Ketika Alam Bicara: Percakapan dengan Mursyid Tarekat Alawiyyah

Catatan editor: Gagasan-gagasan yang sadar-ekologi dalam hubungan antara agama dan alam sudah menjadi salah satu isu utama di CRCS. Dalam upaya untuk berbagi pengetahuan dan advokasi dalam isu ini, situs web CRCS telah menerbitkan artikel-artikel bertema agama dan ekologi, dengan topik-topik seperti hutan hujan dan masyarakat adat, gerakan-gerakan environtmentalis di Indonesia, dan ekowisata dan ekologi adat. Tulisan ini adalah bagian dari seri ini dan bertujuan untuk lebih jauh memupuk kesadaran ekologis; dengan yang satu ini secara khusus membahas pandangan dunia Islam. Kami berterima kasih kepada penulis asal Prancis yang berbasis di Yogyakarta, Elisabeth Inandiak, atas kontribusinya ini.
_______________

“Perbudakan adalah sistem yang menerapkan prinsip-prinsip hukum properti terhadap manusia, yang pada gilirannya memungkinkan individu untuk memiliki, membeli, dan menjual individu lain yang secara de jure dianggap sebagai properti.” Jika kita mengganti kata “manusia” dengan “alam” dalam definisi “perbudakan” ini, kita harus mengakui bahwa masyarakat modern adalah pelaku perbudakan massal. Kita telah menjadikan sumber daya alam, terutama air, dalam kepemilikan eksklusif, dan dengan demikian memberi diri kita “hak legal” untuk mengeksploitasinya tanpa batas. Para konglomerat kini bahkan telah mematenkan benih, yang merupakan sumber kehidupan. Namun demikian, sains modern belakangan menemukan bahwa air memiliki memori dan bahwa tetumbuhan dapat berkomunikasi satu sama lain. Para saintis sebenarnya menemukan kembali apa yang telah dikatakan teks-teks suci. Kita, dengan demikian, harus belajar “membaca kembali” teks-teks itu.

Untuk mendapatkan wawasan dalam upaya “pembacaan ulang” ini, saya di sini menuliskan percakapan saya dengan Syekh Khaled Bentounes, mursyid tarekat Alawiyyah, yang didirikan pada 1909 di Mostaganem, Aljazair, oleh kakek buyutnya, Syekh Ahmed al-‘Alawi (1869-1934) yang dianggap sebagai seorang wali sekaligus pembaharu pemikiran-pemikiran Muslim modern. Beberapa tahun yang lalu, ketika saya bertanya kepada Syekh Bentounes tentang frasa terkenal Baruch Spinoza, Deus sive Natura (“Tuhan atau Alam”), dia menganjurkan saya untuk terlebih dahulu membaca risalah-risalah karya kakek buyutnya, termasuk Al-Abhats al-‘Alawiyyah fi al-Falsafah al-Islamiyyah (1918).

Kami melakukan percakapan ini pada November 2014 di Aljazair, setelah Kongres Perempuan Internasional untuk Budaya Damai, di tempat tinggalnya di kota pelabuhan kecil Mostaganem, tempat berdirinya Djanatu al-Arif (Taman Pengetahuan), yayasan yang terkenal bergerak dalam bidang pembangunan berkelanjutan. Kami melanjutkan percakapan kami dalam suasana kabut musim dingin di Lyon, Prancis, ketika Syekh Bentounes berpartisipasi untuk tahun keempat berturut-turut dalam pertemuan antarimam dan uskup di Prancis, dan kemudian berlanjut lagi melalui Skype antara Yogyakarta dan Jenewa, tempat Asosiasi Internasional Sufi Alawiyyah (AISA ) telah menjadi mitra resmi Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (Ecosoc).

***

Di Bab 14 risalah Al-Abhats al-‘Alawiyyah yang berjudul “Alasan Mengapa Beberapa Filsuf Modern Menolak Gagasan tentang Tuhan”, Syekh al-‘Alawi menulis:

Filsuf mendapatkan kepastian bahwa segala sesuatu itu terkait; bahwa efek tergantung pada sebab dan bahwa Alam itu sendiri bertindak atas unsur-unsurnya. Namun, dia tidak bisa tidak merasakan bahwa, di balik semua yang dia ketahui, ada sesuatu dengan kekuatan besar. Hanya saja, meski intuisinya merasakan adanya Sesuatu-Yang-Lain ini, sang filsuf tetap saja menyatakan bahwa “itu” hanyalah Alam itu sendiri.

Jadi, menurut Syekh al-Alawi, Tuhan bukan alam?

Ya, Tuhan bukanlah alam. Alam adalah emanasi Tuhan, cermin tempat Dia mencerminkan diri-Nya. Ketika kita berbicara tentang alam, kita membatasi diri pada apa yang terlihat, yang material. Tetapi di dalam ciptaan Tuhan itu, ada sesuatu yang lain, yang antimateri, yang tidak terlihat. Surah An-Nur dalam al-Quran mendeskripsikan Allah sebagai “cahaya langit dan bumi” (nur as-samawati wal-ardh). Dia adalah Cahaya. Kosmos atau alam semesta terukir dalam cahaya ilahi ini, yang memberikan “ada dan menjadi” terhadap alam semesta, dan pada saat yang sama menghancurkan dan memperbaharui dirinya sendiri.

Apakah makhluk dan alam adalah satu hal yang sama?

Makhluk dan alam merupakan perpanjangan satu sama lain. Keduanya seperti tubuh dan jiwa. Tubuh adalah apa yang terlihat; jiwa tidak terlihat tetapi dapat dipahami. Apakah alam memiliki suatu “kecerdasan” (intelligence)? Ya, dalam tradisi al-Quran, alam memiliki suatu bentuk kecerdasan. Ia berbicara dan bertindak. Matahari, bintang-bintang, binatang-binatang, atom-atom—semuanya digerakkan oleh suatu bentuk kecerdasan, dan kecerdasan ini bersifat ilahi.

Jadi sebenarnya tidak ada yang namanya benda mati?

Tidak ada. Segala sesuatu menerima suatu bentuk kehidupan dari cahaya ilahi. Dalam bab ketiga Al-Abhats al-‘Alawiyyah karya Syekh al-‘Alawi, ada jawaban untuk pertanyaan Anda. Syekh al-‘Alawi mengutip Al-Quran: “Allah telah menumbuhkanmu dari bumi, sebagaimana tetumbuhan, dan kemudian Dia akan mengembalikanmu ke dalamnya dan mengeluarkanmu dari dalamnya” (QS 71:17-18). Syekh al-‘Alawi kemudian menjelaskan: “Karena itu kita dapat mengatakan bahwa hewan adalah tumbuhan yang telah berpisah dari bumi dan makan dari atas, dan bahwa tumbuhan adalah hewan yang ditautkan dengan bumi dan makan dari bawah.”

Ketika orang-orang di Indonesia, misalnya, membuat sesaji ke laut atau gunung, beberapa kelompok agama menganggapnya sebagai praktik paganisme. Apakah ini suatu masalah?

Ada kesalahpahaman dalam memahami makna penyembahan atau pemujaan. Dalam Islam—sebenarnya kita juga bisa mengatakan ini dalam agama-agama monoteis secara umum—kita memandang Tuhan sebagai suatu kesatuan fundamental: ibadah ditujukan hanya kepada Tuhan. Dalam tradisi al-Quran, manusia, dalam watak alamiahnya, dinyatakan sebagai pemelihara, bukan pemangsa. Kita tidak hanya bergantung pada sumber mineral, nabati, dan hewani, tetapi alam dan kandungannya juga merupakan asal usul kita. Alam dan kandungannya terukir dalam diri kita. Kita tidak menyembah alam sebagai suatu entitas, tetapi kita harus berhubungan dengan alam sebagai pemelihara. Inilah mengapa kita berbicara tentang tradisi al-Quran sebagai “tradisi alam”.

Tetapi praktik sesaji ke laut atau gunung ini sering bukan merupakan suatu tindakan pemujaan melainkan ungkapan syukur, suatu praktik simbolis untuk mengembalikan kepada alam sebagian kecil dari apa yang telah diberikannya kepada manusia. Melalui ritual-ritual ini, manusia tetap sadar bahwa mereka harus menghormati alam, tidak merendahkannya atau mengeksploitasinya secara berlebihan.

Itulah sebabnya, dalam tradisi spiritual, setiap makhluk dihormati. Seekor burung, seekor semut… Di dalam al-Quran, ada Surah An-Naml (Semut) yang memberikan alegori tentang seekor semut yang berbicara dengan Sulaiman. Melihat Sulaiman lewat bersama tentaranya, satu semut menyeru semut-semut lainnya: “Masuklah ke dalam sarang-sarangmu segera agar kalian tak diinjak Sulaiman dan para prajuritnya sedang mereka tidak menyadari kalian” (QS 27:18). Sulaiman, yang merupakan seorang raja dan nabi, mendengar serangga kecil ini. Kesadarannya akan Hidup sangat terbenam dalam dirinya sehingga dia memiliki akses ke bahasa universal makhluk. Sulaiman kemudian menghentikan pasukannya untuk memberi waktu bagi semut-semut untuk kembali ke sarang. Keagungan Sulaiman dalam al-Quran digambarkan salah satunya dengan bentuk rasa hormatnya terhadap kehidupan, bahkan kehidupan seekor semut. Dalam hal ini, kami menafsirkan bahwa al-Quran menyerukan penghormatan untuk semua bentuk kehidupan. Salah satu nama Allah ialah Al-Hayy, Yang Hidup. Dengan menghormati Yang Hidup, kita menghormati Tuhan. Namun ibadah tetaplah khusus untuk-Nya.

Dalam surah yang sama, Sulaiman menyatakan bahwa manusia telah diajari bahasa burung dan semua kebijaksanaan yang pernah ada. Bisakah burung mentransmisikan kebijaksanaan kepada manusia?

Dalam risalah tentang kebijaksanaan, Syaikh al-‘Alawi secara tak langsung menjawab pertanyaan Anda: “Siapa yang benar, bunga yang membayangkan Tuhan sebagai parfum atau Aristoteles yang membayangkan Tuhan berpikir secara kekal? Aristoteles dan bunga melakukan hal yang sama: satu meramalkan pikirannya, yang lain aroma tubuhnya. Keduanya benar (…) karena setiap makhluk hanya melihat Dia dari sudut yang kecil. “

Surah 99:1,4 menyatakan: “Ketika bumi diguncangkan dengan gempa (akhir) yang dahsyat… pada Hari itu, ia akan menyampaikan beritanya.”

Bumi berbicara. Dalam surah-surah lain, matahari, bulan, dan awan antarbintang juga berbicara. Ketika Tuhan berseru “jadilah”, jadilah makhluk. Ada hubungan antara Tuhan dan ciptaan-Nya. Dari-Nya makhluk mendapatkan inisiatif, kehidupan, dan bentuknya.

Dalam tradisi Islam, apakah ada keterangan tentang kesakralan benih, yang dapat membantu dalam menentang praktik pematenan benih oleh perusahaan agroindustri?

Tidak ada jawaban langsung, tetapi jika Anda memikirkannya, benih adalah bagian dari warisan manusia. Benih adalah karunia ilahi. Kita hanya mewariskannya dari generasi ke generasi. Dalam tradisi profetik/kenabian, jika saya menanam pohon atau menabur benih, lalu benih ini tumbuh dan berbuah, dan makhluk lain memakannya, saya menerima ganjaran spiritual yang akan membawa saya lebih dekat kepada Tuhan. Tidak boleh ada pemonopolian atas sesuatu yang telah diberikan kepada kita oleh alam. Kita hanya bisa menikmatinya dan meneruskannya ke generasi selanjutnya. Benih adalah milik umat manusia; tidak boleh ada elit yang memanfaatkannya untuk dirinya sendiri. Setiap benih mengandung kebajikan suci: barakah. Ia yang tidak respek terhadap kesakralan benih ini, juga terhadap apa yang lahir darinya, akan menghadapi siksaan pedih. Di setiap butir gandum tertulis “Tiada tuhan selain Tuhan”. Kebijaksanaan sederhana ini haruslah membawa pada kesadaran akan makna sakral yang dikandung oleh setiap yang hidup, termasuk butir gandum.

***

Di antara teks yang dinasihatkan Syekh Bentounes untuk saya baca adalah satu alegori yang diambil dari suatu ensiklopedia ilmu pengetahuan yang dikompilasikan di Baghdad pada abad ke-10, Rasa’il Ikhwan as-Shafa. Risalah 22 mengisahkan cerita berikut: Di sebuah pulau dekat khatulistiwa, di Laut Hijau, raja bangsa jin memerintah. Hewan-hewan hidup di sana dengan damai. Dari kapal yang terbawa badai, manusia mendarat di pulau itu. Manusia menyukai pulau itu, lalu menetap di sana, menjinakkan hewan-hewan dan mengonsumsinya. Hewan-hewan yang berhasil melarikan diri dari keserakahan manusia lalu bermusyawarah dan memutuskan untuk mengeluhkan hal ini kepada raja. Raja kemudian memanggil para penyusup (manusia) itu ke istana. Argumen manusia ialah bahwa Tuhan menciptakan binatang untuk dinikmati manusia. Hewan-hewan menimpali dengan menyebut lebah sebagai model organisasi sosial. Hewan-hewan menyatakan manusia berbahaya karena mereka tidak mengikuti aturan moral dan agama yang mereka banggakan. Hewan-hewan berargumen, jika binatang menjadi buas, manusia bisa lebih buas. Manusia telah diperbudak kejahatan sedemikian rupa sehingga hewan-hewan menjadi tuan mereka… Namun di hadapan raja jin, manusia menegaskan supremasinya: “Siapa mematuhi kami, berarti mematuhi Tuhan.”

Persidangan alegoris terhadap manusia oleh hewan-hewan ini terdengar seperti persidangan ekses-ekses praktik-praktik keagamaan yang telah menyimpangkan pesan ilahi demi keuntungan manusia.

Benar. Filsafat Ikhwan as-Shafa mengandung pesan spiritual yang pelan-pelan telah disembunyikan oleh praktik-praktik keagamaan yang hanya mementingkan aspek eksternal: ritualisme, dogmatisme, dan ideologi.

Tetapi ekses-ekses ini bukanlah hal baru. Teks Ikhwan as-Shafa ini berasal dari tahun 969. Jelas itu praktik yang sudah lama.

Ya, dan kita sekarang membayar mahal akibatnya. Ambil contoh: air. Setelah “benturan peradaban”, yang tak lain merupakan “benturan kebodohan” (clash of ignorance), kita harus bersiap-siap untuk menghadapi benturan baru: perang air. Terinspirasi oleh kebijaksanaan leluhur kita yang telah menjadikan air sebagai elemen sakral, kita harus kembali memupuk kesadaran tentang itu, untuk membangun hubungan baru dengan air. Air kini telah menjadi komoditas. Air adalah ibu dari semua umat manusia. Apropiasi air oleh satu kelompok merugikan oraang lain, dan ini harus membuat kita merenungkan secara mendalam apa akibatnya di masa depan. Masalah air pada awal abad ke-21; masalah terkait manajemen dan distribusinya akan menguji seberapa besar tingkat solidaritas internasional kita. Air adalah tantangan baru bagi sterilitas planet kita, demikian juga bagi pikiran dan jiwa para penghuninya.

Bagaimana Risalah 22 dari Ikhwan as-Shafa ini dipersepsikan di dunia Muslim?

Sama sekali terlupakan. Risalah itu ada dalam bahasa Arab dan Persia, dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis, tetapi hanya oleh para akademisi. Sekarang risalah itu benar-benar terlupakan. Semakin kita bergerak ke depan, semakin banyak korupsi. Bagi umat Hindu, kita sekarang berada dalam siklus Zaman Besi/Kali Yuga. Dari siklus ke siklus, semakin jauh dari sumber awal, semakin banyak kebenaran disembunyikan. Tetapi gerhana kebenaran ini cepat atau lambat akan berakhir. Akan ada pembaruan karena manusia akan mencapai keadaan korup yang sedemikian akut sehingga mereka mau tak mau harus kembali pada upaya pencarian makna. Kita harus menghubungkan kembali hal ini dengan visi tentang Tuhan, yang telah kita asingkan, seolah-olah Dia ada di suatu tempat di luar sana. Karenanya kita tak boleh lupa bahwa pada akhirnya, kesatuan Tuhan berarti juga kesatuan umat manusia. Multiplisitas atau keragaman manusia adalah manifestasi dari kesatuan yang fundamental ini. Semua makhluk berasal dari Sesuatu yang sama: matahari, bumi, bahkan butiran debu terkecil, daun yang jatuh—semua ini adalah bagian dari Kehidupan yang mengubah dirinya sendiri, yang dilahirkan kembali dari dirinya sendiri, yang bersembunyi dan kemudian menemukan kembali dirinya sendiri.[]

______________

Percakapan ini aslinya ditulis dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Azis Anwar. Baca versi aslinya dalam bahasa Inggris: When nature speaks: A conversation with the Sufi Master of Alawiyya

Kredit gambar: Elisabeth Inandiak.

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa : English

0 Komentar

Tinggalkan komentar