Program Studi Agama dan Lintas Budaya atau Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) di Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada (UGM), didirikan pada tahun 2000 sebagai satu-satunya program akademik interdisipliner yang fokus pada studi agama di sebuah universitas yang tidak berafiliasi dengan agama tertentu di Indonesia. Mahasiswa dan anggota fakultas di CRCS berasal dari latar belakang agama dan disiplin yang beragam, menciptakan lingkungan pertukaran yang hidup dan kritis pada studi agama dalam konteks kultural. Lebih dari 250 alumni yang sekarang bekerja di lembaga-lembaga pendidikan Islam, Kristen, Hindu, Budha serta lembaga pendidikan non-agama dan juga di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Indonesia dan luar negeri.

Karya akademik dari CRCS fokus pada tiga bidang kajian utama: (a) hubungan antar-agama; (b) agama, budaya dan alam; dan (c) agama dan kehidupan publik. Bidang-bidang ini direfleksikan dalam mata kuliah yang ditawarkan sebagaimana dengan arah penelitian-penelitiannya. Selain menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar sejak didirikan, CRCS melakukan penelitian dan publikasi pada sejumlah topik, seperti agama dan politik, kebebasan beragama, pengelolaan keragaman agama, dialog antaragama, agama dan sains, agama dan ekologi, agama-agama leluhur, dll

CRCS juga merupakan pusat pendidikan publik, yang bekerja untuk menyebarkan hasil penelitiannya kepada masyarakat dan mengembangkan berbagai jenis program seperti mengajar keragaman untuk siswa SMA dan mengundang aktivis LSM, wartawan, dan akademisi untuk mengikuti program “Sekolah Pengelolaan Keragaman” (SPK) selama dua minggu.

Mengapa “agama dan lintas budaya”? Agama dipahami sebagai fenomena yang hidup dan dinamis serta secara luas mencakup apa yang disebut “Agama-agama Dunia” dan “Agama-agama Adat/Leluhur”. Kajian lintas budaya tidak berarti hanya mencakup pemahaman komparatif atas budaya, tetapi juga sebuah metodologi yang mengakui bahwa masyarakat memiliki perspektif dan kategori mereka sendiri yang mungkin berbeda dari peneliti, dan cara terbaik untuk memahami ini adalah melalui dialog. Pemahaman ini sangat penting karena makna “agama” masih dipersaingkan dan dapat menjadi sangat politis sebagaimana terjadi di Indonesia dan banyak tempat lainnya. Pemahaman mengenai perbedaan agama dan budaya membentuk dan dibentuk oleh proses historis dan sosiologis. Pendekatan seperti ini tidak hanya secara akademis dapat dibenarkan, tetapi juga penting bagi masa depan masyarakat multikultural di Indonesia.

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English