Budaya Spiritual dan Revolusi Mental

Nguseman* | CRCS | Report

1

Beberapa waktu lalu (19-20/8) Balai Pelestarian Nilai Budaya, Yogyakarta mengadakan saresehan  Budaya Spiritual bertajuk  “Nilai-nilai Ajaran Budaya Spiritual Sebagai Aset Menuju Revolusi Mental.” Tema ini cukup menarik perhatian para peserta saresehan yang berasal dari latar belakang yang beragam yang terdiri dari para penghayat, budayawan, tokoh masyarakat, Dinas terkait, Guru SMA, siswa dan mahasiswa, aktivis sosial, dan insan pers. Saresehan yang bertempat di hotel Pandanaran, Yogyakarta tersebut membuka ruang bagi para penghayat untuk berekspresi dan berbagi pengalaman dengan sesama penghayat atau pun pengamat yang masih awam dengan dunia spiritual. Tampak sekali bahwa selama ini mereka merindukan adanya ruang publik yang bebas dari intimidasi, kecurigaan,  dan tekanan psikologis lainnya dari orang-orang yang anti terhadap “dunia spiritual” atau dari orang-orang yang memandang mereka sebelah mata. Mereka sadar sepenuhnya bahwa ruang tersebut tidaklah cukup untuk mendeskripsikan, menjelaskan, dan menafsirkan samudera  nilai-nilai spiritual yang telah lama mereka praktekkan dalam komunitas masing-masing berpuluh-puluh tahun lamanya sebagai lelakon urip. Setidaknya mereka merasakan angin segar reformasi perlahan-lahan berhasil meneguhkan eksistensi mereka sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang majemuk yang juga mempunyai hak sama seperti warga Negara lainnya, terutama yang mayoritas.

Sebagian penghayat yang pernah mengalami trauma psikologis akibat tindakan diskriminatif dari pemerintah maupun tindakan anarkis dari golongan agama tertentu juga berkesempatan untuk menyuarakan keluh kesahnya dengan bebas dan terbuka. Sementara golongan sepuh yang mendapat kesempatan bicara dalam sesi tanya jawab menginginkan agar nilai-nilai spiritual yang menjadi asset untuk melakukan revolusi mental tidak hanya diwacanakan saja, tetapi juga dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Suara para pinih sepuh tersebut sejalan dengan ide yang disampaikan oleh para nara sumber dalam Saresehan tersebut yang menegaskan perlunya mengejawantahkan wacana Revolusi Mental dalam bentuk gerakan sosial. Lebih dari itu, revolusi mental harus menjadi sebuah gerakan nasional dimulai dari individu-individu, lingkungan keluarga, tempat tinggal, tempat kerja, dan lingkup Negara. Revolusi mental disebutkan sebagai revolusi kesadaran, yaitu perubahan mendasar yang menyangkut kesadaran, cara berfikir dan bertindak sebuah bangsa besar, dari suatu yang negatif menuju positif. Perubahan mendasar tersebut terkait dengan mentalitas, semangat dan moralitas yang teraktualisasi dalam perilaku dan tindakan sehari-hari.

Saresehan ini menjadi menarik karena panitia mampu menghadirkan nara sumber dari berbagai latar belakangan keilmuan yang berbeda, mulai dari antropologi, sosiologi, filsafat, dan sekaligus para pelakunya sendiri. Nara sumber yang berlatarbelakang antropologi menawarkan pendekatan “Lima anti”  untuk mewujudkan gerakan sosial tersebut, yaitu: (1) anti kebodohan dan pembodohan, (2) anti kecurangan dan pencurangan, (3) anti kesenjangan dan penyenjangan, (4) anti rendah diri dan perendahan, (5) anti kerusuhan dan perusuhan. Ia yakin bahwa dengan mentalitet “anti” tersebut wacana revolusi mental bukan hanya menjadi slogan yang hanya digembar-gemborkan di mana-mana. Menurutnya, frase “anti” menyampaikan pesan yang lebih tegas, yaitu penolakan. Penolakan terhadap hal-hal yang dipandang negative. Penolakan terhadap hal-hal yang negative dianggap akan lebih memudahkan terbentuknya suatu situasi sosial dan kondisi yang pisitif daripada idealisasi situasi dan kondisi yang positif disertai keinginan untuk mewujudkannya.

Sementara nara sumber yang berlatar belakang filsafat menegaskan dalam paparan dan papernya bahwa revolusi mental harus dimaknai sebagai sebuah perubahan mendasar mindset (pola pikir) masyarakat dan penguasa di dalam kehidupan berbangsa. Perubahan mendasar dari orientasi kekuasaan ke orientasi pelayanan publik, dari kepentingan diri/kelompok ke kesejahteraan bersama, dari orientasi politik partisan ke orientasi politik kewarganegaraan. Revolusi mental tidak cukup mengandalkan niat baik, namun harus memperhitungkan perubahan structural dalam interaksi masyarakat. Lebih lanjut, ia menawarkan konsep dualitas struktural Anthony Giddens untuk dapat menjelaskan revolusi mental melalui nilai-nilai budaya tersebut. Perubahan sosial, menurut Giddens, harus menyentuh tiga bentuk interaksi sosial yang dominan, yaitu: komunikasi, hubungan kekuasaan dan moralitas.  .

Pembicara lain yang berlatar belakang pengajar mengajukan pentingnya internalisasi nilai-nilai budaya spiritual dalam pendidikan formal dan informal. Internalisasi nilai-nilai budaya spiritual dalam pendidikan formal dan informal pada dasarnya dilaksanakan dengan menanamkan kebiasaan yang terus menerus dipraktekkan sehingga anak didik menjadi paham tentang mana yang baik dan salah, mampu merasakan nilai yang baik dan biasa melakukannya tanpa harus didoktrin apalagi diperintahkan secara paksa.

Hal menarik lainnya yang patut dicatat dalam Saresehan ini adalah  obrolan santai dari para peserta di waktu istirahat di mana  mereka dengan tanpa beban menceritakan nilai-nilai spiritual yang bisa dijadikan sebagai pemantik gerakan nasional revolusi mental yang kini dibalut dalam bentuk proyek yang sifatnya top-down. Sebagian mereka bersikap sangat kritis dalam menyikapi proyek tersebut, bahkan ada juga yang bersikap skeptis tentang keberhasilan gerakan nasional tersebut jika hanya sebatas saresehan. Mudah-mudahan saresehan hanyalah langkah awal menuju langkah-langkah berikutnya yang lebih nyata dan aplikatif, sehingga kekhawatiran sebagian para peserta bahwa Revolusi Mental hanya slogan belaka tidak terbukti. Sebaliknya, Revolusi Mental dapat menjadi babak baru menyongsong Indonesia emas yang berdulat, bermartabat, berketuhanan, berkemanusiaan, beradab, dan berlimpah kesejahteraan bagi seluruh lapisan bangsa tanpa terkecuali.

Nguseman
Adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budya (Center for Religious and Cross-cultural Studies), Universitas Gadjah Mada.

Leave a Reply