ARTICLE

Atmosfer Akademik dan Polusi Ancaman

Rabu, 9 Mei 2012 | viewed (18549)

Gagalnya Irshad Manji menginjakkan kakinya untuk kedua kalinya di tanah UGM seharusnya membuat kita, khususnya civitas akademi UGM, berpikir ulang. Tidak perlu disembunyikan bahwa pembatalan acara itu adalah karena ancaman dari sekian ormas, yang tak semuanya selalu jelas nama dan keberadaannya.

 

Tidakkah ini membuat kita berpikir, bagaimana masa depan atmosfer akademik UGM? Bagaimana kalau suatu ketika ada keberatan semacam itu lagi dari dua, atau tiga, atau tiga puluh ormas untuk isu-isu lain yang mungkin memunculkan pandangan yang tidak disetujui sebagian orang? Misalnya, tentang pembicaraan kemungkinan penyelesaian konflik-konflik di Papua? Atau, suatu seminar kebencanaan mengenai penyebab bencana lumpur Lapindo di Sidoarjo? Pemberantasan korupsi dan peran KPK? Atau isu-isu lain.

 

“O, itu lain…. Irshad Manji adalah lesbian, yang mau merusak moralitas masyarakat kita.” Mungkin demikian tanggapan sebagian orang. Ada banyak problem dengan jawaban semacam ini.

 

Pertama, tema-tema itu tak kalah sensitif, bahkan dalam beberapa hal mungkin lebih sensitif. Beberapa waktu lalu, seminar tentang Papua di Sekolah Pascasarjana UGM, yang dihadiri tokoh-tokoh penting, sudah pernah terjadi dan dihentikan sekelompok orang ketika Direktur SPs baru menyampaikan ucapan pembukanya. Suatu kelompok bisnis yang berkepentingan dengan isu ilmiah mengenai apakah bencana di Sidoarjo yang bermula pada Mei 2006 itu adalah bencana alam atau akibat kelalaian manusia, mungkin saja menyewa sekelompok orang yang berani mengancam atau melakukan kekerasan untuk membela kepentingannya, dan menggagalkan diskusi yang hasilnya mungkin merugikannya. Demikian pula dengan yang lain-lain.

 

Isunya sama: kemungkinan pertukaran pendapat ditutup sebelum dilakukan. Apakah lalu lembaga akademik sekelas UGM dari waktu ke waktu harus meminta izin (atau dalam bahasa kepolisian,”berkoordinasi”) dengan ormas, preman, dan sebagainya?

 

Agak menyedihkan, memang, kesan itulah yang muncul: kewibawaan lembaga akademik dikalahkan oleh ancaman. Tentu ada alasan mulia yang bisa diajukan: demi ketertiban (Dan lalu kita akan dipaksa memikirkan ulang makna “ketertiban”, ketika “tertib” berarti menghindari resiko perbedaan pandangan).

 

Tapi, tidak semua kesalahan bisa ditimbulkan kepada kelompok yang mengancam. Sebagian orang akan menyalahkan UGM—tapi UGM juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Yang membuat ancaman-ancaman itu menjadi efektif, dan yang membuat UGM harus mengorbankan otoritas akademiknya demi ketertiban adalah atmosfer kekerasan yang makin menguat. Yaitu, kekerasan yang dibiarkan.

 

Secara bertahap, kita belajar bahwa ancaman dan kekerasan adalah alat efektif untuk memecahkan masalah. Ketika korban kekerasan justru menjadi terdakwa dan dihukum; ketika media secara rutin menyajikan potret kekerasan yang dibiarkan dan tak ditindak; ketika ancaman sudah cukup untuk membuat penegak hukum bertindak—tidak dengan menindak si pengancam tapi justru target yang diancam—maka tak mengherankan jika ancaman kekerasan menjadi pilihan yang makin populer.

 

Sekadar sebagai contoh yang sangat dekat dengan kami: Laporan Tahunan Kehidupan Beragama di Indonesia yang kami terbitkan sejak 2009 tak kurang berisi contoh-contoh itu dan, dalam dua Laporan terakhir, kami menegaskan kenyataan ini karena meningkatnya kecenderungan itu. Bahwa jika hal-hal seperti ini dibiarkan terus, kita akan sampai pada satu titik ketika kekerasan dan ancaman menjadi hal biasa dan kita dipaksa mentolerirnya.

 

“Tapi bagaimana dengan lesbianisme?” Dalam kasus diskusi dengan Irshad Manji, sesungguhnya ini tidak masuk agenda sama sekali. Tapi orang-orang cerdas sekalipun dapat termakan oleh teknologi baru yang ampuh dan massif: SMS. Teknologi ini bisa menyebar ketakutan dan mengubah tema seperti “ijtihad” menjadi “pelegalan dan propaganda lesbianisme”!

 

“Tapi, sekali lagi, …. bagaimana dengan lesbianisme?” Apakah akan dibiarkan saja? Bagaimana dengan “kesesatan yang terorganisir”— akan dibiarkan saja? Ada beragam pilihan sebetulnya yang bisa diambil. Sudah jelas orang tidak harus menerima semua pandangan. Tapi pilihan yang tersedia bukan hanya pilihan arogan “either you’re with us or against us”. Ada yang tegas menyatakan homoseksualitas adalah dosa besar; ada yang membelanya dengan argumen yang dipikirkan masak-masak, dengan argumen serius dari kitab suci; ada yang menolak dengan tegas sembari tak kalah tegasnya membela hak orang itu. Dan mungkin ada duabelas variasi pandangan lain.

 

Apakah kekeliruan (baca: dosa, atau perbedaan pandangan) berarti menghilangkan seluruh hak orang itu dan hak orang-orang lain (dan di sini akan ada banyak variasi lagi ketika bicara hak: hak berbicara dan berekspresi, atau hak mendapat penghidupan yang layak, atau bahkan hak hidup?) Bagaimana mungkin sisik-melik ini bisa dibicarakan demi mendapatkan posisi yang tepat, kalau kemungkinan berbicara saja ditutup?

 

Pembicaraan ini bisa panjang, dan harus panjang, karena, apa boleh buat, terlanjur ada beragam pandangan. Tapi bukan itu isunya saat ini.

 

Kekhawatiran kita adalah jika mentalitas preman yang ingin menyelesaikan masalah atau menutup percakapan dengan ancaman atau kekerasan diakomodasi oleh lembaga akademik. Apa jadinya kalau dari waktu ke waktu kita harus terus “berkoordinasi” dengan sumber ancaman atau kekerasan? Apa lagi yang bisa dilakukan jika mentalitas ini masuk ke ruang akademik yang terhormat? Bagaimna dengan cita-cita dan mantra “WCRU” (world class research university)?

 

Sebuah universitas seperti itu tentu bukanlah universitas yang berkat kerapiannya menyimpan kertas-kertas dokumen bisa lolos akreditasi atau mendapatkan sertifikasi. Tapi lembaga terhormat yang memberikan ruang untuk membangun pengetahuan—dan pengetahuan diciptakan oleh kesediaan mencari, mendengar, melakukan kesalahan, mengoreksi, melalui percakapan-percakapan yang beradab. Atau ia dibunuh sebelum lahir oleh ancaman.

 

Terlalu cepat tunduk pada ancaman berarti hidup dalam dan menghidupi atmosfer kekerasan itu. Apakah kita (UGM) sudah hidup dan bernafas dari menghirup udara di atmosfer itu?

 

 

Zainal Abidin Bagir

Program Studi Agama dan Lintas Budaya (Center for Religious and Cross-cultural Studies/CRCS)

Sekolah Pascasarjana, UGM

 

 

Berikut catatan Mustaghfiroh Rahayu yang sedianya akan menjadi moderator acara diskusi dengan Irshad Manji di CRCS:

 

Saya sudah membaca dua buku Irshad Manji "The Trouble with Islam Today" (2003) dan "Allah, Liberty and Love"(2011). Ketika membaca buku yang pertama, saya seperti membaca orang yang sedang marah menulis buku. Dengan latar belakang pengalaman masa kecilnya yang tidak indah tentang Islam, Irshad mengugat the very basic ajaran Islam tanpa basa-basi. Sementara, sebagai seorang perempuan muslim yang punya pengalaman begitu menyenangkan mengikuti kegiatan masjid di masa kecil dan mendapatkan pendidikan formal Islamic studies, saya tidak sepakat dengan sebagian besar basis argumennya. Terlalu simplistik dan salah arah. So, I read "The Trouble with Islam Today" and I am troubled.

 

Buku kedua, "Allah, Liberty and Love", baru saya baca kemarin. Buku ini lebih merupakan refleksi lebih jauh dari apa yang sudah dimulai Irshad untuk mengampanyekan "beriman tanpa takut". Dia merujuk kepada banyak respon yang ditujukan kepadanya baik melalui website maupun media lain. Namun yang menarik bagi saya, dia memulai buku ini dengan satu bab pendahuluan berjudul "From Anger to Aspiration". Di dalamnya dia mengatakan, "let’s not focus on the trouble with Islam, but on what there is to love about Islam—from the perspective of a dissident".

 

Membaca ini, saya melihat transformasi. Dari "anger" menjadi "aspiration". Dari "trouble" berganti "love". You see, this is the fruit of dialog. Masing-masing pihak akan bertransformasi. Tidakkah kalian yang menentang diskusi melihat peluang ini?

 

Sampai ketemu besok pagi sahabat-sahabatku yang percaya dialog akan memperkaya. Bersama saya sebagai moderatornya.

 

(Dikutip dari Facebook Mustaghfiroh Rahayu yang ditulis kemarin, Selasa 8 Mei 2012)


A18C7
  • nita

    Rabu, 9 Mei 2012
    wajibnya banyak pihak yg mengerti, hal ini harus dipikirkan segera.. bagaimana, bukan sekedar keluhan.
  • Shita

    Rabu, 9 Mei 2012
    Tulisan yang sangat bagus, Pak. Menyuarakan yang saya pikirkan dengan lebih sistematis dan kritis. Saya seorang alumnus yang kecewa dengan keputusan Rektor, tapi cukup lega dan optimis dengan masih adanya akademisi dan lembaga berpikiran terbuka seperti CRCS ini.
  • ari

    Rabu, 9 Mei 2012
    kampus mestinya terbuka tuk semua ideologi tuk diulek dan diolah ...
  • rezza

    Rabu, 9 Mei 2012
    Setuju pak. saya rasakan lingkungan UGM itu adalah lingkungan yang paling tepat untuk membicarakan berbagai macam pemikiran, atmosfir dan orang2nya santai, terbuka. Jangan sampai UGM terpengaruh ekses politik praktis seperti ini. Sa ndukung.
  • coiiii...

    Rabu, 9 Mei 2012
    program iki dibubarke wae....
  • agam

    Rabu, 9 Mei 2012
    Negara kita telah memilih Pancasila sebagai dasar negara, mungkin ideologi Lesbian atau Homo dianggap mengancam tegaknya Pancasila sehingga harus diwaspadai seperti halnya PKI, sederhana..
  • husni

    Rabu, 9 Mei 2012
    Masuk akal. Sistematis. Dan, seluruh icivtas akademika UGM khususnya, dan kita semua warga negara Indonesia, sudah saatnya melawan kekerasan sebagai alat penyelesaian masalah.
  • Kurt

    Rabu, 9 Mei 2012
    Masalahnya, yg mencampuradukan lesbian dengan agama dan meligitimasi nafsu dengan ayat(kalo ini bukan soal lesbian doank)ini tujuannya apa sih sampe cari perhatian sana sini? ada agenda tersembunyikah untuk memporak porandakan Islam dgn mengadu domba islam dgn kaum gay/lesbian atau dengan libertarian? besok dengan siapa lagi? JELAS SEDANG TERJADI DE-ISLAMISASI DI DUNIA GLOBAL
  • Manganju Luhut

    Rabu, 9 Mei 2012
    Pendidikan memegang peranan dalam menjaga solidaritas sosial didalam masyarakat. Proses transfer nilai ini bukanlah sebuah hal yang mudah karena disini kita berbicara tentang apa yang lebih baik untuk generasi dan masyarakat kita dimasa datang. Proses ini harus dilakukan dengan mekanisme dialog. Mekanisme ini memungkinkan terjadinya value sharing dari tiap individu yang berbeda-beda. Sehingga klaim kebenaran absolut tidak terjadi. Mekanisme ini juga memungkinkan terjadinya perubahan kearah yang lebih baik, karena selalu terjadi dialektika didalamnya. Ketika berbicara tentang nilai baik dan buruk, dialog dalam pendidikan harus mampu menghormati keberagaman pemahaman tiap individu. Sementara ketika berbicara nilai benar dan salah, dialog harus berlandaskan kaidah-kaidah yang ilmiah berlandaskan academic freedom.
  • rahmi

    Rabu, 9 Mei 2012
    pihak yang tidak mau berdialog adalah kaum liberalis dan feminis itu sendiri kok. http://www.globalmuslim.web.id/2012/05/ternyata-kelompok-liberal-dan-feminis.html
  • al Faqiyr Ila Rabbih

    Rabu, 9 Mei 2012
    Harusnya mengevaluasi diri,kenapa ditolak? tanya hati nurani sendiri. koa kampus sekelas UGM menghadirkan tokoh yang terang2an membawa kerusakan dan perusakan ??? jangan bersembunyi di balik jargon ilmiyah dan kebebasan. setuju tidak boleh ada kekerasan dalam penyelsaian masalah, tapi yang namanya kereusakan dan keburukan harus tetap dicegah. ini pertarungan anatar haq dan bathil.
  • Laki-laki sejati

    Rabu, 9 Mei 2012
    Syukurlah tidak jadi..., Senang mendengarnya.., semoga orang-orang yang menuhankan logikanya masih dapat berfikr bahwa logika yang ia miliki juga ada yang menciptakannya /Tuhan, yang memiliki aturan-aturan sendiri dan bersifat mutlak.
  • Bre Wiromartan

    Rabu, 9 Mei 2012
    - aku malah terkejut dengan "tudingan ngiwung" Marzuki Alie tentang apa yg "diproduksi" pemegang otoritas akademik yg marko-Top Jokja. - tapi jadi skeptis jika se-kaliber UGM harus nyerah dengan mereka yg mengancam n membikin islam jadi fasis dan tak ramah
  • yumant

    Rabu, 9 Mei 2012
    kalau tidak setuju dengan suatu buku mestinya dilawan dengan menulis buku juga.
  • bennu

    Rabu, 9 Mei 2012
    sejak kapan mahasiswa UGM takut berdiskusi? jika memang si Manji dianggap menyimpang, bukankh dengan diskusi akan membuka jalan bagi mereka yang mengutuknya untuk menelanjangi pemikiran2nya, lha ini kok malah diusir, itukan sama saja dengan perilaku barbar, gak akademisi banget.. trs orang2 yang mengatasnamakan Islam itu, justru nampak seperti pengecut, menghadapi seorang Lesbi saja harus ngumpulin massa dan pake ngancam2 segala.. duh, kasian banget negeri ini, kebebasan telah diberangus dn dibutakan oleh doktrin tanpa logika..
  • hasan

    Rabu, 9 Mei 2012
    Semua punya cerita/berita & alasan masing2, kasihan yg namanya 'mahluk' kebebasan,kalo dia ber-bentuk ky mobil,mungkin skarang sdh tidak dikenali lagi wujudnya,saking seringnya di-mnfaat-kan secara keliru? demi kebebasan yg dipertuhankan dikampus, kenapa ga panggil skali pastur yg 'ngoBong' al-Qur'an,kita pingin tau pndapatnya,pnggil juga para germo,koruptor,para mo-li-mo, biarkan mrk2 bebas bcra di kampus yth tsb,kan kita2 jg pingin tau resep2 mrk,mungkin bisa diambil yg baik... heran.. heran.. sumber yg baik bgt melimpah kog kita tega2nya ngambil yg jelas2 sampah, garbage in garbage out ktnya, sorry dah terlalu panjang,syukurlah masih ada or banyak yg ga doyan sampah,tq.
  • mas widodo

    Rabu, 9 Mei 2012
    mohon maaf, setelah peristiwa ini agaknya saya harus memikirkan ulang respek saya kepada kualitas intelektual UGM. sayang, anda sendiri yang membuat blunder!
  • bennu

    Rabu, 9 Mei 2012
    jangan2 mereka yang menolak itu adalah banci, masa lawan seorang lesbi aja gak punya nyali, malah ngajak2 preman lagi masuk kampus.. kalo punya nyali yaa dilawan dunk dengan diskusi juga, jangan kayak barbarian berlabel Islam, miris..
  • Iwan

    Rabu, 9 Mei 2012
    Mengapa harus mendatangkan pembicara sampah yg jelas-jelas sama kelakuannya seperti Salman Rushdie. Pemikiran Irsyad Manji jelas error ketika ia menulis dlm "Beriman Tanpa Rasa Takut": "Sebagai seorang pedagang buta huruf, Muhammad bergantung pada para pencatat untuk mencatat kata-kata yang didengarnya dari Allah. Kadang-kadang Nabi sendiri mengalami penderitaan yang luar biasa untuk menguraikan apa yang ia dengar. Itulah bagaimana â??ayat-ayat setanâ?? â?? ayat-ayat yang memuja berhala â?? dilaporkan pernah diterima oleh Muhammad dan dicatat sebagai ayat otentik untuk al-Quran. Nabi kemudian mencoret ayat-ayat tersebut, menyalahkan tipu daya setan sebagai penyebab kesalahan catat tersebut. Namun, kenyataan bahwa para filosof muslim selama berabad-abad telah mengisahkan cerita ini sungguh telah memperlihatkan keraguan yang sudah lama ada terhadap kesempurnaan al-Quran." (hal 96-97) Itu jelas-jelas penghinaan dan fitnah kepada junjungan kita, Rasulullah SAW.
  • KWP

    Rabu, 9 Mei 2012
    Kok diskusi ini di batalkan ? kira-kira gitulah bunyinya. Ini menciderai tradisi ilmu. Sepertinya ini hanya persoalan ketakutan kok dan juga mungkin berkaitan dengan moralitas. Hanya saja, cukup mengecewakan, sebab seharusnya dunia akademik atau perguruan tinggi bisa memfasilitasi dialog ini. Melihat fakta ini, sekilas saya beranggapan independensinya mulai luntur. Tidak ada tempat yang tepat dan netral untuk berdialog segala hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, kecuali perguruan tinggi. Persoalan menyimpang, memprovokasi, menghina, dll itu adalah tanggun jawab setiap individu dalam mencerap informasi yang di terimanya. Trimakasih
  • Gie

    Rabu, 9 Mei 2012
    zzzz... di tolak kenapa sih?? apa salahnya doskusi berbagi pemikiran... toh negara kita sudah bebas dari orde baru yg mengekang kebebasan berpendapat...
  • Dedek

    Rabu, 9 Mei 2012
    Bila keburukan yang akan ditimbulkan lebih besar, jangan dilakukan. Mencegah adalah lebih bijak. Kalo ilmiyah dan kebebasan yang dikumandangkan, keilmiyahan dan kebebasan yang seperti apa yang diinginkan? Frame-nya harus jelas donk. Kalau bukan kita warga Indonesia yang menjadikan baiknya Indonesia, siapa lagi? Renungkan..
  • Odrie

    Rabu, 9 Mei 2012
    Agam wrote: Negara kita telah memilih Pancasila sebagai dasar negara, mungkin ideologi Lesbian atau Homo dianggap mengancam tegaknya Pancasila sehingga harus diwaspadai seperti halnya PKI, sederhana.. ----> well, homosexuality itu bukan ideologi, mas, itu sexual preference, bukan pula penyakit menular. Mohon belajar lagi, lihat apa yg dibicarakan, bukan orangnya. Kenapa takut dengan gagasan hanya karena seksualitas pembicaranya, kita bukan anak TK kan? Jgn naif lah.
  • Bajo Liar

    Rabu, 9 Mei 2012
    Peace be upon us all. The rejection of Irshad Manji by a supposed community of empowered minds [read:liberated by education and religious enlightenment] and in an environment where academic freedom is priced is sad, very very sad, and disturbing. I only saw the tail-end of actual protest action at the Pasca grounds, and had to catch a clearer glimpse of the 'event' on a latter TV coverage. It is indeed more disturbing for me, who looks up at Indonesian Islam as a promising direction for Muslim intellectual-community and of the future of religion-inspired scholarship here in our Southeast Asian region; being myself coming from a country where Muslims are a minority and as we too are now in the verge of back-tracking to the medieval and cave-age interpretations of the Holy scriptures, teachings and practices of the Prophet Muhammad [pbuh]. More than the perceived dangers of what Irshad Manji's message could have been, I realize, I now fear more the message sent by the threatening protesters and their kind of religiosity manifesting homophobia and intolerance so warned against in the Islam that I know and have been taught in. And here I see and fear real danger not only to myself and but to my peace-loving and tolerant Muslim community who perhaps understood only half of the Arabic incantations they piously sincerely say in their prayers, they who never went to school or haven't read nor written any scholarly papers.
  • Bajau Liar

    Rabu, 9 Mei 2012
    Peace be upon us all. The rejection of Irshad Manji by a supposed community of empowered minds [read:liberated by education and religious enlightenment] and in an environment where academic freedom is priced is sad, very very sad, and disturbing. I only saw the tail-end of actual protest action at the Pasca grounds, and had to catch a clearer glimpse of the 'event' on a latter TV coverage. It is indeed more disturbing for me, who looks up at Indonesian Islam as a promising direction for Muslim intellectual-community and of the future of religion-inspired scholarship here in our Southeast Asian region; being myself coming from a country where Muslims are a minority and as we too are now in the verge of back-tracking to the medieval and cave-age interpretations of the Holy scriptures, teachings and practices of the Prophet Muhammad [pbuh]. More than the perceived dangers of what Irshad Manji's message could have been, I realize, I now fear more the message sent by the threatening protesters and their kind of religiosity manifesting homophobia and intolerance so warned against in the Islam that I know and have been taught in. And here I see and fear real danger not only to myself and but to my peace-loving and tolerant Muslim community who perhaps understood only half of the Arabic incantations they piously sincerely say in their prayers, they who never went to school or haven't read nor written any scholarly papers.
  • Bajau Liar

    Rabu, 9 Mei 2012
    Peace be upon us all. The rejection of Irshad Manji by a supposed community of empowered minds [read:liberated by education and religious enlightenment] and in an environment where academic freedom is priced is sad, very very sad, and disturbing. I only saw the tail-end of actual protest action at the Pasca grounds, and had to catch a clearer glimpse of the 'event' on a latter TV coverage. It is indeed more disturbing for me, who looks up at Indonesian Islam as a promising direction for Muslim intellectual-community and of the future of religion-inspired scholarship here in our Southeast Asian region; being myself coming from a country where Muslims are a minority and as we too are now in the verge of back-tracking to the medieval and cave-age interpretations of the Holy scriptures, teachings and practices of the Prophet Muhammad [pbuh]. More than the perceived dangers of what Irshad Manji's message could have been, I realize, I now fear more the message sent by the threatening protesters and their kind of religiosity manifesting homophobia and intolerance so warned against in the Islam that I know and have been taught in. And here I see and fear real danger not only to myself and but to my peace-loving and tolerant Muslim community who perhaps understood only half of the Arabic incantations they piously & sincerely say in their prayers, they who never went to school or haven't read nor written any scholarly papers.
  • arif

    Rabu, 9 Mei 2012
    Kampus-2 dan lembaga ilmiah tidak sensitif pada keadaan negeri ini. Coba renungkan apa urgensinya mengundang Irshad Manji ke Indonesia di tengah carut-marut korupsi, penegakan keadilan, kemiskinan, dan banyak soal lain yang lebih urgent. Diskusi ini justru menjadikan kampus makin bak menara gading, jauh dari issue-issue aktual dan faktual di masyarakat kita. Lebih "mengenyangkan" fikiran para pemuja kebebasan, tapi membawa mudharat bagi lingkungan. Heran, kok orang seperti IM diundang, yang pemikirannya sama sekali tidak relevan dengan kekinian negeri ini...
  • edi

    Rabu, 9 Mei 2012
    CRCS emang cuma mau cari sensasi. pasti juga bakal tau kalau banyak yang tolak. jurusan ini tidak jelas tujuannya apa. jujur, kalau saja pemikiran irshad manji itu tersampaikan ke publik, mungkin akan ada yang menerimanya. nah ini yang perlu diwaspadai karena pemikiran beliau sendiri bertentangan dengan UUD dan pancasila.jangan sampai karena alasan intelektual KAU ORANG-ORANG CRCS MERUSAK NEGERIMU SENDIRI!!
  • anonim

    Rabu, 9 Mei 2012
    Sexual preference si pembicara aja menyimpang dr ajaran islam, ehh malah mau bahas ttg islam. Belajar berenang sm org yg tidak bisa berenang ya tenggelam.
  • Rahadi

    Kamis, 10 Mei 2012
    CRCS sendiri pasti tahu bahwa masalah agama adalah sensitif dan acara seperti itu akan ditolak banyak pihak, jadi ini tak lebih hanya cari sensasi saja. Orang2 liberalis, kaum homo-lesbian sebenarnya hanya sedikit jumlahnya, dan dengan cara ini mereka berharap mendapat publikasi besar-besaran sehingga meningkatkan pamor kelompoknya. Kaum muslimin pantas khawatir dengan ide-ide kebebasan yang kebablasan seperti ini karena memang bisa meracuni umat terutama generasi muda. Ide-ide liberalisme memang tampak "nikmat" di mata umat yang lemah imannya, padahal dibaliknya tersimpan kesesatan dan bencana yang nyata, persis seperti narkoba. Jadi, membiarkan liberalisme,pergaulan bebas, homo-lebianisme, dlsb. dipublikasikan besar-besaran sama halnya dengan membiarkan narkoba dipamerkan dan dijual bebas di tempat umum. Siapapun yang peduli dengan keutuhan/keselamatan agama anak-anak dan keluarganya pantas untuk menolak keras-keras. Saya juga tidak setuju cara kekerasan seperti preman, tapi masalahnya bagi orang2 yang emosional itu tidak tersedia cara lain untuk menyalurkan emosi atau aspirasinya dengan normal, karena media massa yang ada sekarang berat sebelah dan lebih banyak berpihak kepada kaum liberal. Ini juga menjadi salah satu sumber masalah. Hai para jurnalis, bersikap fairlah! Jangan hanya menjadi corong liberalisme. Apa yang anda tulis di dunia saat ini akan anda pertanggungjawabkan di akhirat.
  • xenophanes parmenide

    Jum'at, 11 Mei 2012
    Fakta sejarah: Islam ideologi yang sangat berbahaya bagi kelangsungan KEHIDUPAN MANUSIA...para muslim sadar dong...!!! Berpikirlah dengan reason (akal sehatmu) dan logika, bukan percaya buta...!!!
  • bee

    Jum'at, 11 Mei 2012
    selamat kepada rektor baru UGM Bpk. Dr. Habib Rizieq Syihap. semoga kampus UGM menjadi kampus Doktrinasi dan intoleran.
  • bennu

    Jum'at, 11 Mei 2012
    ini ada respon menarik dari Adian Husaini.. http://adianhusaini.com/index.php?option=com_content&view=article&id=76%3Airshad-manji-kebebasan-akademik-dan-salam-pantat&catid=38%3Aartikel&Itemid=53
  • Laili

    Sabtu, 12 Mei 2012
    Saya lebih menghormati seorang lesbian ataupun pelacur sekalipun yang dg teguh mempertahankan prinsipnya, ketimbang seorang kyai yang cuma bisa mengatakan kafir pada orang lain. __"Akeh kang apal Qur'an haditse, seneng ngafirke marang liyane. Kafire dewe gak digatekke, yen iseh kotor ati akale"__
  • aminuddin

    Senin, 14 Mei 2012
    Sebagai bentuk kepedulian kita kepada sesama, ada baiknya tokoh ini (Irshad Manji) dibawa ke psikiater dan dipriksa kejiwaannya. Bisa jadi ia adalah korban dari kdrt atau kekerasan seksual sebelumnya, dan saya harap yang lainnya tidak mengeksploitasinya demi sesuatu yang justru akan merugikan orang-orang lain. Bisa saja timbul korban lain yang serupa karena pengaruhnya sebelum penyakit kelainan mentalnya disembuhkan.
  • parewa l

    Jum'at, 18 Mei 2012
    Kita terkadang suka latah dan bangga dg pemikiran-pemikiran barat walau sesungguhnya tidak sesuai dg jati diri bangsa ini. Silahkan Irshad Manji menjual ide2nya di barat sana (eropa, amerika), ngapain ia datang kemari ? apalagi ngaku2 muslimah namun menghalalkan lesbian, apa2an ini ? Kalau kita mau jujur setidaknya dari sudut pemikiran maka Manji bisa saja dikategorikan sebagai â??terorisâ?? karena meneror umat Islam melalui ide2nya dan meneror ajaran Islam

OTHER NEWS