sisi gelapnya juga. Kita yang melakukan pembersihan merasa kita tahu ajaran-ajaran para pendahulu, sedangkan yang kita bersihkan tidak tahu apa-apa, bahkan sudah menyelewengkan kemurnian ajaran itu.

Dalam buku peringatan 500 tahun Reformasi terbitan Sekolah Tinggi Teologi Bandung, rekan Hans Abdiel Harmakaputra menulis mengenai pandangan Luther terhadap Islam. Pada Abad Pertengahan, ketika Reformasi terjadi, Eropa Barat mengalami ancaman serbuan Turki, yang dianggap mewakili Islam. Hans mencatat bahwa salah satu faktor yang menyebabkan keberhasilan Reformasi adalah bahwa kerajaan-kerajaan Eropa Barat yang waktu itu Katolik tidak bisa berkonsentrasi dalam mengatasi Reformasi, oleh karena harus mengatasi ancaman Turki-Islam ini. Tetapi hal ini tidak menyebabkan Luther berterima kasih kepada Turki, melainkan menulis banyak hal-hal yang negatif mengenai Turki dan Islam.

Saya dapat menambahkan, bukan terhadap Islam saja Luther bersikap negatif, melainkan juga terhadap Yahudi. Di jaman Nazi-Hitler, tulisan-tulisan Luther yang antisemit dipakai sebagai legitimasi politik rasialis anti Yahudi. Calvin lebih toleran terhadap Yahudi, meski tidak dapat dikatakan bahwa dia membela Yahudi. Namun Calvin juga tidak bisa toleran terhadap orang yang memiliki pandangan doktriner yang berbeda. Ketika Michael Servetus yang anti-Trinitarian ditangkap dan diadili di Jenewa, kota Calvin, dia dihukum mati dengan disula. Memang pengadilan kota yang memutuskan hukuman tersebut, bukan Calvin. Tetapi mengapa dia diam saja dan membiarkan hal itu? Jangan-jangan kesulitan orang Protestan untuk menerima kepelbagaian, termasuk kepelbagaian agama di Indonesia juga berasal dari pemahaman mengenai kemurnian ini? Karena menekankan pada pemurnian, orang tidak bisa melihat hal yang baik pada mereka yang tidak segolongan.

Penutup

Demikianlah beberapa hal yang dapat saya kemukakan dalam rangka menyambut perayaan 500 tahun Reformasi Protestan. Intinya adalah jangan kita hanya terpaku pada perayaannya dan hal-hal yang bagus saja. Kita juga memerlukan kerendahan hati untuk memeriksanya dalam konteks kita sendiri: apakah ada hal-hal yang gelap, yang perlu kita terangi, sehingga Reformasi itu dapat menjadi sebuah tonggak mulia dalam perjalanan kemanusiaan, menjadi tanda kehidupan yang telah menjadi lebih baik.

*Emanuel Gerrit Singgih adalah Guru Besar di Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana dan Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS), Yogyakarta.

This post is also available in: Indonesian

Leave a Reply