Peringatan Perdana Hari Internasional Hidup Bersama dalam Damai, 16 Mei 2018

Catatan editor: Dua pekan lalu, CRCS mendapat kehormatan untuk mempublikasikan percakapan antara Elisabeth Inandiak, penulis asal Prancis yang telah tinggal di Yogyakarta sejak 1990, dengan Syekh Khaled Bentounes, mursyid tarekat Alawiyyah asal Aljazair. Pekan ini, kami mempublikasikan tulisan Bu Inandiak lagi, sebagai satu bentuk peringatan Hari Internasional Hidup Bersama dalam Damai (the International Day of Living Together in Peace) yang baru dideklarasikan PBB akhir tahun lalu. Sejumlah acara peringatan terhadap Hari ini akan diadakan di Indonesia: di Solo oleh Taman Hutan Lemah Putih; di Magelang oleh Padepokan Seni Tjipta Boedaya serta Padepokan Lemah Putih; di Jambi oleh Yayasan Padmasana Muara Jambi; dan di Bali oleh Dharma Nature Time.

________________

“Pada hari ini, setelah lama berrefleksi, kami menghadap Majelis yang mulia. Saya datang menghadap Anda sebagai pembawa pesan dari satu tarekat sufi guna memohon kemurahan hati Anda sebagai lembaga pembuat keputusan. Dengan kebijaksanaan Anda, kita dapat membangun masyarakat yang Hidup dan Bekerja Bersama sehingga anak-anak kita dapat membangun masa depan bersama-sama satu sama lain, tidak satu lawan lain. Perdamaian bukan hanya berarti tiadanya perang atau konflik. Perdamaian adalah, pertama dan terutama, suatu keadaan yang kita rasakan di dalam diri kita masing-masing akan keinginan untuk berbagi dan menyatu dengan sesama makhluk di luar ras, agama, atau kebangsaan kita. Manusia pada dasarnya adalah suatu kesadaran, yang meningkat atau menurun bergantung pada keterikatannya dengan nilai-nilai etika, keadilan, solidaritas, dan perdamaian.”

Kalimat-kalimat itu diungkapkan Syekh Khaled Bentounes, mursyid tarekat Alawiyyah, dihadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada 6 Desember 2017. Dua hari kemudian, PBB mendeklarasikan tanggal 16 Mei sebagai Hari Internasional Hidup Bersama dalam Damai (the International Day of Living in Peace Together—selanjutnya: IDLTP). Tahun 2018 dengan demikian menandai peringatan perdana IDLTP di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Keputusan itu merupakan hasil yang membahagiakan dari kampanye global selama tiga tahun yang telah diprakarsai oleh Asosiasi Internasional Sufi Alawiyyah (AISA) sejak Kongres Perempuan Internasional untuk Budaya Damai yang diselenggarakan di Oran dan Mostaganem, Aljazair, pada tahun 2014. Kongres itu meluncurkan petisi Kehendak untuk Perdamaian yang ditujukan kepada para pemangku otoritas politik.

Sebagai warga negara Aljazair, Syekh Khaled Bentounes telah berhasil meyakinkan pemerintah Aljazair untuk memohonkan resolusi ini ke PBB. Aljazair dengan demikian berada di garis depan dalam promosi IDLTP. Ini adalah suatu capaian politik yang luar biasa dan pada saat yang sama satu tindakan kemurahan hati dari Syekh Bentounes terhadap negaranya yang pada masa lalu telah mempersekusi keluarganya serta para sufi Aljazair.

Pada 1968, rezim Boumedienne mengorkestrasi kampanye pers yang ganas menuduh tarekat Alawiyyah sebagai suatu “negara dalam negara”. Syekh al-Mehdi, ayah Syekh Bentounes, dicurigai sebagai agen CIA, antara lain karena banyaknya pemuda Barat yang hendak mencari spiritualitas ke India justru berhenti di zawiyyah-nya. Syekh al-Mahdi dihukum penjara selama sembilan bulan tanpa persidangan pada 1970. Kebrutalan yang dialaminya di penjara menyebabkan kematiannya lima tahun kemudian.

Pada periode inilah pemerintah sosialis Aljazair (Front Pembebasan Nasional atau Front de Liberation Nationale/FLN) menasionalisasi semua tanah zawiyyah dan dengan demikian telah menghancurkan jejaring lembaga pendidikan dan ekonomi yang telah dirajut para sufi selama berabad-abad di seantero Aljazair. Front Keselamatan Islam (Front Islamique du Salut/FIS) segera mengisi kekosongan sosial-spiritual ini, yang memuncak dalam perang saudara mengerikan yang berlangsung selama sepuluh tahun (1991-2001) dan memakan lebih dari 200.000 korban jiwa.

Setelah mengakhiri kekejian perang saudara itu dengan Piagam untuk Perdamaian dan Rekonsiliasi Nasional, Aljazair sangat memercayai gagasan “Hidup Bersama” itu dan berkomitmen untuk mempromosikannya ke negara-negara anggota PBB lainnya untuk menetapkannya, melalui sebuah resolusi Majelis Umum PBB, dalam bentuk “Hari Internasional Hidup Bersama dalam Damai”.

Gagasan

Gagasan mengenai IDLTP lahir dari diagnosis Syekh Bentounes terhadap penyakit dunia kontemporer, yakni adanya budaya egoisme (“dari setiap orang untuk dirinya sendiri”), yang telah mencapai tingkat paling akut dalam sejarah; mengarah pada antagonisme antarindividu dan antarmasyarakat serta konflik politik, sosial dan lingkungan; dan meningkatkan rasa takut terhadap yang lain, yang tidak diketahui, yang berbeda; rasa takut terhadap kemiskinan dan perubahan.

Rasa takut membakar egosentrisme (sikap hanya mementingkan diri sendiri). Egosentrisme meningkatkan rasa ketidakamanan (insekuriti). Rasa ketidakamanan meningkatkan intoleransi.

Sebagian orang mengampanyekan respons terhadap ketakutan dengan ketakutan. Orang-orang ini mengklaim ruang mereka melalui kekerasan. Mereka mengeksklusi orang lain untuk memonopoli ruang bagi diri mereka sendiri seraya mempromosikan homogenitas dan membatasi dunia hanya pada apa yang mereka ketahui.

Sebuah kendaraan baru dengan demikian diperlukan untuk menawarkan pesan harapan kepada umat manusia, demi mengekspresikan keinginan keras untuk belajar hidup bersama, untuk memastikan masa depan yang lebih baik bagi semua orang di mana pun.

Aksi-aksi

Aksi-aksi untuk IDLTP berpusat pada delapan tema.

  1. Melalui aksi warga dan refleksi bersama, IDLTP berupaya menyinergikan hati nurani guna memajukan kebajikan dan kualitas setiap orang.
  2. IDLTP berusaha membangun jembatan. Melalui jaringan sosial, IDLTP mempromosikan gagasan-gagasan untuk mentransmisikan keterampilan dan menawarkan pesan harapan kepada para pemuda.
  3. IDLTP mengorganisasi suatu platform untuk ekologi, dengan keyakinan bahwa pembangunan berkelanjutan perlu dalam tiap upaya promosi perdamaian, dan karena ini IDLTP mendorong semua aktor ekonomi untuk berdialog. IDLTP menyoroti keterkaitan dan interdependensi/kesaling-tergantungan antara manusia dan alam. IDLTP mendukung upaya-upaya untuk menginformasikan, mendidik, dan mempromosikan praktik-praktik inovatif.
  4. IDLTP mengajak untuk mengambil warisan-warisan kebijaksanaan guna menghubungkan manusia kembali dalam perdamaian dan spiritualitas. Dengan mengajak untuk membaca teks-teks suci kembali, IDLTP menyoroti karakter universal teks-teks suci itu dan dengan demikian mempromosikan rekonsiliasi antarbudaya sembari memelihara spiritualitas yang memberi makna bagi kehidupan.
  5. IDLTP menawarkan panggung untuk musik dan seni. IDLTP mengajak para musisi dan seniman untuk merayakan peringatan ini melalui kekayaan dan keindahan dari perbedaan-perbedaan kita.
  6. IDLTP berkomitmen untuk mempromosikan kesetaraan gender dan harmoni, seraya mengingatkan bahwa dalam cara pandang feminin, yang merupakan rujukan penting bagi perdamaian, rekonsiliasi antara lelaki dan perempuan dan komplementaritas (saling-melengkapi) antarkeduanya dapat tercapai.
  7. IDLTP mempromosikan arsitektur yang berkemanusiaan berdasarkan pada gagasan untuk kehidupan bersama yang lebih baik. IDLTP mempromosikan pembangunan rumah, desa, dan kota yang berdasarkan pada konsep yang inovatif dan ekologis sembari menjaga warisan arsitektur masing-masing budaya.
  8. IDLTP mengusulkan pembentukan Akademi Perdamaian. Perannya adalah untuk menginisiasi dan mengajarkan ilmu pendidikan yang bertujuan mengembangkan Budaya Damai di semua segmen masyarakat. IDLTP ingin menyatukan tiap inisiatif di bidang ini. Setiap tahun, IDLTP akan memberikan penghargaan untuk aksi-aksi di bidang pendidikan yang bergerak mempromosikan Hidup Bersama dalam Budaya Damai.

Karya mosaik di Mostaganem

Tiga belas negara telah berkomitmen untuk melakukan perayaan perdana IDLTP pada 16 Mei 2018 ini: Aljazair, Swiss, Jerman, Prancis, Maroko, Kamerun, Belanda, Belgia, Kongo, Spanyol, Benin, Kanada, dan Indonesia.

“Kita selalu membutuhkan mereka yang lebih kecil dari diri sendiri. Tidak ada yang bisa mengklaim telah memiliki semua hal seluruhnya. Setiap orang memiliki bagian. Marilah bersinergi; mari kita menempatkan pengetahuan kita, aset kita, dan kehendak kita dalam melayani usaha-usaha perdamaian bagi semua. Mari meningkatkan investasi dalam menciptakan budaya perdamaian dan memadamkan api kebencian, dengan dorongan cinta yang altruistik/tidak egois. Berbicara tentang umat manusia ini, di mana Anda dan tiap orang adalah bagian darinya, saya dengan rendah hati meminta Anda untuk menjadikan “Hari Internasional untuk Hidup Bersama dalam Perdamaian” ini sebagai pengingat akan pentingnya dan mendesaknya rekonsiliasi umat manusia,” demikian ungkap Syekh Khaled Bentounes di hadapan Majelis Umum PBB, 6 Desember 2017.

____________

Baca resolusi PBB tentang IDLTP di sini.

Telusuri situs web resmi peringatan IDLTP 16 Mei di sini.

Artikel ini adalah terjemahan oleh staf CRCS Azis Anwar dari tulisan aslinya dalam bahasa Inggris: Marking the First International Day of Living Together in Peace, May 16, 2018.

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

0 Komentar

Tinggalkan komentar